Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, March 14, 2017

Lagi-Lagi Soal Pelecehan Seksual




Saya lupa awalnya bagaimana, tapi tiba-tiba pembicaraan soal pelecehan seksual muncul di salah satu grup chat saya. Kemudian ada yang mengajukan pertanyaan atau lebih tepatnya semacam polling mengenai apa sih yang menyebabkan terjadinya pelecehan secara seksual?

Ada yang nyeletuk karena hasrat seksual tidak terkendali. Ada yang bilang itu karena adanya kesempatan, kondisi sepi, atau keadaan masyarakat yang renggang. Ada juga yang berpendapat itu karena rasa superioritas. Di antara banyak pendapat itu ada satu yang mengganggu saya. Dia mengaku miris melihat perempuan dengan hot pants yang buka dikit joss (ini istilah dia).

“Kesempatan dan niat memang. Saya pribadi, kalau masuk mal, lihat begituan, kalau ada kesempatan, pengen saya bilangin: ‘kasian orang-orang lain, kulit dan tubuh mulusmu jangan kau umbar, karena yang kena bukan kamu, tapi orang lain, yang kebetulan berposisi lemah’. Soal ilmiah, penelitian macem-macem itu kan cuma omong kosong. Buktinya masih banyak orang yang melakukan kekerasan seksual,” begitu kemudian lengkapnya dia menambahkan pendapatnya.

Oke. Saya akui saya cukup, atau bahkan sangat sensitif dengan pembicaraan soal begini. Tapi kalau di depan orang yang tidak begitu kenal, saya lebih memilih menahan diri dan tidak ikut komentar karena takut saya bisa berapi-api di depan dia.

Cuma begini, saya menangkap argumen itu sedang menempatkan laki-laki sebagai korban. Laki-laki itu lemah sehingga pasif dalam menanggapi “serangan” perempuan berbaju mini. Dan jangan salahkan laki-laki kalau mereka tiba-tiba hilang kesadaran, gelap mata, seperti orang kesurupan, atau khilaf bahasa umumnya, kemudian menyerang perempuan berbaju mini tadi. Kadang tanpa sadar (atau sengaja sih?) banyak orang menempatkan laki-laki semacam makhluk barbar yang otaknya berada di selangkangan. Bukankah ini juga pelecehan untuk laki-laki?

Saya cukup sering mendengar pembenaran seperti, laki-laki nafsu melihat tubuh perempuan itu wajar. Itu sifat alami mereka. Jadi jika mereka mencolek payudara perempuan itu karena terbawa naluri. Sudah alami mereka bersikap begitu. Apa konsekuensinya? Ya sudah tidak bisa disalahkan. Makanya perempuan saja yang harus diperbaiki. Bungkus rapat-rapat lah tubuh perempuan kalau tidak mau tiba-tiba diterkam laki-laki di pinggir jalan. Perempuan harus jaga diri, karena banyak laki-laki yang gagal menahan nafsunya!

Emang beneran begitu apa? Dulu waktu saya duduk di kelas 6 SD, saya belum mengenakan jilbab. Tapi saya ingat saya pakai kaus hitam lengan panjang yang tertutup sampai di bawah batas leher dan celana jeans panjang sampai mata kaki.

Waktu itu siang hari. Kondisi memang sepi, karena kami bertiga, saya dan dua kawan perempuan saya iseng jalan-jalan ke belakang areal masjid yang masih berupa kebun. Dari arah berlawanan ada seorang bapak, sudah agak tua, berjalan ke arah kami. Saya kaget karena si bapak tiba-tiba meremas payudara sebelah kanan saya. Saya takut, tapi saya tidak lari. Kalau lari kedua teman saya pasti akan bertanya dan saya malu jika harus menjelaskan. Maka saya juga tidak teriak.

Kejadian berikutnya waktu saya SMP. Itu terjadi di angkot yang membawa saya pulang dari sekolah. Angkot berhenti untuk mengangkut seorang bapak, yang juga tak lagi muda. Bapak itu duduk di sebelah kanan saya. Angkot yang terisi penuh membuat si bapak makin mepet duduknya di sebelah saya. Saya yang saat itu cuek dan terus ngobrol dengan teman di depan saya, tidak sadar sejak kapan rasanya ada tangan masuk ke saku rok sebelah kanan. Tangan itu tidak bergerak. Cuma diam di sana sambil meraba paha saya. Ketika sadar saya langsung diam. Tidak lagi mood ngobrol. Dan reflek langsung menyikut bapak di sebelah saya itu. Dia sempat menarik tangannya sebentar. Tapi tak lama, karena tangan si bapak kembali masuk saku rok saya. Itu sampai akhirnya penumpang berangsur turun. Saya bisa geser menjauh dan si bapak seperti takut ketahuan karena kami sudah berjarak. Sialnya bapak itu tidak juga turun sampai penumpang hanya tinggal kami berdua di belakang. Rumah saya memang cukup dekat dengan pangkalan angkot, jadi saya cukup sering menjadi satu-satunya penumpang yang tertinggal. Saya sangat bersyukur ketika akhirnya bisa keluar dari angkot itu. Tapi ketika keluar, bapak yang sudah pindah duduk di samping pintu itu tidak diam saja. Di samping telinga saya, dia mengeluarkan bunyi decakan yang membuat saya sangat tidak nyaman.

Untuk ketiga kalinya saya mengalami kejadian serupa. Waktu itu sudah kuliah. Saya sudah pakai jilbab. Kondisi sepi karena saya sedang lari pagi sehabis waktu solat subuh. Saya lari di rute biasanya, jalan raya kompleks. Tidak ada pikiran buruk apapun ketika itu. Saya memang suka lari pagi waktu mobil dan motor belum berseliweran. Tapi pagi itu, tiba-tiba saya merasa ada yang tidak beres. Saya mulai sadar kalau di belakang saya ada suara motor yang berjalan pelan seperti mengikuti. Saya percepat lari saya, motor itu tetap terus menjaga posisi, persis di belakang saya. 

Bohong kalau bilang saya tidak takut. Apalagi tidak ada orang di sekitar situ. Tiba-tiba orang itu, dari arah belakang, menjulurkan tangannya dan meremas pantat saya lengkap dengan seruan tidak mengenakkan dari mulutnya, sambil tancap gas. Saya marah, kaget, sekaligus bingung. Mata saya belingsatan mencari batu besar yang mungkin bisa saya lempar dan mampu memecahkan kepalanya seketika. Karena tidak ketemu juga, saya cuma bisa meneriakinya dengan semua makian yang melintas di otak saya.

Pagi itu, lari pagi saya tidak sampai setengah jam. Saya langsung lari pulang. Butuh waktu lama untuk akhirnya saya berani lari pagi sendirian lagi. Bahkan sampai sekarang saya suka merasa gelisah jika mendengar suara motor yang berjalan pelan di belakang saya. Amarah itu pun masih ada. Bahkan ketika menuliskan cerita ini saya masih sangat menyesal kenapa di sekitar saya tidak ada benda yang bisa membuat orang itu mati di tempat.

Itu juga yang membuat saya tidak bisa tidak marah ketika ada seseorang yang malah menyalahkan busana perempuan ketika mereka adalah korban. Coba tunjukkan pakaian saya yang mana yang salah sehingga membuat saya PANTAS dilecehkan? Atau apa? Saya salah karena saya hanya diam? Tidak teriak? Atau saya salah karena saya yang perempuan ini jalan-jalan di tempat sepi atau saya salah besar karena lari pagi sendirian? Saya tidak cukup terampil menjaga diri dan hanya memancing orang berbuat mesum pada saya? Saya salah karena saya tidak segera turun dari angkot ketika tahu paha saya diraba? Atau saya salah karena saya kan bisa saja minta tukar posisi duduk dengan teman saya. Begitu?

Kadang saya berpikir, mungkin kah lebih mudah berpikir untuk mengatur perempuan, baik dalam berpakaian maupun bertindak dibanding memikirkan cara mengatur nafsu untuk berbuat mesum. Apapun alasannya, perilaku mendobrak privasi orang lain itu sudah salah. Logika membenarkan itu. Apakah ketika kemalingan, yang dipenjara yang punya rumah? Apakah ketika dijambret yang dihukum yang dijambret? Ini logika darimana?

Ketika teman saya di grup itu mengaku cukup miris melihat perempuan memakai pakaian mini yang dinilai bisa menggerakkan naluri laki-laki, saya justru miris ketika orang beramai-ramai membenarkan alasan ini, bahkan di TV. Korban pelecehan ini sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah dirugikan karena tubuhnya dijamah tanpa izin, masih harus menanggung malu dan disalahkan semua orang.

Saya cukup kecewa, karena pikiran ini bukan hanya menjangkiti laki-laki. Bahkan sesama perempuan juga banyak yang lebih dulu mencari “kesalahan” si korban pelecehan dibanding mendengarkan ungkapan ketakutan dan rasa malu korban setelah dilecehkan.

“Etapi dianya kan emang bukannya suka gitu ya sama cowo. Itu sih gue bilang emang dari cewenya dulu sih. Kalau cewenya nggak ngasih kesempatan ya nggak bakalan jadi,” begitu kata salah satu teman perempuan saya sewatu saat ketika menanggapi kasus pelecehan yang pernah terjadi di sekitar kami.


Saya cuma diam. Malas menanggapi. Saya cukup tahu teman saya ini sudah lebih dulu diyakinkan lingkungannya untuk mempercayai hal-hal semacam itu. Saya malas berdebat. Dengannya, saya berjanji pada diri sendiri, tidak akan lagi membahas hal semacam ini atau saya bisa-bisa malah menjauh darinya dan malas berteman dengannya lagi. 



