Showing posts with label Arkeologi. Show all posts
Showing posts with label Arkeologi. Show all posts

Saturday, August 27, 2016

Di Mana Tanah Air Saya dan Apa itu Nasionalisme?




Baru-baru ini Arsip Nasional RI (ANRI) menggelar pameran di Sarinah, Jakarta Pusat. Yang dipamerkan rata-rata arsip sebelum, ketika, dan setelah kemerdekaan RI. Tujuannya, kata Mustari Irawan yang adalah Kepala Anri itu, untuk memberikan pencerahan nasionalisme kepada masyarakat luas.

Biasa lah, menjelang 17 Agustus si Nasionalisme itu jadi obrolan khalayak. Terus terusan disebut sampai pada puncaknya pas pidato presiden di TV. Setelah itu, masih disebut, mungkin dalam diskusi di café-café yang mengundang wartawan. Setelah itu, seiring dengan semakin habisnya bulan Agustus, orang mulai sembuh dari penyakit kerasukan Nasionalisme.

Tapi sebenarnya siapa itu Nasionalisme? Kalau masih SD dan diajarkan PPKN pasti bisa jawab tanpa ragu. Nasionalisme itu rasa kebangsaan sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka, katanya. Paling tidak secara dogmatis, seseorang memiliki nasionalisme jika berupaya melindungi budaya dari masuknya budaya asing. Kalau secara politis mungkin melawan penindasan hak manusia dari kolonialisme.

Upayanya diawali dengan membentuk identitas nasional. Nama Indonesia salah satunya. Penghuni pulau Jawa, Kalimantan, dan sebagainya itu disatukan dan dilabeli Orang Indonesia. Lalu diberi pelajaran PPKN untuk yakin dengan identitas “saya orang Indonesia”.  Sudah besar harus punya KTP dan bikin passpor kalau mau ke luar negeri karena akan melewati batas negara.

Tapi pernah kah ada yang mejelaskan kenapa orang Batak, orang Baduy, orang Dayak, Orang Sunda, Orang Jawa, orang Bugis, orang Asmat sekarang harus juga mengakui keindonesiaan mereka? Toh sebelumnya mereka punya sistem pemerintahan sendiri, punya wilayah sendiri.

“Kita sekarang memang berbeda, tapi dulu kita satu”. Begitu kata Ery Soedewo, peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Medan. Sebelumnya, ia meneliti awal mula berpisahnya bahasa Gayo dan Karo menjadi dua bahasa yang berbeda dari sudut pandang arkeolinguistik. Bahasa memang menandakan keragaman sekaligus mewakili identitas suku bangsa tertentu.

