Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, January 28, 2016

Lelucon Donat dan Kopi Hitam



"Apakah ketika tidak bulat dan tidak bolong tengahnya, dia tidak bisa disebut donat?"

Kamu tiba-tiba bertanya di tempat ini setahun yang lalu. Pertanyaanmu tidak kujawab. Aku pikir itu hanya basa basi memecah sunyi karena selama sejam kita hanya diam. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri dan mungkin kamu juga. 

Kini aku datang kembali ke cafe ini. Bukan untuk donatnya. Toh aku hanya pesan secangkir kopi hitam tanpa gula. Sama seperti yang dulu kamu pesan. 

Kalau kamu masih ingat, saat itu aku memarahimu karena kopi pahit pesananmu. Hari masih pagi. Kamu belum sarapan dan kamu punya maag. 

Dan coba lihat sekarang. Di waktu yang sama seperti waktu itu, ketika matahari bahkan baru beberapa jam bersolek di langit timur, kudapati diriku sudah menggenggam secangkir kopi pahit. Sama seperti kamu dulu. 

"Aku tidak mau begini terus," katamu setelah monologmu soal donat tadi.

Aku bertanya kenapa. Tapi cuma dalam hati. Lalu kitapun kembali saling mendiamkan. Aku tidak bisa menyalahkanmu yang tidak mempercayai jarak. 

then love, love will tear us apart again
love, love will tear us apart again...

Ah lagi-lagi lagu yang sama dengan saat itu. Hanya kali ini yang bernyanyi bukan Joy Division, tapi Nouvelle Vague... Tapi lalu kenapa? Meskipun bukan penyanyi aslinya, ini masih bisa dikatakan lagu yang sama kan?

Sekarang pasti kamu akan menganggap ini lucu. Lucu bagaimana sebuah kebetulan bisa bermain-main dengan perasaan seseorang. 

Ah tapi mungkin aku juga yang sengaja mencari kebetulan itu. Aku ke sini bukan untuk donat. Juga bukan untuk segelas Green Tea Latte kesuaanku. 

Sekarang bahkan aku mencoba mewujudkan sosokmu di atas kursi di depanku. Suasana ini mendukung kesengajaan nakalku. Tapi sebenarnya aku ingin kamu mewujud dengan senyum. Sayangnya kepalaku lebih dulu memproyeksikan bayanganmu dalam sendu.

Tiba-tiba aku merasa gugup. Kuangkat cangkirku menuju bibir. Tapi kubatalkan.
Kopiku masih utuh. Aku baru menyesapnya sekali. Aku tidak suka pahit. Kini pasti semakin terasa pahit karena sudah dingin.

Kopi itu pasti juga sudah dingin saat akhirnya kamu meminumnya usai mengakui ketidakmampuanmu memperpanjang keberadaanku di hatimu yang sudah berjalan paling tidak tujuh tahun. Aku tidak ingat pasti. Aku berharap kopi itu lebih pahit dari yang seharusnya, usai kamu berkata begitu. Aku harap mulutmu langsung terasa pahit, lidahmu pahit, gigimu menghitam, sehingga kamu merasa harus melepehnya kembali keluar. 

Ah apa cinta tidak mengajarkan kesabaran? Aku minta tunggu sebentar, kamu lebih suka segalanya bergerak cepat. 

Sebentar, aku mungkin harus bertanya seperti apa cinta yang diajarkan kepadamu? Kamu pernah bilang saking besarnya cinta, bisa sampai sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tapi rupanya sebesar apapun itu, dia bisa langsung dihilangkan dengan secangkir kopi pahit. Rasa manisnya langsung melebur dan membuatmu tidak ingat seberapa manisnya sebelum kopi itu kau sesap.

Haha. Memang aku masih bisa bertanya soal cinta padamu?

Kemarin amplop pink itu datang. Aku tertawa. Bahkan kamu membiarkan dia mewarnainya dengan warna yang selalu kamu anggap sangat tidak maco. 

Lama sekali amplop itu hanya kupandangi. Aku merasa tidak perlu membukanya. Ada kamu tersenyum di sana. Begitu juga perempuan di sampingmu.  

Hmmmm....

