Showing posts with label What a Day!. Show all posts
Showing posts with label What a Day!. Show all posts

Monday, September 14, 2015

Kontemplasi Seperempat Abad Pengesahan Diri Sebagai Manusia Bumi






Suatu hari di Bulan September, jarum jam menunjuk pukul 00.00 WIB. Detik itu juga hari sudah bisa ditanggali 7 September. Dua puluh lima tahun yang lalu, saya datang menginvasi bumi. Sama seperti manusia lain, yaitu lewat selangkangan perempuan mulia yang kemudian saya panggil ibu.

Dan... setelah sepekan berlalu dari tanggal itu, saya malah heran. Banyak anggapan, umur 25 tahun itu masa peralihan sebenarnya, khususnya buat perempuan. Masa? Apa ada yang berubah? Memang kenapa kalau kebetulan angka itu tepat seperempat abad?

Kenyataannya, saya tetap merasa sama. Dan yakin lah Anda semua juga pasti begitu. Selera humor tetap sama. Gaya tertawa juga, kalau saya masih gagah dan lebar. Hobi juga tidak akan berubah. Tidak lantas jadi suka masak dan bersih-bersih seperti angapan banyak orang soal bagaimana perempuan dewasa seharusnya.

Umur setau saya tidak akan banyak merubah seseorang. Justru keadaan yang lebih banyak berperan.

Kalau saya, saya sudah hampir dua tahun pisah hidup dari orang tua. Tanggung jawab sebagai seorang manusia yang hidup numpang di dunia sudah saya rasakan sejak sebelum jarum jam mengubah usia saya.

Dan memang sih agak heran juga setelah tahu ternyata menjadi 25 tahun itu biasa saja. Padahal dulu saya punya banyak rancangan untuk kehidupan di usia ini. Sama lah kaya remaja-remaja lainnya...

Kalau dingat pasti geli sendiri. Banyak kan yang ketika remajanya membayangkan di umur ini sudah bisa punya rumah, mobil, dan suami? Haha. Tos dulu lah! Kita sama. Saya malah juga merasa di umur 25 tahun, sudah bisa menerbitkan buku sendiri.

Kenyataannya? Mungkin banyak yang sudah berhasil dapat ini itu. Tapi tidak sedikit juga kan yang di umur 25, ibaratnya baru memasang pondasi untuk kehidupan di masa depan. Dan apa sudah cukup kokoh? Ya belum tau.

Bahkan ada masa ketika kita terlalu menghubung-hubungkan aktivitas menikah dengan umur 25 tahun. "Saya akan menikah umur 25 tahun." atau "Umur 25 tahun saya sudah harus menikah!" begitu dan lain-lain.

Kalau saya sih, bisa dijelaskan kenapa begitu. Faktanya, di umur 25 tahun, ibu saya menikah dengan ayah saya. Ayah saya waktu itu umurnya 30 tahun. Ideal? Iya, akhirnya itu menjadi ukuran ideal buat saya.

Tapi kan kita bisa berkelit. Kehidupan terus bergulir. Dan tidak semua hal bisa diukur sama dengan yang sudah lampau.

Ya sudahlah... sebagai manusia visioner, ada baiknya kita punya peta hidup yang jelas. Saya pun akhirnya lebih memutuskan umur ini adalah kesiapan awal saya untuk benar benar melangkah. Melangkah ke mana? Ke kehidupan yang lebih serius. Dalam hal apapun. Termasuk masa depan. Termasuk soal pekerjaan. Termasuk soal tabungan. Termasuk soal pemenuhan kebutuhan primer: sandang, pangan, papan. Juga termasuk soal pernikahan tadi.

Engg.., Memang sih yang terakhir itu masih cukup abstrak....

Friday, September 4, 2015

Ini Bukan Lagi Soal Logika, Ini Tentang Si Kecil Cosy


Saya hafal bentuknya di luar kepala. Tapi kenapa saya selalu kaget kalau hewan itu tiba-tiba tertangkap mata saya. Bukan cuma kaget, tapi lebay. Dan siang ini, dengan kondisi belum mandi, belum makan, belum mencuci, belum wudhu, belum solat, belum pipis, saya histeris di depan pintu kamar mandi dengan gagang sapu terangkat.

Intinya mata saya menangkap hewan yang jadi musuh terbesar saya. Tolong jangan paksa saya sebut nama hewan itu di sini. Buat saya itu sungguh pamali. Membayangkan ekornya, mengeliat-geliut ketika sedang merayap. Juga selalu ada perasaan kaki-kaki hewan itu tidak cukup kuat untuk berjalan di langit-langit dan tiba-tiba jatuh nemplok di kepala...HIAAAAA!! MATIKKK GUAAAA!!

Eng..Pasti sudah bisa tebak saya bicarakan apa. Ya, Cosymbotus platyurus. Jujur, pemakaian sebutan latin untuk hewan itu lebih aman untuk saya. Ada banyak nama latin untuk dia seingat saya. Saya tidak tau pasti mana yang tepat. Tapi intinya menyebutnya dengan nama lain membuat bentuknya tidak akan langsung terbayang. Beda kalau saya sebut dengan nama umumnya, C..... ya itu lah.