Dalam sebuah studi arkeologis yang belum ada habisnya itu, sebagian besar kepulauan Indonesia dulunya berbahasa sama, bahasa Austronesia. Tapi dulu juga bukan hanya di kepulauan Indonesia, bahasa ini dipakai orang-orang yang meninggali Madagaskar di ujung barat hingga Kepulauan Paskah di ujung timur Pasifik, dari Taiwan-Mikronesia di batas utara hingga Selandia Baru di batas selatan. Orang-orang penutur Austronesia ini pun tak begitu saja ada di kepulauan Nusantara. Mereka datang dari Taiwan.
Akhirnya diputuskan oleh para ahli, bahwa para pendatang yang bicara dengan bahasa Austronesia itu adalah nenek moyang penduduk Indonesia sekarang. Sampai sekarang juga ada 60 persen penutur Austronesia menghuni Indonesia. Tapi, mereka bukanlah satu-satunya pendatang di Nusantara. Jangan lupakan kedatangan bangsa Arab, India, maupun Eropa.
Bahkan kata Harry Truman Simanjuntak, seorang arkeolog senior yang bermarkas di Puslit Arkenas, sebelumnya paling tidak ada tiga kelompok yang pernah melakukan migrasi besar ke Nusantara. Mereka adalah Australomelanesid, penutur Austro-asiatik, dan penutur Austronesia itu tadi.
Penutur Austro-asiatik datang sekira 4.300 tahun lalu. Selanjutnya adalah penutur Austronesia yang datang pada 4.000 tahun lalu. Sebelum keduanya tiba, di Indonesia sudah tinggal kelompok lainnya, Australomelanesid. Mereka menghuni kira-kira 13.000-5.000 tahun lalu dan hingga sekarang hidup di wilayah Indonesia timur, termasuk di Papua.
Lalu apa? Ya kayanya tidak mungkin melabeli kelompok tertentu sebagai manusia asli Indonesia. Herawati Sudoyo, peneliti biologi molekuler dari Eijkman Intitute, pernah menjelaskan ini dari sudut pandang genetik. Rupanya, hampir semua etnis di Indonesia memiliki gen yang saling bercampur. Di antaranya Alatic, Sino-tibetan, Austro-asiatik, Austronesia, Papua, Dravida, Indo-Eropa, dan Niger-Kongo.
“Nenek moyang penutur Austro-asiatik di Asia Tenggara yang te rungkap dari data genomik menunjukkan adanya migrasi Austronesia ke jalur barat yang bercampur dengan penutur Austro-asiatik dan kemudian menetap di Indonesia barat,” ujarnya.
Misalnya, gen manusia Jawa asli ternyata membawa genetika Austro-asiatik dan Austronesia. Begitu pula manusia etnis Dayak dan manusia di Pulau Sumatra, yang tampak pada etnis Batak Toba dan Batak Karo.
Sementara penduduk asli Pulau Alor, misalnya, membawa genetika Papua. Manusia asli Lembata dan Suku Lamaholot, Flores Timur membawa genetika Papua dengan presentase paling tinggi dan sedikit genetika bangsa penutur Austronesia.
Jadi apa yang menyatukan Indonesia sekarang sehingga orang Dayak, orang Jawa, Orang Batak, dan sebagainya itu bisa bangga menyebut diri: “Kami orang Indonesia”? Dan lantas ketika menyadari bahwa kita semua itu awalnya hanyalah bangsa pendatang maka siapa yang bisa menjelaskan konsep nasionalisme dan tanah air?
Yang jelas Indonesia bukan milik siapapun. Konsep dijajah dan menjajah itu juga lebih mirip sikap adaptasi berjuang untuk mempertahankan diri di tengah perubahan yang datang. Artinya kita yang hidup sampai sekarang, mau itu ras apapun, sama-sama termasuk kelompok yang bertahan menghuni Indonesia. Rasanya saya bakal setuju sama omongan kalau pribumi itu sikap, bukan darah.
Ya jadinya kalau saya sekarang dicekokin dengan bahasan nasionalisme saya akan mati gaya. Konsep nasionalisme rasanya tidak sesimpel waktu SD dulu.

Kalau saya sih jika ditanya, saya akan tegas dan lugas bilang: Saya orang Jawa, lahir di Yogyakarta, besar di Bekasi, jadi maafkan bahasa Jawa saya yang campur aduk dengan gue-elo, meski bapak ibu saya asli orang Jogja.

Ya mudah-mudahan dimaafkan. Toh pada dasarnya percampuran budaya juga tidak bisa dihindari. Kalau ada temanmu yang lebih suka film-film Korea atau nyanyi-nyanyi lagu Suju dengan bahasa yang nggak kamu mengerti, jangan khawatir. Dia bukannya tidak cinta ibu bapaknya yang bukan orang Korea. Mencampurkan nasionalisme, keindonesiaan, dan selera musik, fashion, atau film itu terlalu absurd. Toh Indonesia itu memang bhineka dari dulunya. Sekarang hanya bertambah bhineka saja karena memang jamannya sudah semakin terbuka. Dulu budaya luar dibawa ke mana-mana cuma bisa pakai perahu cadik atau jalan kaki. Sekarang kan sudah ada pesawat, mobil, internet, satelit, bla bla bla… Kecuali kamu mengasingkan diri di hutan terlarangnya Suku Baduy, atau di pelosok terdalam hutan Papua yang mungkin belum terjamah sampai sekarang. Tapi mungkin karena dulu saya lahir di Jogja, sekarang saya bisa bilang kan kalau Jogja itu tanah air saya?

*Gambar dari sini



Friday, November 27, 2015

Banyunibo: Kemagisan yang Sunyi



Sekitar 13 abad yang lalu, sekelompok masyarakat meninggali kawasan gersang di sebuah desa di Pulau Jawa. Tanah mereka dikelilingi perbukitan karst. Pada musim kemarau angin menjadi lebih kering daripada biasanya sekaligus menerbangkan debu yang membuat mata pedih.