Lalu pertanyaan basa basimu kembali terngiang. Apakah ketika dibentuk tidak bulat dan tidak bolong tengahnya tidak bisa disebut donat? Coba lihat. Bahkan cafe ini sampai sekarang masih menjual donat dengan bentuk yang mereka anggap pantas disebut donat. Tambahan butiran cokelat, bubuk green tea, kacang almond, selai strawberry hanya sebagai pemanis. Tapi ia tetaplah bulat, bolong di tengah, dan akhirnya masih masuk dalam kategori donat. 

Samakah seperti donat dan lagu yang kembali diputar dengan penyanyi berbeda? Apa itu juga cinta? Apakah kamu masih bisa mengatakan itu cinta yang sama, walaupun dia bukan aku lagi?

Kupandangi kopiku. Aku bahkan tidak akan pernah tahu kopi ini akan meninggalkan ampas di dasarnya atau tidak. 

Keramaian pengunjung cafe akhirnya menjangkau pikiranku hingga menyatu kembali. Sepertinya sudah berganti banyak lagu sejak suara Nouvelle Vague diperdengarkan tadi. 

Aku tinggalkan kursiku, dan kamu yang semu.  Kopiku masih utuh. Biar saja. Aku tidak pernah suka pahit.





*Sumber Gambar: Di sini

Sunday, November 15, 2015

Cerpen: Tarik Napas, Jangan Lupa Bahagia



Ekspresi paginya tak pernah berubah. Mengerang, terkapar diperkosa Jakarta. Seperti biasa, dia membuka daun jendela keluar, membusungkan dada, dan menghirup udara. 

Bukannya ia tak tahu, atau lupa. Ia hafal betul aroma sampah campur karbon monoksida, bercampur debu dan aroma comberan itu. Tapi ia butuh setidaknya sepersen saja udara pagi jika tidak ingin kepalanya meledak.

Umurnya 25 tahun. Sudah hampir tujuh tahun belakangan ini kepalanya sedikit demi sedikit membesar. Bukan, sama sekali bukan hydrocephalus. Kata dokter yang pernah ia temui, ia butuh udara bersih dan... Bahagia?

Ia sendiri tak sadar apa ia bahagia selama ini. Ia tak pernah berpikir untuk meraih kebahagiaan, karena kadar susesnya terlalu sulit untuk ditakar. Pikirannya terlalu sederhana untuk bahagia.

Dan kisah kapan kepalanya membesar, ia tidak tahu kapan pastinya. Rasanya kepalanya sudah bertambah besar setelah ia dinyatakan berhasil masuk perguruan tinggi yang katanya paling tinggi harkatnya di Yogyakarta.

"Tarsono, kamu sakit?" kata ibunya suatu kali.

"Tidak. Kenapa?"

"Apa kepalamu memang sebesar itu?"

Ia hanya menjawab dengan memegang kepalanya sendiri. Pertanyaan ibunya membuatnya khawatir.

Nyatanya, kepalanya bertambah besar terus bertambah besar setiap akhir semester. Membesar lagi setiap menjelang ujian. Setiap membuka portal nilai, membesar. Setiap mau tak mau mengambil mata kuliah yang ia tak suka, kepalanya makin membesar. Bahkan semakin membesar hingga matanya hanya terlihat sebesar lubang kancing. 

Ia pun mulai semakin kesulitan memakai kaus-kaus lamanya. Terlebih ketika harus melewati pintu. Jika tak hati-hati pipinya bisa membentur kusen karena kepalanya yang terus membengkak.

"Nak, kamu mungkin harus ke Puskesmas," kata bapaknya, setelah berhari-hari hanya memberi tatapan aneh kepadanya tanpa bertanya. Ia juga tahu, semua teman-temannya dengan sopan menyimpan tawa di balik punggungnya ketika ia lewat.

"Dok, sepertinya ada yang salah dengan kepala saya. Bagaimana bisa ia tidak berhenti bertambah besar?" tanyanya kepada dokter di Puskesmas dekat rumahnya.

"Apa itu sakit?"

"Tidak."

"Lalu kenapa bisa seperti itu?"

"Mana saya tahu, Anda kan dokternya."

"Apa kepala Anda pernah terbentur dengan keras?"

"Tidak, dok. Hanya tahu-tahu membesar."

"Sudah lama begitu?"

"Saya tidak yakin. Sepertinya hampir empat tahun."

"Kenapa baru menemui saya?"

"Memang ini bahaya dok? Apa penyakit saya langka?"