*) gambar dari sini

Monday, October 10, 2016

Tenang!! Jalan Hidup Perempuan Sudah Ditentukan Sejak Kelaminnya Terlihat




Suatu sore saya menyadari, rupanya saya bisa mengendarai motor tanpa tersesat dengan tidak benar-benar fokus mengendalikan kemudi. Padahal sebagian besar otak saya hanya melamun memikirkan film mana yang akan saya tonton malam nanti, tapi saya masih bisa sampai kos tanpa salah memilih jalan. Seolah tangan saya tau ke mana membelokan motor tanpa diperintah si otak.

Rutinitas pulang-pergi, membuat tubuh saya hafal dengan jalur perjalanan yang akan saya tempuh. Hal yang sama terjadi pada hidup saya beberapa tahun terakhir. Rasanya saya mulai disusupi patokan hidup mainstream dengan urutan sekolah, kuliah, kerja, lalu menikah, punya anak, cucu, dan mati. Jika benar-benar dipikirkan, saya hanya bisa menjawab film apa yang akan saya tonton malam nanti. Sejauh itu lah perencanaan saya. Bagaimana kehidupan saya selanjutnya setelah dari sini? Ya sudah lah jalani saja.

Tapi banyak orang bilang, saya memang suka mempersulit sesuatu yang sebenarnya mudah. Katanya, saya selalu suka terlalu banyak berpikir, karena menurut mereka jalan hidup saya mudah. Beberapa dari mereka sering kali sudah membantu saya dengan statement seperti ini: "yaelah ris ngapain sekolah tinggi-tinggi, cewe ujung-ujungnya di dapur". Orang-orang itu memang lebih tau masa depan saya dibanding diri saya sendiri. Terimakasih.

Dengan saran itu, pilihan hidup saya sudah ditentukan tanpa benar-benar dipikirkan. Oh mungkin malah sudah ditentukan sejak dokter yang membantu persalinan ibu saya berkata: "Selamat bu, anak ibu perempuan."

Kalau memang begitu sih memang jadi mudah ya. Saya tak lagi harus ribet mengumpulkan uang, tidak perlu ribet hidup jauh dari orang tua, tidak usah ribet mikirin soal investasi, tabungan, bla bla bla, buat apa toh saya nanti hanya akan berkutat di dapur. Enteng banget memang jadi perempuan. Cuma di dapur.

Hahaha. Nada mendiskreditkan soal dapur memperlihatkan banyak orang tidak benar-benar menyadari apa saja yang terjadi di dapur. Mereka tidak sadar semua benda di dapur itu bisa jadi senjata. Kapanpun kamu bisa berdarah, kena luka bakar, atau mati berkeping-keping karena tidak tau cara pasang klep gas tabung. Dan semua itu butuh otak untuk bisa menghindar dari bahaya.

Hidup sebagai anak kos juga membuat semakin sadar, tiap pagi otak selalu bekerja dengan pertanyaan: mau makan apa hari ini? Dan saya yakin kebingungan ini juga yang pasti dirasakan ibu-ibu di rumah yang kerjanya CUMA DI DAPUR. Bekerja dengan otak, harus hati-hati menyiapkan makanan enak untuk suami dan anak-anaknya yang hanya mampu protes "kok cuma ini doang makannya", "kok kurang asin?", "kok masak ini lagi? Bosen!". Otak terus berputar, untuk menyiapkan makanan berbeda sekaligus spesial yang cocok dengan lidah suami dan anaknya agar mereka semua bisa betah terus-terusan makan di rumah.

Kemudian ketika ada yang memilih untuk kembali kuliah setelah kuliah s1 nya rampung, omongan itu kembali muncul. Katanya: "tuh makanya perempuan nggak usah tinggi-tinggi sekolahnya ris, entar susah dapet suami, cewe nggak bisa kalau di atas laki-laki, pasti gengsinya kena yang cowonya". Sering denger juga dong pasti omongan macem begini, yekan?

Lalu malangnya konsekuensi dari ucapan itu adalah, kami perempuan takut mengejar karier sesuai cita-cita. Kami takut gaji suami kalah besar dengan gaji kami. Kenapa? karena kami lebih takut perceraian dibanding tidak mendapatkan cita-cita kami.

Oke lah, baik tidak usah bekerja. Tapi kami mau kuliah lagi dong… Beberapa dari kami nyatanya tidak boleh melanjutkan kuliah yang lebih tinggi karena suami tidak memilih melanjutkan s2. Dan itu semua salah, kami, perempuan, kalau si suami tidak mau bekerja lebih keras untuk dapat gaji lebih atau berminat melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Jadi kata siapa perempuan selalu benar? Haha. Seolah perempuan harus menjaga diri agar “status”-nya tidak melangkahi suami. Itu demi gengsi suami.

Apa sih risa? Penis envy? Nggak kok. Tenanggg.... Saya hanya lelah dengan semakin seringnya saya menangkap omongan semacam ini di sekeliling saya. Terutama dengan keberadaan teman laki-laki yang lebih banyak dalam pekerjaan saya sekarang.

Saya bukan sirik. Saya justru kasian. Mungkin mereka memang tidak mau menerima perubahan di sekelilingnya atau mungkin tidak siap. Saya rasa bukan hal aneh lagi untuk menerima kenyataan kalau perempuan pun punya pilihan hidup yang beragam. Dan kalaupun itu ingin menjadi ibu sepenuhnya, memasak untuk suami dan anaknya, bukan berarti mereka tidak usah pintar. Laki-laki pun saya tau, pasti lebih suka dengan perempuan yang cerdas dibanding yang tidak tau harus berbuat apa-apa terhadap hidupnya.

Ah, mungkin memang pembagian kerja berdasarkan gender itu lebih mudah diatur. Hal semacam ini tidak akan butuh kompromi lebih lama, antara sepasang suami istri, atau pasangan yang akan menikah. Ya karena memang sudah terbiasa melihat yang begitu. Tapi toh jika nanti saya memutuskan untuk tidak lagi bekerja dan fokus menimang anak dan menghadapi bahaya dapur, itu karena pilihan saya. Bukan karena stereotipe yang menulis jalan hidup saya. 

*gambar dari sini

Saturday, August 27, 2016

Di Mana Tanah Air Saya dan Apa itu Nasionalisme?




Baru-baru ini Arsip Nasional RI (ANRI) menggelar pameran di Sarinah, Jakarta Pusat. Yang dipamerkan rata-rata arsip sebelum, ketika, dan setelah kemerdekaan RI. Tujuannya, kata Mustari Irawan yang adalah Kepala Anri itu, untuk memberikan pencerahan nasionalisme kepada masyarakat luas.

Biasa lah, menjelang 17 Agustus si Nasionalisme itu jadi obrolan khalayak. Terus terusan disebut sampai pada puncaknya pas pidato presiden di TV. Setelah itu, masih disebut, mungkin dalam diskusi di café-café yang mengundang wartawan. Setelah itu, seiring dengan semakin habisnya bulan Agustus, orang mulai sembuh dari penyakit kerasukan Nasionalisme.

Tapi sebenarnya siapa itu Nasionalisme? Kalau masih SD dan diajarkan PPKN pasti bisa jawab tanpa ragu. Nasionalisme itu rasa kebangsaan sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka, katanya. Paling tidak secara dogmatis, seseorang memiliki nasionalisme jika berupaya melindungi budaya dari masuknya budaya asing. Kalau secara politis mungkin melawan penindasan hak manusia dari kolonialisme.

Upayanya diawali dengan membentuk identitas nasional. Nama Indonesia salah satunya. Penghuni pulau Jawa, Kalimantan, dan sebagainya itu disatukan dan dilabeli Orang Indonesia. Lalu diberi pelajaran PPKN untuk yakin dengan identitas “saya orang Indonesia”.  Sudah besar harus punya KTP dan bikin passpor kalau mau ke luar negeri karena akan melewati batas negara.

Tapi pernah kah ada yang mejelaskan kenapa orang Batak, orang Baduy, orang Dayak, Orang Sunda, Orang Jawa, orang Bugis, orang Asmat sekarang harus juga mengakui keindonesiaan mereka? Toh sebelumnya mereka punya sistem pemerintahan sendiri, punya wilayah sendiri.

“Kita sekarang memang berbeda, tapi dulu kita satu”. Begitu kata Ery Soedewo, peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Medan. Sebelumnya, ia meneliti awal mula berpisahnya bahasa Gayo dan Karo menjadi dua bahasa yang berbeda dari sudut pandang arkeolinguistik. Bahasa memang menandakan keragaman sekaligus mewakili identitas suku bangsa tertentu.