Demi kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, mereka pun mengorbankan harta bendanya demi membangun pemujaan untuk dewa dan dewi. Mereka ingin memohon kepada langit agar mau memberkahi tanah mereka.

Itu yang ada dalam bayangan saya ketika melihat satu kompleks candi di sebuah dusun yang kini dinamai Cepit, di kawasan Prambanan, Yogyakarta. Dinamai Banyunibo atau “air yang jatuh”, mungkin karena bentuk atap stupanya yang seperti tetesan air. Tapi mungkin juga memang sejak dulu, Candi Banyunibo diharapkan menjadi setetes air di tanah yang gersang.

Kini candi itu lebih sering tersembunyi di balik kebun tebu yang rapat. Terutama ketika tebu itu sudah lebih tinggi dari kepala manusia. Ujung stupa di atapnya pun hanya akan terlihat jika kita mendekat.

Mungkin juga, itu tandanya para dewata telah mengabulkan doa masyarakat Cepit pada masa lalu. Gersangnya perbukitan karst tidak begitu terasa. Saya justru lebih merasa damai dan sejuk, karena kini candi itu dikelilingi areal persawahan yang luas.

Dengan pemandangan begitu, banyak orang melihatnya seperti sebatang kara.Tapi sebenarnya candi itu tidak sendiri seperti kelihatannya. Dulunya ia terdiri dari sebuah candi induk yang di kelilingi oleh enam candi perwara berbentuk stupa, yang berderet di sisi selatan dan timur. Sayangnya keenam pengiringnya saat ini sudah berubah menjadi reruntuhan.

Soal imaji saya tadi juga bukannya tanpa alasan. Di candi ini, Hariti dipilih menjadi dewi tempat masyarakat kala itu menggantungkan permohonannya. Memasuki lorong pintu masuk di sebelah barat, setelah menaiki tangga, pada dinding sebelah kanan, kita akan menjumpai relief seorang wanita yang duduk memperlihatkan kelaminnya. Ia digambarkan sedang dikerumuni anak kecil. Di seberangnya, yaitu dinding sebelah kiri, ada seorang laki-laki dalam relief sedang dalam posisi duduk di sebelah guci yang berukuran cukup besar.

Dalam Agama Budha, Hariti dikenal sebagai Dewi Kesuburan. Sementara yang laki-laki adalah suaminya, Vaisravana. Ia adalah Dewa Kekayaan.

Bukan cuma di situ, sosok Hariti juga disematkan pada dinding dalam di atas ambang pintu. Ia sedang duduk bersila diapit oleh dua ekor burung merak, dan juga terlihat sedang dikerumuni anak kecil.
Dewi Hariti
Selanjutnya, permohonan juga mereka simbolkan dalam bentuk Pohon Kalpataru. Dalam bilik candi, pada tembok yang langsung menghadap pintu masuk, kita akan lihat pahatan yang sepertinya menggambarkan pohon kehidupan itu. Sayangnya tidak begitu jelas. Selain karena keadaannya yang telah aus, beberapa batu asli yang memuat bagian gambar itu mungkin tidak ditemukan. Akhirnya beberapa bagian harus digantikan oleh balok-balok andesit polos yang terlihat masih baru.

Adapula perlambang yang diwujudkan pada dinding bagian luar candi. Sepasang makhluk kayangan bernama Kinara-Kinari dipahatkan bersama dengan Pohon Kalpataru.

Kinara-Kinari selalu digambarkan separuh burung dan separuh manusia. Beberapa kepercayaan kuno, jauh lebih kuno dari candi ini, meyakini burung adalah perwakilan dunia atas, sedangkan manusia adalah perwakilan dunia bawah. Mungkin pada masa candi ini berdiri, konsep itu juga yang hendak diwujudkan dalam bentuk Kinara-Kinari. Kedua dunia itu dikawinkan, dengan harapan kesatuan dua dunia dapat mendatangkan keharmonisan alam agar tetap gemah ripah.

Kinara-Kinari dan Pohon Kalpataru
 Ada lagi pahatan kumbha yang akan ditemui jika melihat pada dinding kaki candi. Kumbha ini berupa bejana yang mengeluarkan sulur-sulur bergelombang sebagai simbol wadah air kehidupan. Terasa sekali, Candi Banyunibo ini perwujudan berserah diri manusia kepada Penguasa Alam.