"Sejujurnya saya belum pernah lihat yang seperti ini. Apa Anda yakin Anda tidak merasa pusing atau mual?"

"Tidak."

"Kalau begitu, apa Anda banyak pikiran selama ini?"

"Tentu saja, saya kan mahasiswa."

"Mungkin Anda terlalu banyak berpikir."

"Dokter yang bener dong! masa jawabannya mungkin. Cenayang juga bisa kalau cuma jawab begitu."

"Anda mungkin harus ke rumah sakit untuk memastikan."

Ia sebal. Tak dapat jawaban yang diinginkan, ia bergegas pergi dari ruangan serba putih itu. 

"Mesake yo, dok. Moso' sirahe iso gedhi ngono kui. hihihihi." 

"Hus! wong e krungu, sus." 

BLAM! ia banting pintu di belakangnya. Ia kapok bertanya soal kepalanya. Dengan kerutan di dahinya, ia pun berjalan pulang.

###

Ia semakin sering mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar ketika sang ibu memanggil untuk sarapan, untuk makan siang, dan untuk makan malam. Itu pun langsung ia bawa pergi lagi ke kamar.
Ia memang sengaja tak ingin berada di tengah keluarganya saat ini. Ia menghindari pertanyaan itu. 

"Kapan lulus?"

"Nanti kalau sudah selesai skripsinya." 

"Sudah sampai mana skripsimu?"

BLAM!

Ia banting pintu kamarnya. Mulai saat itu, kamarnya akan menjadi tempat teraman hingga skripsinya selesai dibuat.  

"Kenapa dia?" Ia mendengar bapaknya bertanya kepada ibunya ketika ia bergegas membawa makanannya kembali ke dalam kamar. 

"Oh, dia sedang mengerjakan skripsinya." 

"Kapan terakhir kali ia keluar rumah?" 

"Tidak tahu. Biarkan saja. Ia ingin cepat selesai biar bisa dapat cumlaude."

"Tapi kepalanya bertambah besar."

"Yang penting tidak sakit."
 
Sebulan kemudian, ia dapat ucapan selamat dari teman-teman dan dosennya karena berhasil menjawab semua pertanyaan dosen penguji skripsinya. Nilainya A. Sempurna. 

Dua minggu kemudian, ia berada di antara ribuan mahasiswa yang akan diwisuda. Namanya dipanggil. Ia menjadi salah satu yang berselempang kuning di dadanya. Ibu dan bapaknya bangga. Raut mukanya jumawa. 

Tapi bukan penanda cumlaude itu lah yang membuatnya diperhatikan dengan seksama. Toganya nampak sangat kecil di atas kepalanya yang besar. Jauh lebih besar dari sebelumnya. Kepalanya saat itu sudah selebar ban serep mobil bapaknya. 

Ia tak peduli. Sudah biasa baginya. 

Ada hal lain yang lebih penting dari tatapan orang-orang itu. Apa yang akan ia lakukan setelah ia melepas toga ini? Apa yang akan terjadi padanya ketika slempang kuning keemasan itu tak lagi disandangnya? Tanpa ia sadari kepala itu membesar lagi beberapa senti.

###
 
Untunglah, ia tak harus berlama-lama mengurung diri di kamar demi menghindari pertanyaan-pertanyaan lain dari orang tuanya. Pertanyaan soal pekerjaan sudah selesai ia jawab. Ia merantau ke Jakarta. 

Ia heran, karena semenjak di kota itu ia tak lagi sesering dulu menjadi pusat perhatian akibat kepala besarnya. Setelah meninggalkan kota kelahirannya untuk pertama kali, rasanya ia semakin sering melihat orang berkepala besar di dalam bus kota, di tengah gorombolan orang-orang yang menyebrangi kemacetan lalu lintas, bahkan yang mengendarai sepeda motor! 

Rasanya aneh, di kota itu sudah ada helm khusus yang ukurannya bisa disesuaikan dengan kepala pemakai. Bahkan pintu-pintu di perkantoran, di Puskesmas, di Rumah Sakit, di hotel, juga di kos-kosan sudah disesuaikan dengan ukuran kepala terbesar penduduk di kota itu.

"Untuk berjaga-jaga." kata pemilik warteg di dekat kosnya.

"Sejak kapan kalian membuat pintu-pintu seperti ini?"

"Kau pasti orang baru. Siapapun yang datang ke Jakarta harus siap seperti ini. Apa di kotamu tidak?"

