Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Saturday, August 27, 2016

Di Mana Tanah Air Saya dan Apa itu Nasionalisme?




Baru-baru ini Arsip Nasional RI (ANRI) menggelar pameran di Sarinah, Jakarta Pusat. Yang dipamerkan rata-rata arsip sebelum, ketika, dan setelah kemerdekaan RI. Tujuannya, kata Mustari Irawan yang adalah Kepala Anri itu, untuk memberikan pencerahan nasionalisme kepada masyarakat luas.

Biasa lah, menjelang 17 Agustus si Nasionalisme itu jadi obrolan khalayak. Terus terusan disebut sampai pada puncaknya pas pidato presiden di TV. Setelah itu, masih disebut, mungkin dalam diskusi di café-café yang mengundang wartawan. Setelah itu, seiring dengan semakin habisnya bulan Agustus, orang mulai sembuh dari penyakit kerasukan Nasionalisme.

Tapi sebenarnya siapa itu Nasionalisme? Kalau masih SD dan diajarkan PPKN pasti bisa jawab tanpa ragu. Nasionalisme itu rasa kebangsaan sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka, katanya. Paling tidak secara dogmatis, seseorang memiliki nasionalisme jika berupaya melindungi budaya dari masuknya budaya asing. Kalau secara politis mungkin melawan penindasan hak manusia dari kolonialisme.

Upayanya diawali dengan membentuk identitas nasional. Nama Indonesia salah satunya. Penghuni pulau Jawa, Kalimantan, dan sebagainya itu disatukan dan dilabeli Orang Indonesia. Lalu diberi pelajaran PPKN untuk yakin dengan identitas “saya orang Indonesia”.  Sudah besar harus punya KTP dan bikin passpor kalau mau ke luar negeri karena akan melewati batas negara.

Tapi pernah kah ada yang mejelaskan kenapa orang Batak, orang Baduy, orang Dayak, Orang Sunda, Orang Jawa, orang Bugis, orang Asmat sekarang harus juga mengakui keindonesiaan mereka? Toh sebelumnya mereka punya sistem pemerintahan sendiri, punya wilayah sendiri.

“Kita sekarang memang berbeda, tapi dulu kita satu”. Begitu kata Ery Soedewo, peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Medan. Sebelumnya, ia meneliti awal mula berpisahnya bahasa Gayo dan Karo menjadi dua bahasa yang berbeda dari sudut pandang arkeolinguistik. Bahasa memang menandakan keragaman sekaligus mewakili identitas suku bangsa tertentu.