Sekarang mari panggil dia Cosy. Dek Cosy (dia masih kecil saat saya lihat hari ini), tadi siang tiba-tiba muncul di dekat kran kamar mandi kosan. Ini serupa dead end untuk saya. Kenapa? ya pertanyaan kenapa itu juga yang saya ajukan pada Dek Cosy. Kenapa kamu harus muncul di dekat
kran, di saat saya mau wudhu, di saat saya mau isi ember untuk mencuci, di saat saya juga mau pipis, dan di saat semua anak kosan lagi keluar. ARGH!

Tau? Bahkan saya rela menunggu Dek Cosy untuk menyingkir dari sana. Saya rela pada akhirnya tadi siang menahan hampir satu jam untuk pipis. Saya juga rela tidak wudhu (maaf ya Tuhan), dan menunda waktu sholat karena ada Dek Cosy di situ. Dan cucian saya... ah sudah lah... itu sudah pasti saya pending.

Tapi bukan berarti saya diam. Dek Cosy sudah saya usahakan untuk menyingkir dari posisinya saat itu. Saya pukul-pukul tembok kamar mandi, saya buat suara-suara mengusir, sampai saya ambil sapu untuk memukul tembok yang lebih dekat dengan Cosy. Dan apa? Dek Cosy tidak bergeming. Yang terjadi justru jauh lebih parah dan paling saya takutkan. Rambut sapu tidak sengaja menyenggol Dek Cosy, hingga ia jatuh. TEPLOK! ARRRGGh! Dan dia masuk ke ember. Dan saya tambah histeris. MAYGAAAAT!!! *drama abis.

Baik. Saat itu lah saya putuskan waktunya untuk gencatan senjata. Saya kembali masuk kamar. Saya biarkan Dek Cosy sendiri yang memutuskan untuk bergeliat-geliut keluar dari ember dan pindah posisi entah di mana.

Entah berapa lama, saya keluar kamar. Dan ya, dia pindah posisi. Saat itu ia masih bergelantungan di papan cucian dengan bentuk tubuh yang... ah.. sudahlah.

Saya tinggalkan kembali medan pertempuran. Kembali ke kamar. Beberapa lama, saya kembali lagi menengok si Cosy. YES!! dia menghilang.

Tunggu! ini bukan saat yang tepat untuk bergembira. saya harus tau keberadaannya di mana. Celingak-celinguk cari ekor mungil Cosy yang sama sekali NGGAK lucu, akhirnya saya temukan dia di dalam ceruk tempat menaruh sabun batangan. OKE! itu cukup. Saya anggap itu tempat yang aman untuk saya. Lekuk tubuhnya tersembunyi dengan baik di balik sikat kamar mandi yang memang sengaja diletakkan di sana.

Baiklah. Akhirnya dengan posisi terbaru dari Dek Cosy saya jadi pede masuk kamar mandi. Saya bisa cuci baju saya, pipis, wudhu, bahkan mandi. Tentunya dengan terus berdoa semoga Dek Cosy tidak melakukan manufer dadakan yang membuat saya kelabakan. Plus, dengan posisi badan saya menghadap tembok berlawanan dari posisi si Cosy berada.

Saya sudah bilang kan, kalau saya lebay? eits tunggu dulu. Jangan bicara pake logika di sini. Iya tau badan saya lebih gede dan saya jauh lebih berotak. Tapi siapa sih yang mau punya ketakutan kaya begini? nggak ada. Pasti. Tapi gimana ya, kisah permusuhan saya dengan Dek Cosy itu mungkin sudah seumur hidup saya.

Entah alasannya apa saya juga tidak tahu. Yang jelas, Dek Cosy itu seperti tahu kehadirannya selalu membuat saya tak nyaman. Anehnya, semakin kita takut sesuatu, dia justru akan semakin sering muncul di sekitar kita. Perasaan saya sih begitu. Tapi mungkin karena kita jadi semakin peka. 

Itu benar loh. Saya jadi hafal sifatnya. hahaha. Gini ya, Dek Cosy itu, kalau kita usir pasti akan selalu diam di tempat. Dia akan semakin keras kepala. Kenapa? mungkin di pikirannya, dengan diam dia tidak akan menarik perhatian manusia dan dia akan aman. Tapi justru yang begini bikin saya jadi makin menggila! Hah!

Tapi kalau boleh ngulik-ngulik sedikit, hewan ini nyatanya melegenda. Banyak cerita rakyat dan kisah di agama yang menceritakan hewan ini. Di awal kisah Angling Dharma misalnya, hewan ini jadi trouble maker yang membuat Angling Dharma berantem dengan sang istri, Setyawati, hingga sang istri memutuskan untuk membakar diri (coba cek sendiri aja ya ceritanya :P). Lalu di Islam, hewan ini juga katanya jadi trouble maker dengan meniup dan memperbesar api yang membakar Nabi Ibrahim. Nenek moyang cosy juga katanya yang bikin suara ketika Nabi Muhammad bersembunyi dari pengejar-pengejarnya. 

Intinya hewan ini sudah sejak lama jadi musuh banyak manusia. Tapi saya tahu kok Tuhan katanya menciptakan cosy untuk menyeimbangkan alam. Dia selama ini berjasa mengendalikan populasi nyamuk.

Tapi yang saya nggak paham, di rumah saya dan di sekeliling saya, hewan ini selalu terlihat sebagai penguasa rantai makanan. Jumlahnya terus bertambah tanpa ada predator yang jelas di habitatnya (baca: rumah manusia). Populasinya, berdasarkan pengamatan saya, hanya berkurang jika ada Cosy-Cosy bego yang kejepit di engsel pintu atau masuk ke AC atau nyemplung di air. AH GELI!!