Dalam sebuah studi arkeologis yang belum ada habisnya itu, sebagian besar kepulauan Indonesia dulunya berbahasa sama, bahasa Austronesia. Tapi dulu juga bukan hanya di kepulauan Indonesia, bahasa ini dipakai orang-orang yang meninggali Madagaskar di ujung barat hingga Kepulauan Paskah di ujung timur Pasifik, dari Taiwan-Mikronesia di batas utara hingga Selandia Baru di batas selatan. Orang-orang penutur Austronesia ini pun tak begitu saja ada di kepulauan Nusantara. Mereka datang dari Taiwan.
Akhirnya diputuskan oleh para ahli, bahwa para pendatang yang bicara dengan bahasa Austronesia itu adalah nenek moyang penduduk Indonesia sekarang. Sampai sekarang juga ada 60 persen penutur Austronesia menghuni Indonesia. Tapi, mereka bukanlah satu-satunya pendatang di Nusantara. Jangan lupakan kedatangan bangsa Arab, India, maupun Eropa.
Bahkan kata Harry Truman Simanjuntak, seorang arkeolog senior yang bermarkas di Puslit Arkenas, sebelumnya paling tidak ada tiga kelompok yang pernah melakukan migrasi besar ke Nusantara. Mereka adalah Australomelanesid, penutur Austro-asiatik, dan penutur Austronesia itu tadi.
Penutur Austro-asiatik datang sekira 4.300 tahun lalu. Selanjutnya adalah penutur Austronesia yang datang pada 4.000 tahun lalu. Sebelum keduanya tiba, di Indonesia sudah tinggal kelompok lainnya, Australomelanesid. Mereka menghuni kira-kira 13.000-5.000 tahun lalu dan hingga sekarang hidup di wilayah Indonesia timur, termasuk di Papua.
Lalu apa? Ya kayanya tidak mungkin melabeli kelompok tertentu sebagai manusia asli Indonesia. Herawati Sudoyo, peneliti biologi molekuler dari Eijkman Intitute, pernah menjelaskan ini dari sudut pandang genetik. Rupanya, hampir semua etnis di Indonesia memiliki gen yang saling bercampur. Di antaranya Alatic, Sino-tibetan, Austro-asiatik, Austronesia, Papua, Dravida, Indo-Eropa, dan Niger-Kongo.
“Nenek moyang penutur Austro-asiatik di Asia Tenggara yang te rungkap dari data genomik menunjukkan adanya migrasi Austronesia ke jalur barat yang bercampur dengan penutur Austro-asiatik dan kemudian menetap di Indonesia barat,” ujarnya.
Misalnya, gen manusia Jawa asli ternyata membawa genetika Austro-asiatik dan Austronesia. Begitu pula manusia etnis Dayak dan manusia di Pulau Sumatra, yang tampak pada etnis Batak Toba dan Batak Karo.
Sementara penduduk asli Pulau Alor, misalnya, membawa genetika Papua. Manusia asli Lembata dan Suku Lamaholot, Flores Timur membawa genetika Papua dengan presentase paling tinggi dan sedikit genetika bangsa penutur Austronesia.
Jadi apa yang menyatukan Indonesia sekarang sehingga orang Dayak, orang Jawa, Orang Batak, dan sebagainya itu bisa bangga menyebut diri: “Kami orang Indonesia”? Dan lantas ketika menyadari bahwa kita semua itu awalnya hanyalah bangsa pendatang maka siapa yang bisa menjelaskan konsep nasionalisme dan tanah air?
Yang jelas Indonesia bukan milik siapapun. Konsep dijajah dan menjajah itu juga lebih mirip sikap adaptasi berjuang untuk mempertahankan diri di tengah perubahan yang datang. Artinya kita yang hidup sampai sekarang, mau itu ras apapun, sama-sama termasuk kelompok yang bertahan menghuni Indonesia. Rasanya saya bakal setuju sama omongan kalau pribumi itu sikap, bukan darah.
Ya jadinya kalau saya sekarang dicekokin dengan bahasan nasionalisme saya akan mati gaya. Konsep nasionalisme rasanya tidak sesimpel waktu SD dulu.

Kalau saya sih jika ditanya, saya akan tegas dan lugas bilang: Saya orang Jawa, lahir di Yogyakarta, besar di Bekasi, jadi maafkan bahasa Jawa saya yang campur aduk dengan gue-elo, meski bapak ibu saya asli orang Jogja.

Ya mudah-mudahan dimaafkan. Toh pada dasarnya percampuran budaya juga tidak bisa dihindari. Kalau ada temanmu yang lebih suka film-film Korea atau nyanyi-nyanyi lagu Suju dengan bahasa yang nggak kamu mengerti, jangan khawatir. Dia bukannya tidak cinta ibu bapaknya yang bukan orang Korea. Mencampurkan nasionalisme, keindonesiaan, dan selera musik, fashion, atau film itu terlalu absurd. Toh Indonesia itu memang bhineka dari dulunya. Sekarang hanya bertambah bhineka saja karena memang jamannya sudah semakin terbuka. Dulu budaya luar dibawa ke mana-mana cuma bisa pakai perahu cadik atau jalan kaki. Sekarang kan sudah ada pesawat, mobil, internet, satelit, bla bla bla… Kecuali kamu mengasingkan diri di hutan terlarangnya Suku Baduy, atau di pelosok terdalam hutan Papua yang mungkin belum terjamah sampai sekarang. Tapi mungkin karena dulu saya lahir di Jogja, sekarang saya bisa bilang kan kalau Jogja itu tanah air saya?

*Gambar dari sini



Thursday, April 7, 2016

Teori Evolusi, Kebahagiaan, dan Simbiosis Mutualisme




Sebenarnya apa itu kebahagiaan? Banyak yang bilang kebahagiaan itu kita sendiri yang buat. Kebahagiaan itu seperti rezeki. Kita dapat sesuai dengan yang kita usahakan. Maka artinya, tidak salah jika setiap orang akan dapat kadar yang berbeda. Malah mungkin ada yang miskin kebahagiaan.

Tapi pasti ada yang mendebat, orang miskin pun bukan tidak berusaha untuk menjadi tidak miskin. Tuhan cukup punya andil menetukan mana yang beruntung dan tidak.

Ah keberuntungan... manusia itu apa dibanding jagad semesta? Jika tidak hati-hati, ada batu di depan kita pun bisa jatuh dan terluka. Jadi, terbuat dari apa kebahagiaan itu?

Dua hari yang lalu, saya dikejutkan berita duka. Kenalan saya mati bunuh diri. Dia pilih menjerat lehernya dengan tali. Jasadnya ditemukan di tengah hutan. Banyak yang tidak percaya. Bahkan mendebat, karena berita lain menyebut dia meninggal dalam kecelakaan.

Saya memang tidak begitu mengenal orang ini. Saya hanya tahu dia melalui cerita teman-teman saya. Sesekali ketemu dia di kantin kampus. Itu pun sudah dulu sekali. Dan cuma dari cerita mulut ke mulut, saya tahu ternyata dulu dia tidak lulus kuliah karena DO.

"Kata (menyebut nama seorang dosen), dia udah lama depresi dan masalahnya berat," ucap teman saya baru-baru ini.

Di luar itu, kemungkinan bahwa seseorang memilih untuk tidak hidup dengan sengaja, apalagi dia ada di dalam lingkaran relasi sosial saya, membuat saya tidak bisa merasa nyaman. Rasanya banyak pertanyaan mendadak jadi seperti makin keras bergema di kuping.

Kenapa? Sampai separah apa hidup ini sampai seseorang bisa berkata "cukup"? Sudah merasa cukup kah kesempatan baginya, sehingga dia tidak lagi butuh memperpanjang pencariannya di dunia? Atau justru dia tidak berhasil menemukan apa yang dia cari, sehingga mencari di luar dunia ini? Apa yang dicari? Kebahagiaan kah? Ataukah dia bukan sebagian dari mereka yang "beruntung", yang bisa menemukan kebahagian di dunia?

Dari pembicaraan dengan dosen itu, kata teman saya, si dosen langsung mengkaitkan fenomena bunuh diri dengan faktor genetik. Sang dosen agaknya salah seorang yang percaya faktor keturunan bisa mempengaruhi dorongan seseorang untuk bunuh diri.

"Kemungkinan dulu ada anggota keluarga yang juga bunuh diri, dan itu secara genetis menurun, sama kaya penyakit mental," lanjut si teman saya, menceritakan omongan sang dosen.

Teman saya itu melanjutkan, si dosen di depan kelas menyampaikan, ketahanan seseorang dalam menghadapi tekanan atau stress itu bukan hanya dipengaruhi lingkungan. Genetik juga berpengaruh. Itu dengan catatan, faktor keturunan ini tidak berarti keturunan langsung. Faktor ketahanan terhadap stress ini bisa berpengaruh loncat ke beberapa generasi selanjutnya.

"Ada yang masalahnya kelihatan sepele bagi orang lain, tapi buat dia berat banget. Ada juga yang masalahnya berat, tapi dia tenang aja ngadepinnya," kata dia lagi.

Sebentar, jangan dulu didebat. Coba berimajinasi. Perkembangan genetis terus berlangsung selama proses kehidupan masih terjadi. Lebih jauh, penganut teori evolusi percaya, sampai sekarang manusia itu masih terus berevolusi. Mungkin proses ini nggak akan pernah berhenti selama dunia masih ada sebagai habitat yang membuat manusia dan makhluk hidup lainnya harus beradaptasi.

Contoh paling dekat, yang paling mudah diamati adalah gigi graham manusia yang paling ujung atau sering disebut gigi bungsu. Atau kalau orang-orang kedokteran gigi dan atropolog ragawi menyebutnya dengan istilah molar ketiga.

Saya ingat waktu kuliah paleoantropologi dan bioarkeologi, dosen saya menjelaskan kenapa sampai sekarang molar ketiga suka bikin masalah. Antara malu-malu tapi mau buat tumbuh. Kadang bisa sampai sakit ketika si molar ketiga mau nongol. Kasus saya malah pernah sampai berdarah-darah.

Jadi, singkatnya, kata dia, ini tanda proses evolusi masih berjalan. Dulu, manusia purba mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan dalam jumlah besar. Pola diet itu tentunya butuh perangkat ekstra supaya proses mengunyah menjadi lebih mudah. Sekarang yang terjadi adalah tulang rahang manusia semakin pendek. Keberadaan molar ketiga pun jadi tidak begitu dibutuhkan. Malah posisinya justru menyulitkan, sering menjadi sarang penumpukan makanan yang membuat gigi berlubang. Banyak dokter gigi menyarankan untuk mencabut saja si gigi bungsu.

Kembali ke masalah perilaku bunuh diri juga dipengaruhi faktor genetik. Dalam proses evolusi, yang berubah mungkin tidak hanya fisik. Tapi secara psikologis juga "dites" dalam kemampuannya beradaptasi. Kalau tidak kuat berhadapan dengan lingkungan, maka depresi lah dia dan lebih jauh bisa sampai bunuh diri.