Dalam sebuah studi arkeologis yang belum ada habisnya itu, sebagian besar kepulauan Indonesia dulunya berbahasa sama, bahasa Austronesia. Tapi dulu juga bukan hanya di kepulauan Indonesia, bahasa ini dipakai orang-orang yang meninggali Madagaskar di ujung barat hingga Kepulauan Paskah di ujung timur Pasifik, dari Taiwan-Mikronesia di batas utara hingga Selandia Baru di batas selatan. Orang-orang penutur Austronesia ini pun tak begitu saja ada di kepulauan Nusantara. Mereka datang dari Taiwan.
Akhirnya diputuskan oleh para ahli, bahwa para pendatang yang bicara dengan bahasa Austronesia itu adalah nenek moyang penduduk Indonesia sekarang. Sampai sekarang juga ada 60 persen penutur Austronesia menghuni Indonesia. Tapi, mereka bukanlah satu-satunya pendatang di Nusantara. Jangan lupakan kedatangan bangsa Arab, India, maupun Eropa.
Bahkan kata Harry Truman Simanjuntak, seorang arkeolog senior yang bermarkas di Puslit Arkenas, sebelumnya paling tidak ada tiga kelompok yang pernah melakukan migrasi besar ke Nusantara. Mereka adalah Australomelanesid, penutur Austro-asiatik, dan penutur Austronesia itu tadi.
Penutur Austro-asiatik datang sekira 4.300 tahun lalu. Selanjutnya adalah penutur Austronesia yang datang pada 4.000 tahun lalu. Sebelum keduanya tiba, di Indonesia sudah tinggal kelompok lainnya, Australomelanesid. Mereka menghuni kira-kira 13.000-5.000 tahun lalu dan hingga sekarang hidup di wilayah Indonesia timur, termasuk di Papua.
Lalu apa? Ya kayanya tidak mungkin melabeli kelompok tertentu sebagai manusia asli Indonesia. Herawati Sudoyo, peneliti biologi molekuler dari Eijkman Intitute, pernah menjelaskan ini dari sudut pandang genetik. Rupanya, hampir semua etnis di Indonesia memiliki gen yang saling bercampur. Di antaranya Alatic, Sino-tibetan, Austro-asiatik, Austronesia, Papua, Dravida, Indo-Eropa, dan Niger-Kongo.
“Nenek moyang penutur Austro-asiatik di Asia Tenggara yang te rungkap dari data genomik menunjukkan adanya migrasi Austronesia ke jalur barat yang bercampur dengan penutur Austro-asiatik dan kemudian menetap di Indonesia barat,” ujarnya.
Misalnya, gen manusia Jawa asli ternyata membawa genetika Austro-asiatik dan Austronesia. Begitu pula manusia etnis Dayak dan manusia di Pulau Sumatra, yang tampak pada etnis Batak Toba dan Batak Karo.
Sementara penduduk asli Pulau Alor, misalnya, membawa genetika Papua. Manusia asli Lembata dan Suku Lamaholot, Flores Timur membawa genetika Papua dengan presentase paling tinggi dan sedikit genetika bangsa penutur Austronesia.
Jadi apa yang menyatukan Indonesia sekarang sehingga orang Dayak, orang Jawa, Orang Batak, dan sebagainya itu bisa bangga menyebut diri: “Kami orang Indonesia”? Dan lantas ketika menyadari bahwa kita semua itu awalnya hanyalah bangsa pendatang maka siapa yang bisa menjelaskan konsep nasionalisme dan tanah air?
Yang jelas Indonesia bukan milik siapapun. Konsep dijajah dan menjajah itu juga lebih mirip sikap adaptasi berjuang untuk mempertahankan diri di tengah perubahan yang datang. Artinya kita yang hidup sampai sekarang, mau itu ras apapun, sama-sama termasuk kelompok yang bertahan menghuni Indonesia. Rasanya saya bakal setuju sama omongan kalau pribumi itu sikap, bukan darah.
Ya jadinya kalau saya sekarang dicekokin dengan bahasan nasionalisme saya akan mati gaya. Konsep nasionalisme rasanya tidak sesimpel waktu SD dulu.

Kalau saya sih jika ditanya, saya akan tegas dan lugas bilang: Saya orang Jawa, lahir di Yogyakarta, besar di Bekasi, jadi maafkan bahasa Jawa saya yang campur aduk dengan gue-elo, meski bapak ibu saya asli orang Jogja.

Ya mudah-mudahan dimaafkan. Toh pada dasarnya percampuran budaya juga tidak bisa dihindari. Kalau ada temanmu yang lebih suka film-film Korea atau nyanyi-nyanyi lagu Suju dengan bahasa yang nggak kamu mengerti, jangan khawatir. Dia bukannya tidak cinta ibu bapaknya yang bukan orang Korea. Mencampurkan nasionalisme, keindonesiaan, dan selera musik, fashion, atau film itu terlalu absurd. Toh Indonesia itu memang bhineka dari dulunya. Sekarang hanya bertambah bhineka saja karena memang jamannya sudah semakin terbuka. Dulu budaya luar dibawa ke mana-mana cuma bisa pakai perahu cadik atau jalan kaki. Sekarang kan sudah ada pesawat, mobil, internet, satelit, bla bla bla… Kecuali kamu mengasingkan diri di hutan terlarangnya Suku Baduy, atau di pelosok terdalam hutan Papua yang mungkin belum terjamah sampai sekarang. Tapi mungkin karena dulu saya lahir di Jogja, sekarang saya bisa bilang kan kalau Jogja itu tanah air saya?