Ah tapi pada akhirnya, saya harus mengakui kalau ketakutan ini harus diatasi atau hidup saya sungguh akan selamanya terganggu. Etapiiiiii.... kata para motivator itu, mengatasi rasa takut caranya adalah hanya dengan menghadapinya. GILAK apa mereka?!?!?!?

(gambar di atas nyomot dari sini)

Wednesday, July 29, 2015

Ketika Kesatuan dari Lampion, Ketupat, Takbir, dan Maaf Tak Lagi Menakutkan



Sorot lampu mobil dan gemerlap lampu jalanan tidak membuyarkan pesona iring-iringan lampion takbiran di sepanjang jalan Kota Jogja. Beberapa kendaraan sampai harus melambatkan lajunya untuk sengaja menonton pawai tahunan ini.

Syukur tidak ada yang berubah. Saya masih bisa menganga melihat anak-anak berbaju muslim dan beberapa pakai batik beriringan mengangkat lampion sambil menggemakan takbir. Lebaran di Jogja tetap semarak.

Tapi rasanya tetap berbeda untuk saya. Setelah tahun sebelumnya menghabiskan malam takbiran di Bandung, tahun ini aroma Lebaran tetap paling spesial. Saya juga baru tahu, tak mudah mendapatkan pemandangan semeriah ini di kota lain. Di Bandung, pawai takbiran keliling ini tak ada.

Tapi bukan cuma itu pastinya yang membuat saya merasa berbeda. Saya ingat dulu, Lebaran selalu membuat saya merasa seperti mendapat momen paling menegangkan. Saya seperti murid yang disuruh maju ke depan kelas untuk berpidato dalam Bahasa Jawa krama.

Dan memang itu yang terjadi. Setiap Lebaran, budaya keluarga saya mengharuskan untuk melakukan sembah sungkem kepada orang tua, kepada nenek, kakek, atau orang-orang di keluarga yang dituakan. Ini tidak pernah bisa saya lakukan dengan baik. Saya tidak pernah menjadi terbiasa dengan kebiasaan itu. Padahal itu sudah saya lakukan hampir setiap tahun, seumur hidup.

Rasanya aneh. Duduk berlutut di hadapan seseorang, dengan kepala menyentuh lututnya sambil mengucapkan kalimat maaf yang panjang. Satu orang yang meminta maaf bisa sampai menangis setelah mengucapkan entah apa yang terlihat sangat panjang dan lama. Itu masih ditonton banyak saudara lainnya yang menunggu giliran atau sudah selesai sungkeman.

Apalagi sayup-sayup saya mendengar mereka saling balas mengucap dengan Bahasa Jawa halus. Dan saya? mungkin saya orang paling singkat ketika minta maaf. Ditambah saya minta maaf pakai Bahasa Indonesia. Aduh! Ini momen paling menegangkan untuk saya sejak kecil. Hanya bilang maaf saja sudah sulit, apalagi dengan cara seperti itu dan ditonton banyak orang.

Tapi toh sekarang saya tidak peduli. Saya mungkin bisa memaknai momen ini sebagai hari yang paling emosional. Saya masih gugup ketika sungkeman, tentu saja, tapi saya juga gembira.

Di situ ada wajah-wajah yang sudah saya kenal seumur hidup saya. Ibu, Bapak, adik laki-laki saya, eyang putri, tante, pakde, bude, simbah kakung, juga sepupu-sepupu saya. Wajah-wajah itu sekarang tidak akan mudah saya jumpai setiap hari.

Lagi pula saya jadi paham. Dengan menunduk berarti kita merendahkan ego diri sendiri. Sikap tubuh ini menunjukkan kita telah merendahkan gengsi, mengakui kelemahan menjaga prilaku diri, dan memohon agar kesalahan itu dimaafkan.

Paling utama, momen seperti ini menjadi momen penuh syukur. Syukur saya masih bisa bertemu keluarga. Syukur saya punya rezeki untuk bisa pulang ke jogja. Syukur karena tahun ini saya punya waktu yang lebih panjang -sembilan hari!- di Jogja. Syukur opor ayam, sambel goreng krecek, ketupat, dll masih lengkap di meja makan saat Lebaran. Dan syukur saya tidak lagi memandang momen ini sebagai hari yang menakutkan. Saya tidak lagi malu untuk meminta maaf.


Monday, July 6, 2015

Pada Suatu Hari Ketika Pencurian Motor Membuat Saya Merasa Jadi (Manusia) Jahat

Lantai bawah kos saya sudah ramai ketika akhirnya saya bangun untuk sahur. Ibu kos sudah mulai teriak-teriak, entah meneriaki si bapak atau anaknya Ojan.

Di lantai atas, saya hanya sahur berdua. Kami sahur dalam diam, karena masih terbawa kantuk. Lantai bawah juga tiba-tiba sunyi. Suara ojan yang biasanya paling berisik juga sudah hilang, sepertinya sudah kembali teredam pintu kamarnya.

Belum mendekati waktu subuh, tiba-tiba saya dikagetkan suara motor negbut di depan rumah. Bunyi mesin menanjak di jalanan depan itu diikuti suara teriakan kalap dari laki-laki yang kemudian saya ketahui adalah penghuni kos-kosan tetangga.

Saya tahu apa itu. Tapi saya tidak mau komentar. Saya cuma melirik teman di depan saya, berharap ia tidak menyebut apa yang ada di pikiran saya.