"Tentu saja tidak."

"Lalu apa hanya kepalamu yang besar di kotamu?"

"Mungkin."

"Kalau begitu pasti tidak ada yang tau kenapa kepalamu bisa besar?"

"Apa kau tau?

"Tidak. Kepalaku kan tidak besar."

"....."

"Oh, karena kau orang baru, info saja, petugas BPS juga akan datang dan terus memeriksa ukuran kepalamu secara rutin."

"Apa?"

###

Sungguh tak mudah baginya untuk pada akhirnya berhasil mendapat pekerjaan itu. Ia sekarang seorang financial advisor di sebuah perusahaan asuransi yang cukup ternama.

Sebelumnya segala macam pekerjaan pernah ia coba lakukan. Ia pernah jadi staf honorer di kantor pemerintahan, pernah mencoba jadi guru les di lembaga bimbingan belajar, pernah juga jadi editor lepas di sebuah penerbitan. Tapi ia tidak pernah merasa nyaman.

Dan bukannya pekerjaan yang sekarang ini nyaman untuknya. Ia hanya harus mencoba lebih lama. Ia harus punya kebanggaan untuk dibawa pulang ketika Lebaran nanti. Paling tidak sekarang perusahaannya punya nama. Meski itu artinya ia harus siap kepalanya terus membesar. Tak apa. Di kota ini bukan cuma dia yang berkepala besar.

"Nol lagi? Ini sudah minggu kedua dan belum juga ada closing?"

"Maaf bu, saya akan usahakan lagi."

"Saya pikir kepala besar berarti otak yang besar juga. Besok harus ada hasil. Tidak mau tahu bagaimana caranya. Pakai kepalamu."

Gontai. Ia selalu begitu ketika berjalan pulang ke kamar sewaannya yang sempit itu. Ah andai saja hidup hanya butuh udara untuk bernapas maka ini akan lebih mudah. Begitu selalu pikirnya. 

###

Setengah tahun ia bekerja di perusahaan asuransi itu. Ia semakin membuat takut dirinya sendiri ketika melongok ke kaca di kamar mandinya. Bayangan kepalanya semakin tak lengkap terpantul di kaca itu karena terlalu besar. Kini kepalanya sudah sebesar ban bus trans Jakarta dan matanya hanya tinggal sebesar  biji mentimun. Kupingnya juga sering berdengung ketika ia sedang berpikir.

"Apa Anda bahagia?" tanya dokter di Rumah Sakit Fatimah pada akhirnya.

"Apa hubungannya sih, dok? tanya-tanya saya bahagia apa tidak."

"Karena itu yang selalu saya tanyakan pada setiap pasien yang memiliki kepala seperti Anda."

"Memang saya sakit apa, dok?"

"Belum ada namanya. Kami menyebutnya dengan Sindrom Kepala Meledak."

"Meledak? kepala saya akan meledak, dok?"

"Tentu saja itu akan terjadi. Banyak yang sudah begitu."

"Apa ada obatnya dok?"

"Ada. Tapi akan sulit didapat."

"Saya akan coba bayar berapapun dok."

"Ini bukan soal uang. Anda butuh udara bersih setiap pagi jika tidak ingin kepala Anda meledak."

"Tapi ini Jakarta, dok. Saya tak akan bisa dapat udara yang Anda maksudkan di kota ini. Aduh, dok. Kepala saya berdengung lagi dok."

"Sabar pak, sabar. Anda harus bernapas dengan baik. Kepala Anda akan kembali ke ukuran semula jika Anda berhasil melakukan itu dengan baik.

"Apa saya harus pulang ke Jogja dok? Tapi saya sudah begini sebelum datang ke Jakarta."

"Itu kenapa tadi saya bilang ini bukan soal uang."

"Tidak ada cara lain, dok?"

"Ada. Apa Anda bahagia?" 

###

Di kamar kosnya, pagi itu ia merasa tak semangat kerja. Ia ingin minta libur. Libur panjang. Kalau bisa ia tak ingin kembali kemari. Ia ingin kembali ke kotanya. Pulang kepada orang tua dan adiknya. 

Tapi ia tak bisa pulang. Pertanyaan seputar pernikahan akan ia dapat segera setelah bokongnya menyentuh kursi di ruang makan rumahnya. 