Sekarang, candi ini hanya serupa monumen batu. Tidak banyak yang mengunjungi, tidak seperi Situs Ratu Boko atau Candi Prambanan. Tapi karena itu Banyunibo menjadi salah satu yang saya suka. Kalau duduk di tangga masuknya, merasakan sunyinya, dan anginnya yang sejuk, kemagisan candi itu masih sangat terasa.

Sayang, sekarang saking sepinya candi ini, jadi sering dipakai sebagai tempat rujukan pasangan tanggung untuk saling gelendot dan entah apa lagi. Beberapa juga ada yang jahil, karena di sana-sini saya bisa menemukan jejak eksistensi mereka lewat cat semprot warna-warni. Ah.... semoga dewa dewi tidak marah tempatnya dicemari begitu. Semoga Dusun Cepit tetap subur dan magis...

Ketika Indonesia Harus Berkaca Pada Kisah Angling Darma






Zaman dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Angling Darma. Ia adalah raja keturunan ketujuh dari garis keturunan Arjuna, Putra Pandu dari epos Mahabarata.

Angling Darma memiliki kemampuan memahami bahasa binatang. Ilmu yang disebut sebagai Aji Gineng ini ia warisi dari sang Guru, Nagaraja. Sebagai syarat, ia harus merahasiakan ilmu barunya itu pada siapapun, termasuk pada istrinya, Setyawati.

Suatu hari, ketika sedang bersama Setyawati, Angling Darma tanpa sadar menertawai percakapan sepasang cosy (ini sebutan saya untuk hewan tukang nemplok di tembok pokonya). Setyawati pun tersinggung. Namun, Angling Darma tetap menolak berterus terang, karena terlanjur berjanji untuk merahasiakan ilmu Aji Gineng-nya itu.

Setyawati yang bertambah marah mengancam melakukan pati obong untuk mengembalikan harga dirinya. Dengan melakukan pati obong, Setyawati berarti memilih untuk menerjunkan diri dalam kobaran api. Mendengar itu, Angling Darma justru memilih untuk berjanji menemani Setyawati mati daripada harus membocorkan rahasia ilmunya.

Tapi kemudian, Angling Darma pun mendengar pembicaraan sepasang kambing. Dari pembicaraan itu, ia sadar, keputusannya sehidup semati dengan sang istri adalah keputusan egois. Keputusan itu akan merugikan rakyatnya.

Maka, ketika Setyawati terjun dalam api, Angling Darma tak ikut menyertainya. Artinya, ia telah melanggar sumpahnya sendiri untuk ikut mati bersama istrinya

Perbuatan ingkar janji ini membuatnya harus dibuang ke hutan. Untuk menebus dosa, ia harus meninggalkan segala miliknya, juga kedudukannya sebagai raja.

Sepenggal kisah itu diambil dari cerita Angling Darma (Aidharma). Siapa yang tidak kenal cerita ini ya? Bahkan untuk beberapa orang cerita ini dianggap benar-benar pernah terjadi.

Menurut kepercayaan yang ada, kisah ini merupakan tradisi Jawa asli. Di India, di mana dipercaya sebagai induk tradisi klasik di Nusantara itu, tidak pernah ditemukan kisah serupa.

Kapan pastinya kisah ini ditulis, saya tidak bisa jawab. Mungkin ahli manuskrip bisa menjawab ini. Cuma yang saya tahu, saya dan kalian akan bisa menemukannya di dinding Candi Jago. Candi ini bisa didatangi kalau kalian mampir ke Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Berdasarkan sejarahnya, Candi Jago diduga merupakan tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana dari Kerjaan Singhasari. Kalau merujuk apa yang ditulis Bernet Kempers di bukunya, Ancient Indonesian Art, pentahbisan tempat suci ini diperkirakan terjadi pada tahun 1268 M.

"Atau dua belas tahun setelanya, yaitu setelah dilakukannya Upacara Sradha tahun 1280 M," tulis Kempers.

Oke, apa itu Upacara Sradha? Itu mungkin kalau zaman sekarang sama seperti apa yang kita sebut dengan nyadran. Sama-sama mengenang arwah leluhur atau pendahulu yang sudah meninggal.

Nah, selain kisah Angling Darma di Candi Jago ini, sampai sekarang sudah dikenal dengan banyak versi. Itu termasuk Angling Darma yang pernah tayang sebagai sinetron di salah satu stasiun tv swasta kita, dulu sekali. Ingat?