Tapi rupanya keluarga pemilik kos di lantai bawah lebih dulu teriak setelah paham apa yang terjadi. Mereka ikut kalap ke luar rumah, meneriaki maling motor yang pasti sudah jauh.

Saya lemas. Hingga detik itu saya masih belum tahu motor siapa yang dibawa pergi si pencuri. Bahkan tangan saya gemetar. Saya takut. Saya takut kalau itu motor saya. Dalam hati saya terus berharap semoga itu motor orang lain saja yang dibawa kabur. Motor siapa saja terserah asal bukan motor saya.

Meski akhirnya lega setelah tahu itu motor tetangga, beberapa hari sejak kejadian itu saya masih takut. Takut kalau itu menimpa saya. Tapi bukan itu yang mau saya omongkan di sini. Lama-lama dipikir, saya justru terkejut pada kenyataan, bahwa saya nyatanya bisa menjadi jahat. Saya merasa sedikit menyesal dengan doa saya.

Harapan saya yang tercetus saat itu hanya berupa contoh bukti bahwa kita sebagai manusia yang katanya tinggi akal dan budinya masih sangat menempatkan insting dalam merespon suatu hal. Kita yang katanya makhluk sosial, pada kenyataannya jauh di dalam dirinya selalu berharap kebaikan bagi dirinya sendiri dan tidak peduli apa yang terjadi dengan orang lain. Dan saya yang antroposentris ini, di kala kepepet bisa menjadi liar. Entah dalam prilaku atau pun pikiran seperti yang saya lakukan. Sedikit menakutkan, heh?

Merembet ke kasus yang lebih luas, dan ini memang akan ke mana-mana, semua ujung-ujungnya soal ego. Tapi apa saya bisa dikatakan egois, kalau yang semacam ini kata Thomas Hobbes sudah menjadi sifat dasar manusia? Berdasarkan cetusan harapan yang saya lakukan saat ada kasus pencurian di depan kos saya itu, saya sedikit banyak setuju sama Kakek Hobbes.

Pikir lah, bahkan yang nampaknya seperti berkorban untuk orang lain, seperti memberi santunan kepada fakir miskin,  pun juga demi diri sendiri. Mungkin itu supaya hidup menjadi lebih tenang. Atau mungkin untuk mendapat pahala. Atau ada yang berharap supaya Tuhan melipat gandakan rejeki kita nantinya. Atau biar tidak menyesal kalau nanti uangnya hilang dan dituding karena kurang beramal.

Pengemis bahkan sudah pakai tagline ini loh biar masyarakat mau kasih mereka sedekah. Mereka dengan bangga menyebut diri dibutuhkan untuk beramal dan dapat pahala. Pernah dengar kan?

Jadi, istilah makhluk sosial itu sebenarnya asas dimanfaatkan atau memanfaatkan manusia lainnya. Apa pun akan dilakukan jika itu akan menguntungkan bagi kita.

Tapi kalau berangkat dari teorinya Hobbes tadi, artinya setiap kali manusia berbuat untuk kepentingan diri sendiri berarti kita sedang menyesuaikan diri dengan tuntuan alam. Berarti kalau begini saya sebenarnya jahat nggak ya? Toh saya dituntut oleh alam. Ah...

Sumpah deh, saya mungkin akan ditertawai Dalai Lama kalau pikiran saya masih terpengaruh Thomas Hobbes yang bahkan sudah meninggal pada abad ke-17. Mungkin Dalai Lama bakal bilang, Ris, gimana lo mau bahagia bawaan lo curigaan mulu sama orang. Ya, pada akhirnya saya mau bilang, buang jauh-jauh gunjingan saya tadi, buang, lupakan! Idup kita akan lebih santai, mudah, dan bebas kalau selalu lihat sisi positifnya kan? Dalam artian tidak diracuni pemikiran bahwa setiap orang pasti ada maunya dalam melakukan sesuatu. Iya kan? iya aja lah biar bahagia.

Lalu soal doa saya supaya motor orang lain saja yang dicuri dan bukan milik saya? Ah sudah lah... mungkin cuma saya yang suka berharap sesuatu yang jahat bagi orang lain. Tidak semua manusia seperti saya kan, bukan begitu Dalai Lama?

Sunday, July 5, 2015

Pulang



Dulu saya pernah sangat berharap setelah kuliah untuk tidak menetap di Jogja. Saya selalu merasa bingung harus apa karena bosan. Saya senang pada akhirnya dapat pekerjaan yang cukup jauh dari rumah dan membuat saya tidak diam di tempat. Tapi apa sekarang? saya bingung karena kesulitan untuk kembali pulang ke Jogja.

Saya ingat, saat itu masih Bulan Mei ketika tengah malam saya masih berusaha terjaga sambil duduk di sofa kos-an menghadap laptop. Tepatnya, saya dan dua teman saya. Ngapain? Nongkrongin saat-saat tiket kereta api untuk dua bulan kemudian dijual secara online.

Hasilnya? nihil. Saya gagal dapat tiket kereta.

Saya masih bisa tenang. Sebulan kemudian, berita tersebar tiket kereta tambahan sudah bisa diakses. Kembali kami bertiga tengah malam duduk berusaha terjaga di depan layar netbook yang bikin mata lebih pedas karena sambil menahan kantuk.

Hasilnya? nihil. Saya kembali gagal dapat tiket kereta.