*Gambar dari sini



Sunday, April 10, 2016

Ketika Urang Kanekes Diributi Soal Perut dan Pelestarian Adat




Gunung teu meunang dilebur
Lebak teu meunang dirusak
Larangan teu meunang ditempak
Buyut teu meunang dirobah
Lojor teu meunang dipotong
Pondok teu meunang disambung*


Amanat karuhun itu mewujud dalam pikukuh yang hingga kini dipegang teguh Masyarakat Baduy. Masih banyak pikukuh lainnya yang termaktub dalam buyut (pantangan) yang telah dititipkan nenek moyang kepada mereka yang menyebut diri urang kanekes itu. Intinya adalah cara hidup sebagaimana ajaran karuhun.

Adat yang telah ditetapkan karuhun pantang diubah. Pantangan itu dalam kehidupan sehari-hari masyarakan Baduy diinterpretasikan secara harafiah, khususnya Baduy Dalam.

Akhir-akhir ini, amanat karuhun semakin sulit dilaksanakan. Modernisasi ibarat musuh tak kasat mata, di satu sisi. Di sisi lain, perut lapar tak bisa bohong. Mereka butuh "kemajuan" untuk bisa bertahan.

Sarpin, salah seorang penduduk Baduy Luar melihat perubahan dimulai saat bagaimana kewajiban berladang pun menjadi pekerjaan yang penuh tantangan. Sejak dulu, adat Baduy memberi syarat bagi mereka yang telah berkeluarga untuk memiliki ladang sendiri. Sekitar tahun 1990-an, berladang dilakukan untuk memenuhi dua keperluan, hidup dan adat. Untuk itu, sehari-hari mereka membuka lahan seluas 1-2 hektar dan mampu menghasilkan 300-500 ikat, yang per ikatnya mencapai 3-4 kg beras.

Mereka kini semakin sulit mendapat hasil sebanyak itu. Berdasarkan hasil survey, rata-rata pembukaan lahan hanya sampai 2.000 m2. Itu menghasilkan 50-100 ikat saja. Artinya, per tahun hanya akan dapat 300 kg.

"Sekarang berladang bukan buat kehidupan shari-hari lagi tapi buat kebutuhan adat," ungkapnya saat datang ke acara diskusi berjudul 'Baduy Dulu dan Kini' di Bentara Budaya Jakarta, belum lama ini.


Soal perubahan, ini sebenarnya sudah mulai terjadi sejak masyarakat Baduy mengalami ledakan penduduk. Dalam acara yang sama, Cecep Eka Purnama membeberkan, berdasarkan catatan pertama demografi, penduduk Baduy tahun 1888 hanya berjumlah 291 jiwa yang menempati 10 kampung.

"Hari ini, berdasarkan informasi Pejabat Bidang Pemerintahan Desa Kanekes, Sarpin, penduduk Baduy berjumlah 11.667 jiwa atau 3.402 kepala keluarga, yang bermukim di 64 kampung," papar Arkeolog UI itu dalam acara yang sama.

Data itu berlawanan dengan kenyataan lahan tempat tinggal mereka yang tidak beranjak dari seluas 5.101,85 hektar. Hitungan ini belum termasuk ladang untuk adat maupun lahan suci yang tidak boleh dibuka untuk apapun.

"Orang Baduy masih memegang pikukuhnya. Tapi masalahnya lahan mereka untuk melakukan perladangan sudah terbatas," katanya.

Padahal, beras yang dihasilkan di ladang tidak boleh dijual. Beras yang mereka panen khusus untuk adat dan kebutuhan sehari-hari. Karena sekarang untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, mereka pun akhirnya mencari penghasilan dengan menjual hasil ladang lainnya, seperti madu, pisang, dll. Penghasilannya di antara lain untuk mencukui kebutuhan beras mereka.

"Untuk upacara wajib beras dari ladang, nggak boleh beli. Ngahuma itu adalah ritual mengkawinkan Nyi Pohaci dengan Bumi. Begitu ritualnya," jelas Cecep lagi.

Makanya, mungkin anak-anak Baduy generasi sekarang "tak beruntung" karena tak lagi bisa mendengar suara lisung di pagi hari. Sarman, warga Baduy Luar yang tinggal di Kampung Kadu Ketug, ketika saya beberapa waktu lalu menginap di rumahnya bercerita, warga Baduy dulunya terbiasa dibangunkan oleh suara tabuhan lisung. Paginya, saya memang kecewa karena saya malah dibangunkan suara keramaian turis yang memang saat itu sedang ramai mendatangi Kampung Baduy.