Konsekuensinya adalah, bagi yang memiliki faktor genetis, potensi bunuh diri itu tidak mudah "disembuhkan". Tidak bisa diobati hanya bisa diredam gejalanya. Sama seperti penyakit-penyakit turunan lainnya. 

Hmmm...Entah lah. Saya hanya berandai-andai loh. Tapi karena penasaran saya coba googling. Laman the Telegraph pernah menurunkan artikel yang berjudul "Suicidal Tendencies 'May Be Genetic'" pada tahun 2010. Berdasarkan penelitian yang dikepalai oleh Dr. Martin Kohli, dari the John P Hussman Institute for Human  Genomics di Miami, Amerika Serikat, memang menunjukkan adanya kecendrungan bunuh diri pada satu garis keturunan.

"Bunuh diri ternyata dapat diturunkan dalam sebuah keluarga," katanya.

Penelitiannya dilakukan terhadap 394 partisipan yang depresi. Di antaranya, 113 partisipan sudah melakukan bunuh diri. DNA mereka kemudian dibandingkan dengan 366 orang sehat.

Dari situ, terdapat lima perubahan genetik yang sama pada individu dengan riwayat keluarga yang pernah mencoba bunuh diri dan sudah melakukan bunuh diri. Namanya gen Nucleotide Polumorphisms (SNPs). Dia yang mempengaruhi keinginan seseorang untuk bunuh diri. varian itu akan mempengaruhi dua gen yang berhubungan dengan formasi sel saraf dan pertumbuhan dalam otak. Gen ini, jika dimiliki seseorang, dia akan berisiko 4,5 kali lipat besarnya mengalami percobaan bunuh diri.

"Bunuh diri dan usaha bunuh diri dapat diwariskan dengan adanya kesamaan fenotip dalam satu garis keturunan. Tapi risiko bunuh diri genetik ini berbeda dengan bunuh diri karena gangguan kejiwaan," katanya dalam Journal Archives of General Psychiatry yang telah dipublikasikan.

Artinya, jika diasumsikan yang memacu fungsi gen itu depresi, maka mereka yang membawa gen SNPs ini semacam gagal mencerna bibit-bibit rasa bahagia dari lingkungannya. Sama seperti nenek moyang jerapah, kata Darwin, ada yang berleher pendek, dan ada yang panjang. Ketika terjadi kekeringan jerapah berleher pendek tidak mampu menjangkau daun-daun yang ada di ketinggian. Akhirnya mereka terseleksi dan punah.

Begitu? entah. Lagi-lagi saya cuma berandai-andai...

Tapi soal kejiwaan ini bukan bersifat pasif seperti jerapah berleher pendek. Setidaknya itu yang di ungkap oleh seorang kolomnis, Mike Snelle. Dalam tulisannya di laman Telegraph (24/02/2015), ia menyadari, setelah melakukan beberapa penelitian, dorongan bunuh diri karena genetis tidak benar-benar genetis. Bukan berarti jika disebut genetis, itu tidak terelakan dan tidak bisa diubah sama sekali.

Genetik yang dimaksud dalam konteks ini adalah, ada kontribusi genetis dalam cara seseorang merespon lingkungan mereka. Memang itu menunjukkan kecendrungan untuk perilaku tertentu.

"Tidak ada keniscayaan tentang hal itu. Tidak ada perilaku yang lepas dari lingkungannya," ujarnya.

Namun, katanya, jika depresi adalah cara pikiran memberitahu ada sesuatu yang salah di lingkungan, artinya kasus bunuh diri memberitahu kita, ada sesuatu yang salah dalam masyarakat kita. "Ini adalah indikator kita perlu bertanya beberapa pertanyaan serius soal lingkungan sosial kita, tidak bisa tidak," tegasnya.

Artinya, jika boleh saya simpulkan, bunuh diri bukan semata kegagalan seseorang menanggulangi depresi dalam meraih kebahagiaan. Lingkungan juga berpengaruh menciptakan rasa bahagia, sehingga seseorang itu mampu mengumpulkan bibit-bibit kebahagiaan itu dan meresapinya ke dalam jiwanya.

Dan mungkin apa yang terjadi pada kenalan saya tidak sepenuhnya kegagalannya mencerna bibit-bibit kebahagiaan. Bukan karena ia depresi lantas ia bunuh diri. Tapi ada bibit-bibit kebahagiaan yang tidak terpancar dari lingkungan, sehingga tidak mampu ia tangkap.

Begitu kah? Paling tidak kita, atau saya jadi introspeksi, kebahagiaan bukan untuk diri sendiri tapi juga disampaikan. Orang lain butuh rasa bahagia agar kita juga bisa bahagia. Kebahagiaan mungkin adalah produk simbiosis mutualisme antar sesama makhluk.

*sumber gambar dari sini

Monday, February 29, 2016

Cilakanya Ngehe!




"Mah beliin iPhone sih..." rengek anak ibu kos saya yang langsung ditolak mentah-mentah sama si mamah.

"Ah elah cuma berapa juta juga!" protes si anak.

Sebagai informasi, anak ibu kos yang lagi merengek-rengek itu baru SMP. Saya nggak tau dia kelas berapa. Yang jelas dia minta iPhone buat menunjang gayanya di depan teman-teman sekolah. Itu dia bilang sendiri. Saya nggak bohong.

"Anak sekolah itu yang penting belajar!" teriak ibu kos.

"Ah kan biar semangat mah kalau nanti nilai bagus beliin iPhone," jawab anaknya.

Saya nggak heran sih. Di mana-mana sekarang orang punya iPhone. Dari anak belom gede semacem anak ibu kos saya sampai yang udah punya uang sendiri. Bagi yang lemah iman mungkin bakal sedih lihat HP-nya bukan iPhone dan merasa sangat, sangat jadul.

Kemudian ada kasus lainnya, belum lama ini temen saya nyinyir di grup chat. Dia menertawakan teman saya yang beli Macbook. Katanya, dia heran buat apa teman saya beli Macbook padahal kerjanya cuma bikin tugas kuliah S2-nya.

Tapi kalau diingat-ingat teman saya ini memang suka jadi bahan nyinyir orang-orang. Alasannya, mungkin karena dia selalu tepat waktu ngikutin mode. Waktu orang rame-rame ngomongin fixie, besoknya dia udah bawa sepeda fixie barunya ke kampus. Dan itu cuma bertahan nggak sampe seminggu, yang akhirnya dia dianter jemput lagi sama pacarnya.

Bukan cuma itu, dia jadi bahan nyinyiran lagi waktu tiba-tiba bawa-bawa kamera DSLR ke acara kuliah lapangan. Sebenarnya bukan masalah, tapi dosanya dia -di mata teman-teman lainnya- beli di saat kamera DSLR tiba-tiba jadi kalung trendi yang dipake sama banyak anak muda. Kamera ini juga nggak begitu lama dia sayang-sayang.

Ada orang bilang, munculnya orang-orang semacam itu adalah tanda-tanda meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia. Mereka ini adalah orang yang gaya hidupnya tau-tau meningkat.

Dan memang, di Indonesia, jumlah penduduk kelas menengah ini terus bertambah setiap tahun. Data dari Bank Dunia Juni 2011 menunjukkan kelas menengah di Indoensia tumbuh 7juta jiwa setiap tahunnya. Selama 11 tahun, sejak 1999-2010, kelompok itu tumbuh menjadi tiga kali lipat, yaitu dari 45juta jiwa atau 25 persen dari jumlah penduduk Indonesia menjadi 134juta jiwa.

Tahun kemarin, penduduk yang tergolong kelas menengah itu sudah mencapai 170juta jiwa. Itu sama dengan 70 persen dari total seluruh penduduk di Indonesia! Soal kelas menengah, ada yang menjelaskan kelompok ini adalah mereka yang memiliki kekuatan expenditure (pengeluaran) per hari antara 2 dolar AS hingga 20 dolar AS.

Mari lupakan sejenak contoh-contoh kasus yang agak gimana tadi. Kelas menengah meningkat itu juga bukan salah siapa-siapa dan tidak perlu nyinyir. Di Indonesia, kita punya bonus demografi dan ledakan demografi kelas pekerja yang dahsyat. Jadi wajar.

Lagi pula sebenarnya, keberadaan penduduk kelas menengah di suatu negara itu bisa mendukung pertumbuhan ekonomi di masa depan. Gimana tidak? Jumlah kelas menengah yang meningkat ini nantinya akan menambah tingkat konsumsi. Permintaan konsumen yang meningkat, artinya ada keharusan untuk memenuhi permintaan yang meningkat itu kan? Akhirnya dengan ini lapangan kerja pun semakin terbuka lebih banyak lagi.

Lebih jauh, naiknya status ekonomi masyarakat ini tentunya diikuti peningkatan standar hidup. Akhirnya harapan pembangunan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik bisa lebih terjamin... (semoga).

Masalahnya kelas menengah ini kemudian sering diberi embel-embel ngehe. "Kelas menengah ngehe, istilah ini sudah layak jadi istilah akademis," kata Pengamat Perkotaan, Marco Kusumawijaya sewaktu mengisi acara diskusi yang berjudul 'Apa Kampung, Apa Kota', di Bentara Budaya Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Kenapa Marco bilang begitu, ia sebelumnya menyoroti nasib-nasib kota besar yang akhirnya jadi kebanjiran pendatang. Kota-kota besar, khususnya Jakarta menjadi sasaran grudukan masyarakat kelas menengah.

Apa efeknya? kebutuhan pemukiman, tempat-tempat komersil lainnya pun meningkat. Liat kan? semakin banyak iklan-iklan properti komersial berseliweran. Di sisi lain, kegelisahan sekarang juga makin dirasakan warga yang tinggal di kampung-kampung. Ancaman digusur makin memuncak. Pembangunan kota juga jadi tidak jelas arahnya.