Panik? mulai panik. Di sini satu pilihan transportasi andalan saya terpaksa saya coret.  Walaupun tak suka, masih ada harapan tiket pesawat, bus, atau travel.

Sebenarnya kalau pun saat itu saya dapat tiket, saya tidak yakin juga apa saya sudah beli untuk jadwal keberangkatan yang benar. Saya masih belum yakin kapan saya boleh pulang saat lebaran. Saya juga masih belum menentukan jadwal cuti, karena jadwal libur saja belum keluar.

Kepanikan saya terus bertambah seiring dengan naiknya harga tiket pesawat secara periodik. Setiap kali saya intip situs penjualan tiket, ada saja angka yang berubah. Yang berkurang hanya jumlah seat yang tersisa, pastinya. Dan jadwal libur saya tak kunjung keluar.

Sementara, Bapak saya makin ke sini makin sering tanya apa saya sudah dapat tiket mudik atau belum. Naik bus atau travel? saya tak mau ambil risiko macet dua hari di jalan. Maka, setelah jadwal keluar dan cuti saya ambil, bukan lagi soal uang yang saya pikir. Pada akhirnya naik apapun pokoknya saya harus pulang lebih lama lebaran ini.

Lucu kalau dipikir-pikir. Tuhan, karena saya percaya Dia ada, selalu punya cara untuk menegur saya kalau saya lupa bersyukur. Dulu sekali saya hampir tak suka dengan momen lebaran. Lebaran versi saya sebelumnya, ibarat euforia tanpa batas. Lupa diri. Pemborosan. Dan ini adalah momen di mana akhirnya kedok seorang agamawan yang kagetan terbongkar dengan sendirinya.

Lebaran itu tidak beda dengan Valentine. Kalau pada perayaan 14 Februari orang tiba-tiba jual murah kasih sayang. Di 1 Syawal orang jual murah kata maaf.

Untuk yang satu ini sangat sulit saya lakukan. Hingga pada akhirnya lebaran adalah momen yang paling saya takuti. Lebay? Nggak. Saya serius. Saya takut.

Bayangan saya adalah saya harus minta maaf ke banya korang. Entah kenal atau tidak. Entah saya ingat apa salah saya atau tidak. Sehingga, saya lebih sering berpikir, maaf untuk apa? Minta maaf untuk sesuatu yang kita tidak tahu, apa itu pantas disebut permintaan maaf?

Lebih menakutkan lagi ketika saya sadar salah saya tak bisa disebutkan saking banyaknya. Ini lebih untuk orang tua saya. Minta maaf ke mereka rasanya sangat berat, sehingga kadang yang keluar bukan dari mulut tapi dari ujung mata.

Sekarang saya dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya dulu saya harapkan. Saya punya alasan untuk tak datang saat lebaran. Tapi apa? sekarang saya kekeuh ingin pulang saat lebaran. 

Jadi ingat, tahun lalu saya hanya diberi jatah tiga hari dan Solat Ied sendirian di tengah Kota Bandung dan masih disambi liputan. Sekarang? saya mau merasakan lagi hari-hari menjelang lebaran sampai setelah lebaran di rumah. Di Jogja, dengan keluarga dan mungkin orang-orang yang bahkan tidak saya kenal. Siapa peduli? yang penting saya pulang.





#Sumber gambar dari sini

Monday, May 18, 2015

Gerrard Si Pemberani




Steven Gerrard, dalam 17 tahun berkarier di sepakbola hanya bermain untuk satu klub, Liverpool. Setelah pertandingan kandang terakhirnya untuk klub melawan Crystal Palace (16/5) ia pun mengucapkan selamat tinggal.

Gegap gempita sambutan penonton mengantar pemain berusia 34 tahun itu pada penampilannya yang ke-709 bagi The Reds. Spanduk penghormatan pun dibentangkan di tribun penonton oleh para pendukung. Para pemain Liverpool mengenakan jersey bernomor 8 dengan nama Gerrard sebagai ucapan perpisahan.

Sang kapten memang mengakhiri kariernya di Anfield dalam suasana emosional. Melihat ke belakang pada 17 tahun bersama Liverpool, ia mengaku bangga. Gerrard berjanji tak akan pernah melupakan peristiwa kali ini.

"Suatu pelepasan yang sulit dipercaya," ungkapnya kepada BBC Sport.

Baru-baru ini saya dihadapkan pada kategori yang sama dengan apa yang dihadapi Steven Gerrard. Saya, relasi, dan perpisahan. Tiga kata kunci yang kombinasinya paling tidak saya sukai.

Lagi-lagi soal perpisahan. Kata itu selalu mengundang segala perasaan negatif. Perasaan yang akan ada jika ada lebih dari satu yang saling terhubung, yang kemudian mereka saling tercerai karena suatu hal.

Gerrard punya 17 tahun untuk membangun relasi. Ia hanya butuh 90 menit waktu pertandingan di Anfield untuk merasakan beratnya berpisah. Tidak sampai dua jam ia merasakan saat terakhir dirinya tak lagi menjadi bagian dari Stadion di Liverpool itu.

Bagaimana rasanya?

Yang jelas Gerrard adalah orang paling berani yang pernah saya tahu. Maka kepergiannya pun dihormati dengan gempita yang hebat. Di saat semua rekannya sibuk menandatangani kesepakatan kontrak dengan klub ini itu, dia menyatakan diri ingin terus bermain bagi Liverpool.