Di ambang jendela, ia menghela napas. Udara di Jakarta semakin pekat. Bahkan udara juga berebut tempat dengan pendatang berupa asap rokok, asap knalpot, dan aroma limbah.

Kepalanya semakin berat. Di bekalang punggungnya ia mendengar siaran berita. Mayat dengan kepala yang pecah ditemukan di kawasan kumuh Jakarta Utara. Ah, andai hidup hanya butuh nyawa saja, tak perlu udara, tak perlu bahagia, pikirnya. 

Jakarta, 17 Oktober 2015

Thursday, September 17, 2015

Suatu Malam, Ketika Keduanya Saling Berdialog





Kedua orang itu berjalan di atas aspal yang dingin. Mereka berjalan beriringan. Tapi tidak bergandengan. Bulan tak nampak di langit. Begitu juga bintang. Gelandangan sudah meringkuk memeluk lututnya di emperan kios tukang jahit.

"Kamu percaya takdir?"

"Sesuatu yang katanya pasti terjadi setelah ditentukan oleh satu kekuatan entah milik siapa itu maksudmu?"

"Semacam itu. Percaya?"

"Aku percaya diriku sendiri."

"Aku juga tidak. Tapi aku tidak pula percaya diriku sendiri."

Tiba-tiba orang yang ditanya tadi mengamit tangan orang satunya. Kini mereka jalan bergandengan.

Mereka berdua masih terus berjalan. Tidak berusaha mengarah kepana pun. Hanya kebetulan saja mereka mengikuti aspal yang mengarah ke barat.

Lampu jalanan berkedip sesekali. Seperti siap putus kapan saja. Tapi untungnya lampu itu tetap mampu membuat aspal itu benderang. Meski tanpa bulan. Meski tanpa bintang.

Sementara, orang yang digandeng tadi merasa kini tak lagi perlu tahu tentang sekitarnya. Soal lampu jalanan yang entah masih sanggup atau tidak menyala di tengah kedipannya yang makin sering. Soal mendung yang apakah akan segera mengalah pada sinar bulan dan bintang. Atau bahkan soal takdir. Menjadi tahu akan sesuatu mengenai itu terlalu menakutkan untuknya.

Ia kini seakan sudah berada di tempat yang diinginkannya. Apa yang diinginkannya begitu sederhana. Genggamannya sudah hangat. Tangannya terasa mantab di dalam tangan orang di sebelahnya.

"Kamu percaya padaku?" Kini ganti orang satunya yang bertanya.


Tak ada jawaban. Tapi si penanya merasa tangannya makin erat tergenggam.

Kedua orang itu terus berjalan. Lampu jalanan masih sering berkedip. Sesekali menyala benderang. Sesekali padam.

Mendung juga masih menggelayut. Bulan dan bintang masih tersembunyi di sudut tumpukan awan yang pekat. Sesekali mendung menyingkir, menampilkan kedua perhiasan malam yang bercahaya di baliknya.

"Kamu takut gelap?" yang barusan bertanya lagi.

"Tidak. Aku hanya belum siap."


Nb: Tulisan ini dibuat di tengah hawa panas dini hari, sambil menunggu si kantuk yang masih rindu pada kesadaran.

(Sumber gambar dari sini)

Thursday, August 27, 2015

Sesat


Aku berjalan. Separuh meraba-raba dengan tangan ke depan.

Tiba-tiba ada yang meraih pundakku. Terkejut, aku pun reflek menengok ke arah datangnya lengan itu.

Tak begitu jelas rupanya. Seperti biasa perjalanan ini begitu gelap. Tak ada siang di dunia ini. Selamanya malam.

Maka kelam pun membungkus sosoknya. Seutuhnya. Hanya menyisakan lengan yang menjurus menggenggam bahuku.

Sejujurnya tak pernah aku tau pemandangan di belakang punggungku. Aku tak pernah mencoba membalikkan kepalaku ke belakang. Entah takut atau gengsi. Keduanya sulit dibedakan.

Sebenarnya, aku pun kini takut menengok ke arah tangan itu datang, melihat siapa gerangan yang meremat pundakku.

"Siapa kau?" tanyaku.

Ia hanya diam. Begitupun lengannya tak bergerak.

Lengan itu kekar. Seperti lengan lelaki. Tapi halus, tak berambut, berjari lentik layaknya lengan perempuan. Tunggu! Lengan itu berjari tujuh.