"Pada persoalannya kampung dan kota adalah pertempuran modernitas," kata Marco lagi.

Peneliti dari The Institute for Ecosoc Rights, Sri Palupi menilai orientasi pembangunan kita memang menguntungkan kelas menengah. Mereka adalah penguasa basis masa. "Cilakanya ngehe!" seru dia kemudian.

Apa yang mereka soroti adalah pelayanan publik di kampung disengaja untuk tidak lebih baik dibanding pelayanan kepada kelas atas. Para masyarakat yang hidup di kampung-kampung kebanyakan juga tidak diberi hak atas tanah. Lingkungan mereka pun dibiarkan kumuh. Bahkan, masyarakatnya dicap ilegal dan kriminal. 

"Memang dibuat tidak nyaman agar mudah digusur. Selama kalangan atas  belum butuh wilayah itu mereka masih aman," kata palupi.

Apapun, seberapa menguntungkannya pertumbuhan kelas menengah, kesenjangan terus terjadi. Para pembangun wilayah dinilai kurang imajinasi. Mereka yang saat ini nangis karena rumahnya digempur dengan beko jelas belum merasa pembangunan ini memakmurkan semua pihak. Orang yang bisa menangkap peluang naik kasta dari masyarakat bawah ke masyarakat menengah, masyarakat menengah ke masyarakat atas. Fasilitas hunian kota dibangun demi memuaskan mereka yang naik kelas itu. Ini sialnya ngehe bagi mereka yang kemudian terpinggirkan dan akhirnya malah menciptakan kampung-kampung ilegal lainnya yang kembali gelisah menanti untuk digempur.

sumber gambar: di sini

Tuesday, December 8, 2015

Ketika Kita Masih Ada di Zaman Di mana Sosial Memutuskan Apa Tugas Laki-Laki dan Perempuan



"Darimanapun cewenya, kalau serius jangan pernah disakitin, kasian bapaknya ngerawatin dari kecil," begitu celetuk pacar teman saya di grup chat, di mana saya juga tergabung.

Sepanjang yang saya tahu, sebelumnya teman-teman dalam grup itu sedang ribut membicarakan rencana pernikahan teman saya dan pacarnya tadi. Menikahnya awal tahun depan.

Ketika membaca celetukan itu, tiba-tiba fokus saya berganti. Saya jadi bingung dengan maksud si pacar, yang mari kita inisialkan dengan P. Jadi siapa yang ia perhatikan? si cewe atau bapaknya?

Tapi yang jauh lebih penting, lalu dianggap apa si cewe ini? peliharaan? atau barang, yang kepemilikannya kemudian dipindah tangankan dari bapaknya ke suami?

Saya bingung dengan P, apakah tidak cukup hanya mengatakan, "darimana pun cewenya kalau serius jangan pernah disakiti"? stop di situ. Itu akan terdengar lebih manusiawi kan? Terlebih yang ia sebut hanya "bapak" sebagai sosok yang sudah merawat teman saya dari kecil. Kemana ibunya?

Dari cara ia menyusun dan memilih kata-kata, si P bukannya menampilkan dirinya sebagai calon sosok laki-laki yang penuh tanggung jawab, (mugkin) seperti yang dia harapkan. Ini justru, di mata saya, adalah perkataan seseorang yang narsis dan memandang rendah si calon istri dan perempuan pada umumnya.

Anehnya tidak ada yang protes di grup itu. Anehnya lagi, karena tidak ada yang protes lama kelamaan saya jadi bertaya-tanya apakah saya terlalu berlebihan menyikapi celetukan si P?

Saya sadar, persoalan menanggapi masalah gender ini juga disetir oleh tanggapan sosial. Dan itu sudah terbiasa kita terima begitu saja. Bahwa laki-laki adalah penjaga, dan perempuan itu rapuh jadi harus dijaga. Bahwa perempuan itu dimiliki dan yang punya hak memiliki perempuan adalah laki-laki, dalam hal ini bapak atau suami.

Dan sesungguhnya kebiasaan mendikotomi peran gender ini sudah terkonsep sejak lama. Itu membuat sampai akhirnya tak ada yang sadar sistem ini sangat mendeskriminasi. Padahal, dengan membaca celetukan si P itu saya jadi teringat masa di mana perempuan hanyalah dianggap sebagai harta rampasan dari laki-laki ke laki-laki lain.

Si P ini bisa jadi merupakan korban dari kebiasaan sosial itu. Kalau diingat-ingat, suatu hari saya juga pernah mendengar P secara spesifik mendeskripsikan pekerjaan si calon istri ketika berumah tangga nanti. Saat itu saya dan beberapa teman, termasuk teman saya yang menjadi calon istri P itu mengunjungi rumah si P untuk sebuah acara syukuran kecil-kecilan.

"Nih neng, belajar siap-siap nanti kalau udah nikah," kira-kira itu yang dia katakan sambil menumpuk piring kotor. Teman saya itu patuh. Ia segera mengambil alih tumpukan piring kotor itu dan membawanya ke bak cuci piring.

Oke. Sebenarnya saya mengakui ini bukan masalah, selama si teman saya tadi juga tak mempersoalkan atau menggerutu macam-macam. Ia jutru terlihat tersipu-sipu karena mungkin si calon suami terkesan memamerkan "hubungan mereka yang sudah sangat serius" itu di hadapan teman-temannya.

Jadi masalahnya?

Masalahnya adalah, semua ini akan menjadi hulu ke persoalan yang lebih kompleks. Laki-laki yang merasa dirinya meng-hak-i perempuan ini yang 7akhirnya berbuntut perilaku KDRT, entah itu secara psikologis maupun fisik. Laki-laki akhirnya jadi punya bahan untuk menuding perempuan bukan istri yang baik ketika melihat rumah yang berantakan, masakan yang kurang asin, atau anak yang nakal. Istri akhirnya dilarang berkarya dan menggapai cita-citanya karena harus fokus pada "tugas"-nya.

Mari kita runut apa sebenarnya yang membuat label dapur pada jidat perempuan dan label pekerja pada jidat laki-laki itu sulit untuk dilepas.

Konsepsi pembagian peran yang akhirnya dianggap biasa oleh seorang laki-laki dan perempuan dewasa sesungguhnya sudah terjadi sejak mereka belum lahir. Ingat? Beberapa kado yang berdatangan untuk si calon bayi atau bahkan yang dibelikan oleh orang tua si calon bayi kebanyak lebih dulu melalui pertimbangan, seperti : "Ini untuk cewe atau cowo, ya?"

Dan akhirnya pemikiran itu disederhanakan dengan, kalau warna pink atau ungu itu untuk perempuan. Kalau warna biru, merah, hijau itu untuk laki-laki. Pertimbangan itu pun kemudian dipermudah oleh beberapa produsen pakaian yang secara jelas melabeli merk-nya dengan "girl" dan "boy". Seakan keduanya adalah spesies yang berbeda.

Sally Peck, Editor the Telegraph juga pernah mengulas, sejak anak perempuan dan laki-laki lahir, mereka memang telah menerima perlakuan yang berbeda. Berdasarkan sebuah studi, orang tua akan berbicara dengan bayi perempuan lebih lama. Sementara, mereka akan membiarkan anak laki-laki bermain lebih jauh dari mereka dibanding anak perempuan.

"Anak laki-laki menjadi jauh lebih aktif saat mereka tumbuh dewasa, karena orang tua mendorong anak laki-laki mereka menjadi sporty, sedangkan anak perempuan didesak untuk bersabar dan tenang," kata seorang Psikolog dari Universitas of Kentucky, Christia Spears Brown, dalam ulasan Peck tadi.

Hmm..Kalau di kita, akan sering dengar kata-kata begini: "Eh, anak cowo nggak boleh nangis!" atau "Eh anak cowo nggak papa kalau jatuh..". Iya nggak? iya dong...

Stereotip datang tak cuma dari pakaian dan cara mendidik orang tua. Pemisahan konstruksi gender juga dimunculkan oleh perusahaan mainan. Ini seperti yang dikatakan oleh Jess Day, yang merupakan anggota dari grup kampanye Let Toys Be Toys.  

Sekarang bisa kita lihat, kebiasaan yang sudah dianggap lumrah adalah, pengelompokan mainan untuk laki-laki dan perempuan. Di dalam kelompok mainan yang dilabeli sosial sebagai mainan laki-laki, kita bisa menemukan robot-robotan, mobil-mobilan, bola, juga tembak-tembakan. Lalu di zona yang katanya untuk perempuan itu, kita akan menemukan miniatur peralatan masak, boneka, miniatur rumah-rumahan, dan sebagainya yang kebanyakan diwarnai dengan pink atau ungu.

Dampaknya? Kita pasti merasa, beberapa lahan olahraga akan sangat sulit dilepas dari zona maskulin dan ya itu tadi, wilayah rumah tangga, masak-masakan, merawat anak dianggap ranah perempuan dan sama sekali tidak pas untuk manusia berpenis.

Sementara kata Day, penelitian oleh the Welsh Organisation menunjukkan anak-anak pada usia Balita sudah memiliki ide yang sangat jelas tentang pekerjaan yang cocok untuk anak laki-laki dan perempuan. "Ini akan sangat sulit untuk diubah," tegasnya.

Memang, ketimpangan antara laki-laki dan perempuan mungkin dampaknya tidak selalu harus kepada kasus KDRT. Setidaknya, kasus P tadi adalah contoh saat ini masih banyak yang belum sadar pembagian peran berdasarkan gender itu adalah konsepsi basi!