Saya tak seberani itu. Kini sudah setahun saya di tempat kerja ini. Saya belum merasa takut karena saya berusaha untuk tidak punya keterikatan apapun. Maksud saya di dalam hati. Di media ini, saya hanya mencari makan dan berlatih menulis. Titik.

Tapi di sini, di kos ini, saya baru delapan bulan. Mungkin. Saya tidak yakin, yang jelas baru hitungan bulan. Dan saya sudah merasa ketakutan. Saya sudah jauh terhanyut.

Ada yang menganggap saya bukan lagi hanya seorang teman. Katanya saya sudah seperti keluarga. Delapan bulan, dan sudah menganggap saya sejauh itu. Jika dibandingkan Gerrard yang sudah 17 tahun dan hanya butuh 90 menit untuk menyatakan selamat tinggal, berapa detik yang saya butuhkan?

Oke mungkin itu agak berlebihan. Tapi relasi itu bagi saya ibarat menarik ke arah yang berlawan sehelai rambut yang sudah terbelah dua sebelumnya. Begitu tipis, begitu rapuh, begitu mudah di patahkan.

Jadi, tidak mempunyai hubungan akan sangat aman, tapi tentunya itu tidak mungkin. Maka menjaga hubungan agar tetap "biasa" itu lah yang saya cari. Dan kelakukan saya kalau sudah begini adalah: menarik diri.

Biasanya saya akan mundur sebentar. Mengurai ikatan yang menurut saya sudah terlampau kuat. Mengendurkannya kembali untuk menjadikannya lebih mudah ditata.

Bilang lah saya pengecut. Tapi coba pikir kembali, semua makhluk hidup punya pertahanan diri terhadap predatornya masing-masing. Dan ini lah cara saya. Saya suka perasaan bebas tanpa tanggungan apa pun.

Saat ini tanda-tanda itu mulai terlihat. Di saat perilaku teman-teman saya mempengaruhi perasaan saya, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu di mana makin banyak yang bercerita soal relasinya masing-masing dengan kenalan masing-masing,  maka sudah waktunya saya mengulur tali ralasi ini. Menjadi natural dan tak terlalu berbelit...

Hhhhmmmmm......

Baiklah.... Baiklahhh...Ini gunanya menulis kan? Ibarat meditasi. Introspeksi lalu mengikhlaskan emosi.

Setelah paragraf terakhir tadi selesai ditulis agaknya saya akan menyesal jika itu saya lakukan. Itu dulu saya lakukan. Sekarang saya harus menekankan diri untuk tidak begitu lagi.  Saya akan berani seperti Gerrard. Hahahahah..... ^_^



#Sedikit modifikasi dari paragraf awal yang juga saya tulis berita di Republika
*
Dapat gambar dari sini

Wednesday, May 13, 2015

Maaf Menyela, Karena Ini Mengganggu...

Langsung saja, saya benci perpisahan. Dan kebencian membuat saya memandangnya seperti musuh. Kepada musuh saya punya cara untuk melindungi diri. Saya menghindari relasi.

Saya ingat, ketika KKN dulu, dua teman paling menyebalkan yang pernah saya kenal menertawakan saya hanya karena saya tidak menangis. Saya adalah satu-satunya mahasiswa KKN perempuan yang tidak menangis ketika pamit dengan warga di desa tempat saya bertugas. Saya tidak bangga. Jujur saja. Saya merasa aneh. Dan semakin aneh ketika dua orang "brengsek" itu malah tertawa. 

Ketika semua orang berpelukan, dan menyeka pipi yang basah, saya hanya berdiri, sendiri di luar kerumunan dan merasa canggung. Apa saya sudah berlaku tidak sopan karena tidak menangis?

Dua teman itu terus tertawa dan meledek. Tapi begini lah saya. Dari awal datang ke sana saya mungkin menjadi satu-satunya orang yang tidak berusaha dekat dengan warga. Hanya kenal, tapi tidak dekat. Saya selalu membawa batas di depan tubuh saya ketika berkenalan dengan orang baru.

Dan hari ini, saya lagi-lagi diliputi perasaan canggung karena harus kembali berpisah. Ini bukan model perpisahan yang mendadak. Saya sudah tahu sejak sebulan belakangan. Teman saya akhirnya pindah. Tidak lagi satu kantor, tidak lagi satu kos, dan tidak lagi satu kamar.

Saya tidak pernah berusaha mengendalikan perasaan. Maka, ini lah saya. Tapi mungkin sebut saja saya teman paling lempeng yang pernah ada. Maaf soal ini. Semoga saja tidak. Tapi maaf. 


Saya tahu, saya pasti menyebalkan ketika teman saya itu cerita mau pindah kos besok, saya cuma bilang "oh, oke". Saya tahu, saya pasti nggak disukai karena saya malah cengengesan waktu dia nangis dan minta maaf pada kami jika dia punya salah selama ini. Saya tahu, pasti saya akan dibilang bukan teman yang perhatian karena saya hampir tidak pernah bertanya mau kemana dia setelah ini.

Jika ini terbaca, saya sih berharap kalau teman saya itu tidak berpikir bahwa dia satu-satunya orang yang saya perlakukan begitu. Saya sih berharap dia tidak punya pikiran aneh-aneh menyangka kalau saya benci dia. Saya hanya membenci relasi, saya benci terlalu terjerumus dalam relasi, karena relasi mengizinkan saya untuk merasakan perpisahan. Itu saja.