Cerita yang banyak dikenal saat ini jauh lebih panjang. Kesamaannya juga sedikit sekali dengan yang ada di Candi Jago. Sementara, cerita yang ada dalam relief pada dinding Candi Jago, katanya tidak ada kaitannya sama naskah manapun yang ada dari masa yang lebih tua.

"Intepretasi cerita Angling Darma ini telah dipercayai oleh masyarakat sekitar dan dibuat tulisan mengenainya oleh seorang juru pelihara Candi Jago,"  tulis Ann .R. Kinney dalam bukunya Worshiping Siva and Buddha: the temple art of East Java.

Di Candi Jago, kisah Angling Darma tadi berlanjut dengan menceritakan bagian adegan lain. Dalam panel selanjutnya, dimunculkan seorang resi yang nampak berselisih dengan putrinya, yang ditulis Kinney, bernama Ambarwati.

Ambarwati saat itu tengah bersiap pergi berdoa kepada Buddha Vairocana. Ayahnya, sang resi, berusaha menghalanginya, meski Ambarwati terus bersikukuh. Namun, akhirnya mereka berjalan berdua untuk menemui Sang Budha.

Karena perbuatannya menghalangi Ambarwati yang ingin berdoa, Oleh Vairocana sang resi pun dikutuk menjadi raksasa. Raksasa jelmaan resi itu tidak akan bisa kembali ke wujud semula kecuali ia dibunuh dengan panah.

Perjalanan mereka kemudian, mempertemukan Ambarwati dengan Angling Darma. Dalam pertemuan itu, Angling Darma yakin Ambarawati merupakan reinkarnasi dari istrinya terdahulu karena rupa mereka yang sama.

pertemuan Angling Darma dan Ambarwati
 Tidak kalah penting, dalam panel candi itu, muncul tokoh Punakawan, ya punakawan yang itu, manusia cebol bertubuh tambun. Punakawan di sini berjumlah dua. Keduanya menjadi pengikut Angling Darma. Adapun digambarkan pula satu punakawan yang merupakan teman seperjalanan Ambarwati. Punakawan pengikut Ambarwati ini, melihat nonanya didekati Angling Darma pergi melapor pada sang resi karena menganggap Ambarwati tengah didekati orang tak dikenal.

Sementara itu, seorang Brahmana yang melihat hal itu melaporkan apa yang terjadi kepada Vairocana. Vairocana pun segera memerintahkan Bramana tadi untuk melindungi Ambarwati dan Angling Darma dalam perjalanannya.

Seorang Brahmana utusan Vairocana datang untuk mengawasi Angling Darma dan Ambarwati
 Namun, sang Bramana tidak menyadari kedatangan raksasa yang marah karena mendengar laporan dari punakawan mengenai putrinya. Raksasa itu hendak menyerang Angling Darma, tapi tak berhasil. Angling Darma keburu menaklukkannya dengan panah yang justru membebaskan raksasa dari kutukan.

Resi itu berterimakasih kepada Angling Darma dan memberitahunya bahwa ia adalah ayah dari Ambarwati. Kemudian Sang Resi terbang bersama sang Brahamana menemui Vairocana yang telah memberikan restu kepada pernikahan Angling Darma dan Ambarwati.

 Angling Darma pulang kembali ke kerajaan bersama dengan Ambarwati
Jika dibandingkan, tahulah kita kesamaan versi kisah ini dengan yang dikenal sekarang hanya pada awal kisah sampai bagaimana Angling Darma dibuang ke hutan.

Kisah pertemuannya dengan seorang perempuan yang kemudian menjadi kekasihnya juga berbeda. Dalam relief mereka bertemu di hutan, sedangkan pada kisah yang dikenal pada umumnya, mereka bertemu di istana. Latar belakang si perempuan juga berbeda, dalam relief, perempuan itu adalah anak dari seorang resi yang dikutuk, sedangkan dalam versi lain ia adalah seorang putri raja.

Di versi yang banyak dikenal masyarakat, Angling Darma juga diceritakan terkena kutuk dua kali. Selain dibuang ke hutan, ia juga dikutuk menjadi seekor belibis, yang membuatnya bertemu dengan sang putri. Keberadaan tokoh Punakawan, dalam penceritaan naskah tertulis yang umum dikenal juga tidak ditemukan.