Namun, kebiasaan di lingkup siosial seperti ini lah yang membuat perempuan, mungkin tanpa ia sadari, hidup dengan ribuan tuntutan di otaknya. Ini akhirnya yang membuat orang berpikir mendidik perempuan itu jauh lebih sulit dibanding mendidik anak laki-laki.





Tambahan bacaan:
http://s.telegraph.co.uk/graphics/projects/parenting-gender-neutral/

Sumber gambar dari sini

Friday, November 27, 2015

Ketika Indonesia Harus Berkaca Pada Kisah Angling Darma






Zaman dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Angling Darma. Ia adalah raja keturunan ketujuh dari garis keturunan Arjuna, Putra Pandu dari epos Mahabarata.

Angling Darma memiliki kemampuan memahami bahasa binatang. Ilmu yang disebut sebagai Aji Gineng ini ia warisi dari sang Guru, Nagaraja. Sebagai syarat, ia harus merahasiakan ilmu barunya itu pada siapapun, termasuk pada istrinya, Setyawati.

Suatu hari, ketika sedang bersama Setyawati, Angling Darma tanpa sadar menertawai percakapan sepasang cosy (ini sebutan saya untuk hewan tukang nemplok di tembok pokonya). Setyawati pun tersinggung. Namun, Angling Darma tetap menolak berterus terang, karena terlanjur berjanji untuk merahasiakan ilmu Aji Gineng-nya itu.

Setyawati yang bertambah marah mengancam melakukan pati obong untuk mengembalikan harga dirinya. Dengan melakukan pati obong, Setyawati berarti memilih untuk menerjunkan diri dalam kobaran api. Mendengar itu, Angling Darma justru memilih untuk berjanji menemani Setyawati mati daripada harus membocorkan rahasia ilmunya.

Tapi kemudian, Angling Darma pun mendengar pembicaraan sepasang kambing. Dari pembicaraan itu, ia sadar, keputusannya sehidup semati dengan sang istri adalah keputusan egois. Keputusan itu akan merugikan rakyatnya.

Maka, ketika Setyawati terjun dalam api, Angling Darma tak ikut menyertainya. Artinya, ia telah melanggar sumpahnya sendiri untuk ikut mati bersama istrinya

Perbuatan ingkar janji ini membuatnya harus dibuang ke hutan. Untuk menebus dosa, ia harus meninggalkan segala miliknya, juga kedudukannya sebagai raja.

Sepenggal kisah itu diambil dari cerita Angling Darma (Aidharma). Siapa yang tidak kenal cerita ini ya? Bahkan untuk beberapa orang cerita ini dianggap benar-benar pernah terjadi.

Menurut kepercayaan yang ada, kisah ini merupakan tradisi Jawa asli. Di India, di mana dipercaya sebagai induk tradisi klasik di Nusantara itu, tidak pernah ditemukan kisah serupa.

Kapan pastinya kisah ini ditulis, saya tidak bisa jawab. Mungkin ahli manuskrip bisa menjawab ini. Cuma yang saya tahu, saya dan kalian akan bisa menemukannya di dinding Candi Jago. Candi ini bisa didatangi kalau kalian mampir ke Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Berdasarkan sejarahnya, Candi Jago diduga merupakan tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana dari Kerjaan Singhasari. Kalau merujuk apa yang ditulis Bernet Kempers di bukunya, Ancient Indonesian Art, pentahbisan tempat suci ini diperkirakan terjadi pada tahun 1268 M.

"Atau dua belas tahun setelanya, yaitu setelah dilakukannya Upacara Sradha tahun 1280 M," tulis Kempers.

Oke, apa itu Upacara Sradha? Itu mungkin kalau zaman sekarang sama seperti apa yang kita sebut dengan nyadran. Sama-sama mengenang arwah leluhur atau pendahulu yang sudah meninggal.

Nah, selain kisah Angling Darma di Candi Jago ini, sampai sekarang sudah dikenal dengan banyak versi. Itu termasuk Angling Darma yang pernah tayang sebagai sinetron di salah satu stasiun tv swasta kita, dulu sekali. Ingat?

Cerita yang banyak dikenal saat ini jauh lebih panjang. Kesamaannya juga sedikit sekali dengan yang ada di Candi Jago. Sementara, cerita yang ada dalam relief pada dinding Candi Jago, katanya tidak ada kaitannya sama naskah manapun yang ada dari masa yang lebih tua.

"Intepretasi cerita Angling Darma ini telah dipercayai oleh masyarakat sekitar dan dibuat tulisan mengenainya oleh seorang juru pelihara Candi Jago,"  tulis Ann .R. Kinney dalam bukunya Worshiping Siva and Buddha: the temple art of East Java.

Di Candi Jago, kisah Angling Darma tadi berlanjut dengan menceritakan bagian adegan lain. Dalam panel selanjutnya, dimunculkan seorang resi yang nampak berselisih dengan putrinya, yang ditulis Kinney, bernama Ambarwati.

Ambarwati saat itu tengah bersiap pergi berdoa kepada Buddha Vairocana. Ayahnya, sang resi, berusaha menghalanginya, meski Ambarwati terus bersikukuh. Namun, akhirnya mereka berjalan berdua untuk menemui Sang Budha.

Karena perbuatannya menghalangi Ambarwati yang ingin berdoa, Oleh Vairocana sang resi pun dikutuk menjadi raksasa. Raksasa jelmaan resi itu tidak akan bisa kembali ke wujud semula kecuali ia dibunuh dengan panah.

Perjalanan mereka kemudian, mempertemukan Ambarwati dengan Angling Darma. Dalam pertemuan itu, Angling Darma yakin Ambarawati merupakan reinkarnasi dari istrinya terdahulu karena rupa mereka yang sama.

pertemuan Angling Darma dan Ambarwati
 Tidak kalah penting, dalam panel candi itu, muncul tokoh Punakawan, ya punakawan yang itu, manusia cebol bertubuh tambun. Punakawan di sini berjumlah dua. Keduanya menjadi pengikut Angling Darma. Adapun digambarkan pula satu punakawan yang merupakan teman seperjalanan Ambarwati. Punakawan pengikut Ambarwati ini, melihat nonanya didekati Angling Darma pergi melapor pada sang resi karena menganggap Ambarwati tengah didekati orang tak dikenal.

Sementara itu, seorang Brahmana yang melihat hal itu melaporkan apa yang terjadi kepada Vairocana. Vairocana pun segera memerintahkan Bramana tadi untuk melindungi Ambarwati dan Angling Darma dalam perjalanannya.

Seorang Brahmana utusan Vairocana datang untuk mengawasi Angling Darma dan Ambarwati
 Namun, sang Bramana tidak menyadari kedatangan raksasa yang marah karena mendengar laporan dari punakawan mengenai putrinya. Raksasa itu hendak menyerang Angling Darma, tapi tak berhasil. Angling Darma keburu menaklukkannya dengan panah yang justru membebaskan raksasa dari kutukan.

Resi itu berterimakasih kepada Angling Darma dan memberitahunya bahwa ia adalah ayah dari Ambarwati. Kemudian Sang Resi terbang bersama sang Brahamana menemui Vairocana yang telah memberikan restu kepada pernikahan Angling Darma dan Ambarwati.

 Angling Darma pulang kembali ke kerajaan bersama dengan Ambarwati
Jika dibandingkan, tahulah kita kesamaan versi kisah ini dengan yang dikenal sekarang hanya pada awal kisah sampai bagaimana Angling Darma dibuang ke hutan.

Kisah pertemuannya dengan seorang perempuan yang kemudian menjadi kekasihnya juga berbeda. Dalam relief mereka bertemu di hutan, sedangkan pada kisah yang dikenal pada umumnya, mereka bertemu di istana. Latar belakang si perempuan juga berbeda, dalam relief, perempuan itu adalah anak dari seorang resi yang dikutuk, sedangkan dalam versi lain ia adalah seorang putri raja.

Di versi yang banyak dikenal masyarakat, Angling Darma juga diceritakan terkena kutuk dua kali. Selain dibuang ke hutan, ia juga dikutuk menjadi seekor belibis, yang membuatnya bertemu dengan sang putri. Keberadaan tokoh Punakawan, dalam penceritaan naskah tertulis yang umum dikenal juga tidak ditemukan.

Berdasarkan penggambaran yang ada di Candi jago, poin dari kisah Angling Darma ini jelas soal perannya meruwat sang resi dari kutuknya menjadi raksasa. Namun, ini justru tidak ditemukan pada versinya yang lebih umum.

Dari sini, ada beberapa hal yang menurut saya menarik untuk diperhatikan. Mungkin ini semacam petuah dalam cerita. Bahwa, anugrah yang menjadi kelebihan Angling Darma, justru menjadi awalan dari penderitaannya, yaitu kehilangan istri dan kerajaannya. Angling Darma yang tidak mampu mengendalikan kemampuannya akhirnya membawa kemalangan terhadap dirinya sendiri.

Bukan cuma itu, kita bisa belajar, dalam konteks masyarakat lampau, putri dan istri permaisuri bagi seorang lelaki atau raja merupakan harta. Itu bisa dianalogikan sebagai salah satu aspek dari nafsu duniawi.

Dalam cerita, baik Angling Darma maupun sang resi tidak dapat menahan perasaan pribadinya pada dunia. Mereka kemudian dihukum dengan caranya masing-masing.

Angling Darma, ia dengan tergesa-gesa mengucap sumpah untuk ikut bela pati bersama permaisurinya untuk menunjukkan cintanya. Ini adalah tindakan yang salah sebagai seorang raja karena ia meninggalkan dharma-nya hanya demi cintanya pada istri.

Sementara sang resi, seharusnya mengajarkan kebenaran agama, malah menghalangi putrinya untuk pergi berdoa di hadapan Vairocana. Hal ini mungkin dikarenakan kekhawatirannya yang besar. Ia takut putrinya akan berhadapan pada bahaya jika pergi. Karena hal itu, oleh Vairocana ia dihukum menjadi raksasa.