Monday, May 4, 2015

Sebuah Keluarga dari Atas

Gambar nyomot dari sini


"Ini Budi. Ini ibu Budi."

Dari lantai atas, saya mendengar Ais mengeja sepatah dua patah kata dengan cukup lancar. Dipandu si mama, Ais mulai lancar membaca.

Kalau dipikir-pikir, Ibu dan anak ini hubungannya tidak jauh beda dengan suasana hati saya. Kadang  manis, kadang ganas. Si mama bisa tertawa renyah ketika anaknya yang masih duduk di bangku TK itu melakukan hal konyol khas anak kecil. Tapi si mama juga bisa membentak dengan suara memekakkan telinga ketika si anak melakukan kekonyolan lainnya.

Agaknya menjadi Ais harus lah pintar melihat kondisi. Dia tidak boleh "melucu" di saat yang salah. Kalau tidak, bukannya tawa malah begini yang terdengar:

"AIS NGAPAIN SIH?"
"AIS BERISIK BANGET SIH?"

Padahal saat itu Ais lagi nyanyi Let It Go-nya Frozen versi Ais yang saya dengernya kaya nyanyi pakai bahasa di telenovela. Padahal, kalau nggak lagi nyanyi Ais pas itu lagi godain mamanya yang katanya: "Mama, mama tidur mulu sih..?"

Suatu hari pernah begini, kalau tidak salah ingat, Ais lagi libur. Siang hari si mama sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Ais sendirian dan tumben-tumbenan anteng. Tau-tau Ais nyeletuk bilang:

"Mamaaaaa... Ais mau punya pacaaaar!"

Dari atas sini otomatis saya menahan tawa. Aduh, posisi saya memang serba salah. Saya dan lima kawan lainnya adalah penghuni kos-kosan yang letaknya di lantai dua rumah milik keluarga lucu ini. Saya merasa harus pura-pura tidak dengar ketika ada sesuatu yang aneh. Makanya ketika Ais nyeletuk begitu saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak tertawa. Paling tidak jangan sampai tawa saya bisa didengar penguhuni di bawah sana.

Kembali ke Ais yang pengen punya pacar. Teorinya adalah jika anak saya nanti, yang masih kecil begini, tiba-tiba minta pacar, kita pasti akan tanggapi dengan tertawa. Ais.. Ais... Pacar itu apa sih Ais? Pasti Pacar versimu sama Pacar versi mamamu nggak sama kan?

Ini lucu dan wajar mungkin. Kenapa wajar? Lah kalau malam si mama yang sudah bisa santai tanpa pekerjaan rumah itu pasti duduk bersama Ais, Papa, dan Bang Ojan di karpet depan TV dan asik menonton Ganteng-Ganteng Srigala.

Pasti tau kan? Sinetron itu emang bener-bener menjadi kegemaran untuk acara menonton TV bersama keluarga (Angkat sebelah alis). Nggak heran lah... Ais aja sampai hafal Soundtrack lagunya kok. Apalagi yang lain... kikikik.

Nah, begitu Ais minta pacar, tanggapan mama ternyata beda jauh sama tanggapan Risa kalau nanti punya anak.

"Ehhh, apa Ais? Ais masih kecil, nggak boleh pacar-pacaran!"

"Haaa... Ais pokonya mau punya pacar!"

"Kenapa sih Ais? nggak boleh, Ais masih kecil aja udah mikir pacar."

"Haaaaaa..."

"Nggak!"

"Yaudah Ais pacarannya sama cewe kok..."

Tuh kan Ais nggak mikirin pacaran a la emak-emak!

Tambah lah saya nggak tahan buat ketawa kenceng. Ais oh Ais. Memang sih saya juga sering dibikin gregetan sama anak ini. Ais sering naik dan masuk begitu saja tanpa izin ke kamar-kamar kami. Dia juga usil mainin dan minta barang-barang kami. Dia juga berisik suka tanya-tanya tanpa berhentei.

Tapi sungguh percaya lah, Ais anak yang cerdas. Kenakalannya itu nggak harus dihadapi dengan emosi. Malah sebenarnya si mama itu yang kadang bikin emosi.

Suatu hari, di luar sedang hujan deras. Ais merengek minta pergi ke rumah nenek.

"Ais mau ke rumah nenek..!!"

"Ais, itu hujan.."

"Haaa... Ais mau ke rumah nenek!"

"Ais ujan tuh liat! Ais buta ya nggak bisa liat!"

Aduh bu, Anda nggak lucu deh bu. Ya wajar sih kalau si Ais lagi marah jadi nggak ngenakin juga bahasanya, jadi suka susah dibilangin, suka susah mendengarkan omongan orang lain, terutama kalau dia lagi ada maunya.

"Ntar Ais Sumpahin kalo nggak beli!" itu katanya saat minta dibelikan sesuatu oleh si Papa.

Alhasil banyak waktu di pagi dan malam hari, saya lalui dengan bahan dengar semacam ini. Si mama, saya pikir, benar-benar pembunuh karakter bagi anak-anaknya. Bukan cuma Ais, tapi Abang Ojan juga sering kena damprat. 

Paling mengganggu adalah saat keduanya debat soal prestasi. Prestasi menurut mama itu kalau Ojan bisa masuk SMAN 28, sama kaya Abang tertuanya, Abang Faisal. Prestasi menurut kamus Mama itu berarti nilai pelajaran yang bagus. Padahal selama ini Ojan lebih sering dapat penghargaan di bidang seni dan olahraga. Terbukti piala yang membludag itu kebanyakan disumbang oleh anak kedua itu yang sepertinya cukup fasih dalam dua bidang tadi.