Benar-benar ada tujuh, ketika kembali ku hitung setelah menggosok kedua mataku. Dimulai dari ibu jari, telunjuk, satu jari entah apa namanya, jari tengah, satu jari aneh lainnya, kemudian jari manis, dan terakhir kelingking.

Kerongkonganku tiba-tiba terasa kering. Tercekat. Takut kembali bertanya siapa dan mau apa dia.

Aku kembali melihat sekeliling. Hampir tak ada pemandangan yang bisa ditangkap. Aku baru menyadarinya. Aku bahkan tak tahu ini di mana. Aku hanya mengikuti langkahku selama ini.

Beberapa waktu yang lalu, sesekali ada bisikan menyuruhku ini dan itu. Tapi ku lewatkan. Aku terus berjalan karena takut mendengar suara-suara itu. Aku berjalan makin cepat.

Kini tangan itu menggapaiku. Apa dia marah karena menjadi salah satu yang kuabaikan? Aku tidak tahu.

Aku takut. Semoga ia tak menampakkan sosoknya. Apa jadinya sosok yang memiliki tujuh jari dan lengan bak androgini?

Mulutku mengeras. Lidah kaku. Ada rasa di ujungnya seperti ingin memuntahkan sesuatu. Tapi langsung membeku, dihantam dinginnya keraguan.

Aku termangu. Berpikir. Harus bagaimana aku sekarang? Harus ke mana aku kini? Diam berdiri di sini kah?

Tangan ini begitu kuat mencengkram. Aku terus menerus membolak balikkan pandangan ke balik punggungku. Gelap gulita.

Ini di mana? Apa saja yang sudah ku lewatkan?

Monday, August 24, 2015

Pada Suatu Malam Ketika Perempuan-Perempuan Datang Silih Berganti dan Mengira Saya Depresi

Suatu hari seorang perempuan mendatangi saya. Ia mendekat, lalu bertanya.

"Apa yang kamu lakukan di sini seorang diri?"

"Menunggu." jawab saya.

Dan ia menghilang. Ia berputar bersama udara dan waktu. Di tangannya, ia menggenggam bahagia.

Suatu hari, seorang perempuan lainnya datang dan bertanya hal yang sama. Dan saya menjawab dengan jawaban yang juga sama.

"Apa yang kau tunggu?" Kali ini ia bertanya lebih banyak.

"Entah. Saya hanya harus menunggu."

Tidak ada tanggapan. Ia hanya diam memandangi saya tak sampai sejam lamanya.

Tak tahu harus berkata apa, kemudian ia pun juga menghilang bersama hari. Di tangannya, ia menggandeng keyakinan.

Beberapa hari kemudian datang lagi perempuan. Sama seperti sebelumnya ia mendekat dan bertanya. Kemilau yang terang muncul dari lingkaran jari manis tangan kirinya.

Lagi-lagi pertanyaan yang sama. Kali ini saya malas menjawab. Dia pasti tau jawabannya. Saya masih menunggu.

"Sampai kapan?" tanya dia.

"Sampai saya tahu kenapa saya masih menunggu." kata saya.

Saya hampir mendengarnya menghela napas. Saya juga bisa menangkap heran dan sesal di antara dengusan itu. Biarlah....

Dan saya pun membiarkannya berputar pergi bersama kala. Di tangannya ada kebanggaan.

Datang lagi perempuan-perempuan lainnya. Lucunya, mereka selalu datang (mengganggu) di kala malam membuai saya yang segera menyambut kantuk.

Pertanyaannya selalu sama. Lalu mereka berputar pergi di saat saya masih mau memeluk sepi. Mereka menghampiri, mengajak pergi. Tapi saya masih belum sudi.

Saya masih mencari untuk apa saya di sini. Menunggu meski tak pasti.

Tapi perempuan-perempuan itu terus datang silih berganti. Bertanya itu-itu lagi. Untuk mereka saya sudah terlalu lama menanti.

Perempuan-perempuan itu berputar berotasi bersama ibu Bumi. Mereka pikir mereka lebih beruntung karena tak merasakan detik berubah hari. Tapi apa mereka beruntung bisa lebih dulu pergi? Saya tak tahu pasti.

Saya lebih suka menanti. Karena kabarnya sabar tak bisa dibatasi. Juga, katanya, sabar pasti dibayar tinggi.