Tapi, setelah semua kekacauan yang terjadi tadi, kisah ini lalu berakhir pada kondisi yang stabil kembali. Sang resi mendapatkan wujudnya yang suci dan diangkat ke surga. Adapun Angling Darma mendapatkan kembali kerajaan dan istrinya, karena Ambarwati dalam cerita digambarkan memiliki wujud yang sama dengan permaisurinya Setyawati. 

Keadaan yang kembali stabil dalam kisah Angling Darma versi Candi Jago ini didapatkan setelah tokoh utama dalam cerita berhasil mengeyahkan nafsu-nafsu duniawi. Ini disimbolkan dengan Angling Darma yang berhasil meruwat raksasa menjadi seorang yang suci kembali.

Lalu kenapa harus dihukum dibuang ke hutan? Bisa dibilang, pengembaraan dalam hutan, melambangkan pencarian dalam ketidakpastian seorang diri. Si terhukum harus mengatasi diri sendiri dari berbagai cobaan dan penderitaan sebelum mendapatkan kesucian batinnya kembali.

Setelah menguasai hal-hal itu, ia dianggap berhasil mengenyahkan nafsu angkara. Di sanalah kesatuan yang menjamin adanya keselamatan, kehidupan, keseimbangan, dan kesejahteraan bisa terjadi. Ini diwakilkan dengan simbol perkawinan antara Angling Darma dan Ambarwati.

Konteksnya dengan masa sekarang? Mungkin saat ini adalah fase di mana kita, dalam skala Indonesia sedang masuk ke "hutan". Ini fase pengembaraan mencari kepastian masa depan. Coba deh, ekonomi lagi nggak stabil, politik dalam negeri juga lagi edan-edanan dan tambah nggak tau malu "nelanjangin" kebobrokan dan keserakahan di depan kamera.

Saya nggak tahu berapa lama Angling Darma mengembara di hutan. Tapi ini terjadi selama 12 tahun untuk Pandawa usai mereka kalah berjudi dengan Kurawa. Lalu Indonesia? selama raksasa-raksasa belum menemukan jati dirinya yang hakiki sebagai manusia yang berakal dan berbudi, mungkin kita masih harus menunggu munculnya era keselamatan, keseimbangan, dan kesejahteraan itu.




Ket. foto:
Salah satu relief Angling Darma di Candi Jago, yang menggambaran adegan ayah Ambarwati berhasil di-ruwat menjadi wujud aslinya setelah terkena panah Angling Darma (Dok. pribadi).

Monday, July 6, 2015

Pada Suatu Hari Ketika Pencurian Motor Membuat Saya Merasa Jadi (Manusia) Jahat

Lantai bawah kos saya sudah ramai ketika akhirnya saya bangun untuk sahur. Ibu kos sudah mulai teriak-teriak, entah meneriaki si bapak atau anaknya Ojan.

Di lantai atas, saya hanya sahur berdua. Kami sahur dalam diam, karena masih terbawa kantuk. Lantai bawah juga tiba-tiba sunyi. Suara ojan yang biasanya paling berisik juga sudah hilang, sepertinya sudah kembali teredam pintu kamarnya.

Belum mendekati waktu subuh, tiba-tiba saya dikagetkan suara motor negbut di depan rumah. Bunyi mesin menanjak di jalanan depan itu diikuti suara teriakan kalap dari laki-laki yang kemudian saya ketahui adalah penghuni kos-kosan tetangga.

Saya tahu apa itu. Tapi saya tidak mau komentar. Saya cuma melirik teman di depan saya, berharap ia tidak menyebut apa yang ada di pikiran saya.

Tapi rupanya keluarga pemilik kos di lantai bawah lebih dulu teriak setelah paham apa yang terjadi. Mereka ikut kalap ke luar rumah, meneriaki maling motor yang pasti sudah jauh.

Saya lemas. Hingga detik itu saya masih belum tahu motor siapa yang dibawa pergi si pencuri. Bahkan tangan saya gemetar. Saya takut. Saya takut kalau itu motor saya. Dalam hati saya terus berharap semoga itu motor orang lain saja yang dibawa kabur. Motor siapa saja terserah asal bukan motor saya.

Meski akhirnya lega setelah tahu itu motor tetangga, beberapa hari sejak kejadian itu saya masih takut. Takut kalau itu menimpa saya. Tapi bukan itu yang mau saya omongkan di sini. Lama-lama dipikir, saya justru terkejut pada kenyataan, bahwa saya nyatanya bisa menjadi jahat. Saya merasa sedikit menyesal dengan doa saya.

Harapan saya yang tercetus saat itu hanya berupa contoh bukti bahwa kita sebagai manusia yang katanya tinggi akal dan budinya masih sangat menempatkan insting dalam merespon suatu hal. Kita yang katanya makhluk sosial, pada kenyataannya jauh di dalam dirinya selalu berharap kebaikan bagi dirinya sendiri dan tidak peduli apa yang terjadi dengan orang lain. Dan saya yang antroposentris ini, di kala kepepet bisa menjadi liar. Entah dalam prilaku atau pun pikiran seperti yang saya lakukan. Sedikit menakutkan, heh?

Merembet ke kasus yang lebih luas, dan ini memang akan ke mana-mana, semua ujung-ujungnya soal ego. Tapi apa saya bisa dikatakan egois, kalau yang semacam ini kata Thomas Hobbes sudah menjadi sifat dasar manusia? Berdasarkan cetusan harapan yang saya lakukan saat ada kasus pencurian di depan kos saya itu, saya sedikit banyak setuju sama Kakek Hobbes.

Pikir lah, bahkan yang nampaknya seperti berkorban untuk orang lain, seperti memberi santunan kepada fakir miskin,  pun juga demi diri sendiri. Mungkin itu supaya hidup menjadi lebih tenang. Atau mungkin untuk mendapat pahala. Atau ada yang berharap supaya Tuhan melipat gandakan rejeki kita nantinya. Atau biar tidak menyesal kalau nanti uangnya hilang dan dituding karena kurang beramal.

Pengemis bahkan sudah pakai tagline ini loh biar masyarakat mau kasih mereka sedekah. Mereka dengan bangga menyebut diri dibutuhkan untuk beramal dan dapat pahala. Pernah dengar kan?

Jadi, istilah makhluk sosial itu sebenarnya asas dimanfaatkan atau memanfaatkan manusia lainnya. Apa pun akan dilakukan jika itu akan menguntungkan bagi kita.

Tapi kalau berangkat dari teorinya Hobbes tadi, artinya setiap kali manusia berbuat untuk kepentingan diri sendiri berarti kita sedang menyesuaikan diri dengan tuntuan alam. Berarti kalau begini saya sebenarnya jahat nggak ya? Toh saya dituntut oleh alam. Ah...

Sumpah deh, saya mungkin akan ditertawai Dalai Lama kalau pikiran saya masih terpengaruh Thomas Hobbes yang bahkan sudah meninggal pada abad ke-17. Mungkin Dalai Lama bakal bilang, Ris, gimana lo mau bahagia bawaan lo curigaan mulu sama orang. Ya, pada akhirnya saya mau bilang, buang jauh-jauh gunjingan saya tadi, buang, lupakan! Idup kita akan lebih santai, mudah, dan bebas kalau selalu lihat sisi positifnya kan? Dalam artian tidak diracuni pemikiran bahwa setiap orang pasti ada maunya dalam melakukan sesuatu. Iya kan? iya aja lah biar bahagia.

Lalu soal doa saya supaya motor orang lain saja yang dicuri dan bukan milik saya? Ah sudah lah... mungkin cuma saya yang suka berharap sesuatu yang jahat bagi orang lain. Tidak semua manusia seperti saya kan, bukan begitu Dalai Lama?

Monday, May 18, 2015

Gerrard Si Pemberani




Steven Gerrard, dalam 17 tahun berkarier di sepakbola hanya bermain untuk satu klub, Liverpool. Setelah pertandingan kandang terakhirnya untuk klub melawan Crystal Palace (16/5) ia pun mengucapkan selamat tinggal.

Gegap gempita sambutan penonton mengantar pemain berusia 34 tahun itu pada penampilannya yang ke-709 bagi The Reds. Spanduk penghormatan pun dibentangkan di tribun penonton oleh para pendukung. Para pemain Liverpool mengenakan jersey bernomor 8 dengan nama Gerrard sebagai ucapan perpisahan.

Sang kapten memang mengakhiri kariernya di Anfield dalam suasana emosional. Melihat ke belakang pada 17 tahun bersama Liverpool, ia mengaku bangga. Gerrard berjanji tak akan pernah melupakan peristiwa kali ini.

"Suatu pelepasan yang sulit dipercaya," ungkapnya kepada BBC Sport.

Baru-baru ini saya dihadapkan pada kategori yang sama dengan apa yang dihadapi Steven Gerrard. Saya, relasi, dan perpisahan. Tiga kata kunci yang kombinasinya paling tidak saya sukai.

Lagi-lagi soal perpisahan. Kata itu selalu mengundang segala perasaan negatif. Perasaan yang akan ada jika ada lebih dari satu yang saling terhubung, yang kemudian mereka saling tercerai karena suatu hal.

Gerrard punya 17 tahun untuk membangun relasi. Ia hanya butuh 90 menit waktu pertandingan di Anfield untuk merasakan beratnya berpisah. Tidak sampai dua jam ia merasakan saat terakhir dirinya tak lagi menjadi bagian dari Stadion di Liverpool itu.

Bagaimana rasanya?