Berdasarkan penggambaran yang ada di Candi jago, poin dari kisah Angling Darma ini jelas soal perannya meruwat sang resi dari kutuknya menjadi raksasa. Namun, ini justru tidak ditemukan pada versinya yang lebih umum.

Dari sini, ada beberapa hal yang menurut saya menarik untuk diperhatikan. Mungkin ini semacam petuah dalam cerita. Bahwa, anugrah yang menjadi kelebihan Angling Darma, justru menjadi awalan dari penderitaannya, yaitu kehilangan istri dan kerajaannya. Angling Darma yang tidak mampu mengendalikan kemampuannya akhirnya membawa kemalangan terhadap dirinya sendiri.

Bukan cuma itu, kita bisa belajar, dalam konteks masyarakat lampau, putri dan istri permaisuri bagi seorang lelaki atau raja merupakan harta. Itu bisa dianalogikan sebagai salah satu aspek dari nafsu duniawi.

Dalam cerita, baik Angling Darma maupun sang resi tidak dapat menahan perasaan pribadinya pada dunia. Mereka kemudian dihukum dengan caranya masing-masing.

Angling Darma, ia dengan tergesa-gesa mengucap sumpah untuk ikut bela pati bersama permaisurinya untuk menunjukkan cintanya. Ini adalah tindakan yang salah sebagai seorang raja karena ia meninggalkan dharma-nya hanya demi cintanya pada istri.

Sementara sang resi, seharusnya mengajarkan kebenaran agama, malah menghalangi putrinya untuk pergi berdoa di hadapan Vairocana. Hal ini mungkin dikarenakan kekhawatirannya yang besar. Ia takut putrinya akan berhadapan pada bahaya jika pergi. Karena hal itu, oleh Vairocana ia dihukum menjadi raksasa.

Tapi, setelah semua kekacauan yang terjadi tadi, kisah ini lalu berakhir pada kondisi yang stabil kembali. Sang resi mendapatkan wujudnya yang suci dan diangkat ke surga. Adapun Angling Darma mendapatkan kembali kerajaan dan istrinya, karena Ambarwati dalam cerita digambarkan memiliki wujud yang sama dengan permaisurinya Setyawati. 

Keadaan yang kembali stabil dalam kisah Angling Darma versi Candi Jago ini didapatkan setelah tokoh utama dalam cerita berhasil mengeyahkan nafsu-nafsu duniawi. Ini disimbolkan dengan Angling Darma yang berhasil meruwat raksasa menjadi seorang yang suci kembali.

Lalu kenapa harus dihukum dibuang ke hutan? Bisa dibilang, pengembaraan dalam hutan, melambangkan pencarian dalam ketidakpastian seorang diri. Si terhukum harus mengatasi diri sendiri dari berbagai cobaan dan penderitaan sebelum mendapatkan kesucian batinnya kembali.

Setelah menguasai hal-hal itu, ia dianggap berhasil mengenyahkan nafsu angkara. Di sanalah kesatuan yang menjamin adanya keselamatan, kehidupan, keseimbangan, dan kesejahteraan bisa terjadi. Ini diwakilkan dengan simbol perkawinan antara Angling Darma dan Ambarwati.

Konteksnya dengan masa sekarang? Mungkin saat ini adalah fase di mana kita, dalam skala Indonesia sedang masuk ke "hutan". Ini fase pengembaraan mencari kepastian masa depan. Coba deh, ekonomi lagi nggak stabil, politik dalam negeri juga lagi edan-edanan dan tambah nggak tau malu "nelanjangin" kebobrokan dan keserakahan di depan kamera.

Saya nggak tahu berapa lama Angling Darma mengembara di hutan. Tapi ini terjadi selama 12 tahun untuk Pandawa usai mereka kalah berjudi dengan Kurawa. Lalu Indonesia? selama raksasa-raksasa belum menemukan jati dirinya yang hakiki sebagai manusia yang berakal dan berbudi, mungkin kita masih harus menunggu munculnya era keselamatan, keseimbangan, dan kesejahteraan itu.




Ket. foto:
Salah satu relief Angling Darma di Candi Jago, yang menggambaran adegan ayah Ambarwati berhasil di-ruwat menjadi wujud aslinya setelah terkena panah Angling Darma (Dok. pribadi).