"Siapa bilang saya nggak berprestasi, itu buktinya piala saya banyak banget!" kata Ojan suatu hari.

"Yeee... Buktiin kamu bisa kaya abang masuk SMA 28. Prestasi itu pelajaran!" Si Mama balas berteriak dengan suara melengking yang menyebalkan.

Saat itu tidak ada yang perlu saya tahan. Saya hanya diam, mendengarkan, sekaligus bersyukur. Betapa orang tua saya sungguh menyenangkan, toleran, terbuka, dan yang jelas selalu memberikan saya kebebasan memilih, berpikir, dan berpendapat. Orang tua saya selalu mendukung apa pun yang saya cita-citakan. Mereka selalu membuka diskusi saat mereka tidak setuju dengan prilaku saya.

Mengamati dari atas sini, membuat teori-teori bagaimana mendidik anak dan menjadi orang tua ideal itu seakan menguap bersama kuapan di tengah malam. Jika saja saya tidak pernah kenal orang tua saya, jika saja saya tidak pernah dicekoki teori-teori mendidik anak dari wawancara psikolog dan pembawa acara di suatu acara TV, saya mungkin tidak akan menulis soal ini di sini. Kenyataannya, kebiasaan dari kecil lebih mungkin akan membekas dan diturunkan kepada anak. Setuju?

Sunday, May 3, 2015

Memadatkan Angan-Angan

Angan-angan itu ternyata nggak pernah cuma jadi udara. Apalagi kalau ada usaha yang berusaha memadatkannya jadi kenyataan.

Ini sudah Bulan Mei. Februari tahun lalu saya datang ke kota berlambang Monas ini untuk memadatkan angan-angan saya.

Setelah lulus dan diwisuda menjadi seorang Sarjana Sastra, yang sebenarnya saya bukan mantan mahasiswa sastra sama sekali melainkan Arkeologi, saya hanya punya bayangan sedikit soal karir saya nanti. Sedikit itu kalau dihitung-hitung ternyata pilihannya cuma ada tiga, yaitu bekerja di Museum, menjadi penulis, atau menjadi seorang jurnalis.

Pilihan pertama untuk bekerja di museum akhirnya saya tangguhkan dari deretan cita-cita saya. Bukan dicoret, hanya ditangguhkan. Kenapa? banyak alasannya, yang jelas saya nggak cocok dengan sistem kerja permuseuman di Indonesia saat ini.

Menjadi penulis? penulis saja tanpa embel-embel instansi maksud saya di sini atau sebut lah penulis lepas. Jujur saja saya nggak merasa sehebat itu untuk bisa menyebut diri sebagai penulis independen. Saya pemalas, moody, dan hey saya memang nggak sehebat itu. Hahahaha.

Maka, saya memberanikan diri menjadi penggombal tangguh yang pantang menyerah mengirimkan berkali-kali surat lamaran pekerjaan ke kantor media di mana pun di Indonesia. Prinsip saya, saya nggak peduli di mana itu saya harus bekerja karena saya suka. Jurnalis, pikir saya lagi, adalah wujud profesi lainnya yang bisa mendukung keinginan saya untuk menjadi penulis.

Kalau dipikir-pikir saya benar-benar nggak punya pengalaman sama sekali dengan dunia ini. Jadi wajar lah kalau gombalan saya itu nyatanya nggak ngefek. Tapi akhirnya, setelah berkali-kali tidak ditanggapi, panggilan itu datang. Agak bangga karena yang memanggil salah satu koran nasional terbesar di Indonesia.

Sesuai bayangan saya, pekerjaan ini memaksa keluar semua keberanian yang ada di dalam diri saya. Satu tahun saya "dipaksa" berhadapan dengan orang-orang yang tidak terbayangkan dan bertanya soal macam-macam yang akhirnya bikin saya jadi ekstra kepo! Malah sedikit rese' karena mau tau aja urusan orang.

Setahun berlalu. Masa-masa menjadi calon reporter selesai begitu Bulan Februari di tahun ini berakhir. Saya sudah resmi bisa menyebut diri seorang jurnalis. Saya punya kartu pers. Saya punya kartu nama dengan nama diri dan nomor telpon pribadi.

Tapi sebenernya itu nggak penting. Menjadi reporter, untuk saya pribadi bukan lah embel-embel kata "Journalist" dalam kartu nama. Saya merasa pekerjaan saya ini justru penuh risiko.

Dengan tulisan seorang reporter, masyarakat bukan hanya diberitahu tentang kebenaran tapi bisa juga kebohongan. Banyak kejadian justru membuat saya merasa bersalah. Bersalah karena pekerjaan ini juga tidak jauh dari muslihat. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa kebenaran itu diciptakan bukan diceritakan.

Perjalanan setahun yang sudah lebih tiga bulan ini, meski belum lama, sudah membuat saya bisa banyak berpikir bahwa betapa pun kita berusaha independen, kita tetap berada dalam satu sistem maha besar yang saling terkait. Jadi, selama itu masih bisa dihindari, hindari saja. Jika sulit untuk dihindari, yakin lah masih ada kekuatan dahsyat yang pasti akan membantu. Kekuatan yang sama yang bisa memadatkan angan-angan menjadi kenyataan.