Yang jelas Gerrard adalah orang paling berani yang pernah saya tahu. Maka kepergiannya pun dihormati dengan gempita yang hebat. Di saat semua rekannya sibuk menandatangani kesepakatan kontrak dengan klub ini itu, dia menyatakan diri ingin terus bermain bagi Liverpool.

Saya tak seberani itu. Kini sudah setahun saya di tempat kerja ini. Saya belum merasa takut karena saya berusaha untuk tidak punya keterikatan apapun. Maksud saya di dalam hati. Di media ini, saya hanya mencari makan dan berlatih menulis. Titik.

Tapi di sini, di kos ini, saya baru delapan bulan. Mungkin. Saya tidak yakin, yang jelas baru hitungan bulan. Dan saya sudah merasa ketakutan. Saya sudah jauh terhanyut.

Ada yang menganggap saya bukan lagi hanya seorang teman. Katanya saya sudah seperti keluarga. Delapan bulan, dan sudah menganggap saya sejauh itu. Jika dibandingkan Gerrard yang sudah 17 tahun dan hanya butuh 90 menit untuk menyatakan selamat tinggal, berapa detik yang saya butuhkan?

Oke mungkin itu agak berlebihan. Tapi relasi itu bagi saya ibarat menarik ke arah yang berlawan sehelai rambut yang sudah terbelah dua sebelumnya. Begitu tipis, begitu rapuh, begitu mudah di patahkan.

Jadi, tidak mempunyai hubungan akan sangat aman, tapi tentunya itu tidak mungkin. Maka menjaga hubungan agar tetap "biasa" itu lah yang saya cari. Dan kelakukan saya kalau sudah begini adalah: menarik diri.

Biasanya saya akan mundur sebentar. Mengurai ikatan yang menurut saya sudah terlampau kuat. Mengendurkannya kembali untuk menjadikannya lebih mudah ditata.

Bilang lah saya pengecut. Tapi coba pikir kembali, semua makhluk hidup punya pertahanan diri terhadap predatornya masing-masing. Dan ini lah cara saya. Saya suka perasaan bebas tanpa tanggungan apa pun.

Saat ini tanda-tanda itu mulai terlihat. Di saat perilaku teman-teman saya mempengaruhi perasaan saya, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu di mana makin banyak yang bercerita soal relasinya masing-masing dengan kenalan masing-masing,  maka sudah waktunya saya mengulur tali ralasi ini. Menjadi natural dan tak terlalu berbelit...

Hhhhmmmmm......

Baiklah.... Baiklahhh...Ini gunanya menulis kan? Ibarat meditasi. Introspeksi lalu mengikhlaskan emosi.

Setelah paragraf terakhir tadi selesai ditulis agaknya saya akan menyesal jika itu saya lakukan. Itu dulu saya lakukan. Sekarang saya harus menekankan diri untuk tidak begitu lagi.  Saya akan berani seperti Gerrard. Hahahahah..... ^_^



#Sedikit modifikasi dari paragraf awal yang juga saya tulis berita di Republika
*
Dapat gambar dari sini

Monday, May 4, 2015

Sebuah Keluarga dari Atas

Gambar nyomot dari sini


"Ini Budi. Ini ibu Budi."

Dari lantai atas, saya mendengar Ais mengeja sepatah dua patah kata dengan cukup lancar. Dipandu si mama, Ais mulai lancar membaca.

Kalau dipikir-pikir, Ibu dan anak ini hubungannya tidak jauh beda dengan suasana hati saya. Kadang  manis, kadang ganas. Si mama bisa tertawa renyah ketika anaknya yang masih duduk di bangku TK itu melakukan hal konyol khas anak kecil. Tapi si mama juga bisa membentak dengan suara memekakkan telinga ketika si anak melakukan kekonyolan lainnya.

Agaknya menjadi Ais harus lah pintar melihat kondisi. Dia tidak boleh "melucu" di saat yang salah. Kalau tidak, bukannya tawa malah begini yang terdengar:

"AIS NGAPAIN SIH?"
"AIS BERISIK BANGET SIH?"

Padahal saat itu Ais lagi nyanyi Let It Go-nya Frozen versi Ais yang saya dengernya kaya nyanyi pakai bahasa di telenovela. Padahal, kalau nggak lagi nyanyi Ais pas itu lagi godain mamanya yang katanya: "Mama, mama tidur mulu sih..?"

Suatu hari pernah begini, kalau tidak salah ingat, Ais lagi libur. Siang hari si mama sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Ais sendirian dan tumben-tumbenan anteng. Tau-tau Ais nyeletuk bilang:

"Mamaaaaa... Ais mau punya pacaaaar!"

Dari atas sini otomatis saya menahan tawa. Aduh, posisi saya memang serba salah. Saya dan lima kawan lainnya adalah penghuni kos-kosan yang letaknya di lantai dua rumah milik keluarga lucu ini. Saya merasa harus pura-pura tidak dengar ketika ada sesuatu yang aneh. Makanya ketika Ais nyeletuk begitu saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak tertawa. Paling tidak jangan sampai tawa saya bisa didengar penguhuni di bawah sana.

Kembali ke Ais yang pengen punya pacar. Teorinya adalah jika anak saya nanti, yang masih kecil begini, tiba-tiba minta pacar, kita pasti akan tanggapi dengan tertawa. Ais.. Ais... Pacar itu apa sih Ais? Pasti Pacar versimu sama Pacar versi mamamu nggak sama kan?

Ini lucu dan wajar mungkin. Kenapa wajar? Lah kalau malam si mama yang sudah bisa santai tanpa pekerjaan rumah itu pasti duduk bersama Ais, Papa, dan Bang Ojan di karpet depan TV dan asik menonton Ganteng-Ganteng Srigala.

Pasti tau kan? Sinetron itu emang bener-bener menjadi kegemaran untuk acara menonton TV bersama keluarga (Angkat sebelah alis). Nggak heran lah... Ais aja sampai hafal Soundtrack lagunya kok. Apalagi yang lain... kikikik.

Nah, begitu Ais minta pacar, tanggapan mama ternyata beda jauh sama tanggapan Risa kalau nanti punya anak.

"Ehhh, apa Ais? Ais masih kecil, nggak boleh pacar-pacaran!"

"Haaa... Ais pokonya mau punya pacar!"

"Kenapa sih Ais? nggak boleh, Ais masih kecil aja udah mikir pacar."

"Haaaaaa..."

"Nggak!"

"Yaudah Ais pacarannya sama cewe kok..."

Tuh kan Ais nggak mikirin pacaran a la emak-emak!

Tambah lah saya nggak tahan buat ketawa kenceng. Ais oh Ais. Memang sih saya juga sering dibikin gregetan sama anak ini. Ais sering naik dan masuk begitu saja tanpa izin ke kamar-kamar kami. Dia juga usil mainin dan minta barang-barang kami. Dia juga berisik suka tanya-tanya tanpa berhentei.

Tapi sungguh percaya lah, Ais anak yang cerdas. Kenakalannya itu nggak harus dihadapi dengan emosi. Malah sebenarnya si mama itu yang kadang bikin emosi.

Suatu hari, di luar sedang hujan deras. Ais merengek minta pergi ke rumah nenek.

"Ais mau ke rumah nenek..!!"

"Ais, itu hujan.."

"Haaa... Ais mau ke rumah nenek!"

"Ais ujan tuh liat! Ais buta ya nggak bisa liat!"

Aduh bu, Anda nggak lucu deh bu. Ya wajar sih kalau si Ais lagi marah jadi nggak ngenakin juga bahasanya, jadi suka susah dibilangin, suka susah mendengarkan omongan orang lain, terutama kalau dia lagi ada maunya.

"Ntar Ais Sumpahin kalo nggak beli!" itu katanya saat minta dibelikan sesuatu oleh si Papa.

Alhasil banyak waktu di pagi dan malam hari, saya lalui dengan bahan dengar semacam ini. Si mama, saya pikir, benar-benar pembunuh karakter bagi anak-anaknya. Bukan cuma Ais, tapi Abang Ojan juga sering kena damprat. 

Paling mengganggu adalah saat keduanya debat soal prestasi. Prestasi menurut mama itu kalau Ojan bisa masuk SMAN 28, sama kaya Abang tertuanya, Abang Faisal. Prestasi menurut kamus Mama itu berarti nilai pelajaran yang bagus. Padahal selama ini Ojan lebih sering dapat penghargaan di bidang seni dan olahraga. Terbukti piala yang membludag itu kebanyakan disumbang oleh anak kedua itu yang sepertinya cukup fasih dalam dua bidang tadi.

"Siapa bilang saya nggak berprestasi, itu buktinya piala saya banyak banget!" kata Ojan suatu hari.

"Yeee... Buktiin kamu bisa kaya abang masuk SMA 28. Prestasi itu pelajaran!" Si Mama balas berteriak dengan suara melengking yang menyebalkan.

Saat itu tidak ada yang perlu saya tahan. Saya hanya diam, mendengarkan, sekaligus bersyukur. Betapa orang tua saya sungguh menyenangkan, toleran, terbuka, dan yang jelas selalu memberikan saya kebebasan memilih, berpikir, dan berpendapat. Orang tua saya selalu mendukung apa pun yang saya cita-citakan. Mereka selalu membuka diskusi saat mereka tidak setuju dengan prilaku saya.

Mengamati dari atas sini, membuat teori-teori bagaimana mendidik anak dan menjadi orang tua ideal itu seakan menguap bersama kuapan di tengah malam. Jika saja saya tidak pernah kenal orang tua saya, jika saja saya tidak pernah dicekoki teori-teori mendidik anak dari wawancara psikolog dan pembawa acara di suatu acara TV, saya mungkin tidak akan menulis soal ini di sini. Kenyataannya, kebiasaan dari kecil lebih mungkin akan membekas dan diturunkan kepada anak. Setuju?