"Kenapa lisung nggak sering bunyi lagi, karena ladang makin sedikit. Leuit (lumbung,red) sudah nggak bagus karena sudah nggak sering diisi," jelas Cecep.

Saya mungkin beruntung akhirnya bisa menemukan kegiatan ini ketika menjelajahi kampung Baduy di pagi hari

Sementara untuk menerapkan teknologi pertanian di lahan sempit, lagi-lagi terbentur larangan adat. Jangankan teknologi modern, mereka tak boleh memelihara binatang berkaki empat untuk membantu mengolah tanah. Mereka pun dilarang memakai cangkul, apalagi traktor.

Lahan menyempit, hutan habis, air langka, kini mereka masih harus berhadapan dengan kedatangan turis-turis masuk ke kampung mereka. Tak disangkal orang-orang luar ini memang mendatangkan penghasilan tambahan, tetapi juga berpotensi merusak kebijakan adat Baduy.

Di sini "perdebatan" itu terjadi. Tak cuma turis, banyak kelompok yang menamai diri mereka aktifis, atau penggiat, atau peneliti, atau pengamat, atau kaum peduli masyarakat Baduy, atau apapun itu sejenisnya yang mulai merasa perlu "membenahi" kondisi Baduy. Mereka datang membawa konsep kehidupan baru. Itu dari mulai konsep rumah sehat sampai cara-cara menampung air untuk menghindari kekeringan yang sering melanda kampung itu.

Dalam hal ini Cecep pun mengimbau kepada semua pihak untuk berhati-hati membawa pengaruh luar ke dalam komunitas Baduy. Menurutnya masyarakat Baduy telah memiliki kearifan lokal sendiri dalam mengolah lingkungan dan membangun pemukiman.

Misalnya soal rumah adat. Rumah adat Baduy memang mungkin jauh dari tipe rumah sehat versi pemerintah atau WHO. Mereka tak punya jendela. Dapur tradisional yang penuh asap itu juga tidak berventilasi. 

Tapi itu bukan tanpa alasan. Cecep menerangkan, masyarakat Baduy membagi semestanya menjadi tiga bagian. Dunia Atas, diperuntukkan bagi leluhur, Dunia Tengah untuk para manusia, dan Dunia Bawah diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak baik.

Menurutnya, ini yang membuat masyarakat Baduy membuat rumahnya tidak langsung menyentuh tanah. Rumah orang baduy berkolong karena menunjukkan mereka penghuni Dunia Tengah. 

"Kalau disemen ini menunjukkan mereka seperti orang Dunia Bawah yang tidak baik. Kemudian asap itu untuk mengusir rayap karena bahan utama rumahnya kan kayu. Ini kearifan lokal. Mereka juga nggak butuh jendela orang udah dingin," ungkapnya.

Kemudian, jika katanya timur menjadi arah hadap rumah yang sehat karena akan mendapatkan sinar matahari pagi yang cukup, rumah Baduy sayangnya menghadap selatan. Tapi lagi-lagi orang Baduy punya penjelasannya sendiri. Di arah selatan perkampungan, terdapat kompleks megalitik yang begitu mereka sakralkan. Lokasi ini merupakan titik tertinggi di sana.

"Selatan ada gunung, ada hutan larangan. Air mengalir dari selatan ke utara. Rumah Pu'un (pemimpin suku, red) ada di selatan. Orang menanam padi dari titik selatan. Mengubur orang juga diarahkan ke selatan," kata Cecep.

Menanggapi itu, Sosiolog, Imam B. Prasodjo menilai ada faktor lain yang juga harus disadari. Kondisi lingkungan saat ini makin menyulitkan Masyarakat Baduy untuk bisa mendukung pelestarian adatnya.

"Sekarang ini yang terjadi memang ada tuntutan untuk konservasi. Menjaga tetap asli. Tapi juga ada kebutuhan perut," ujar dia.

Menurutnya, seiring perkembangan zaman, kewajiban masyarakat Baduy untuk terus melestarikan adat terbentur kebutuhan hidup yang semakin mendesak. Tak hanya perkara sulitnya air atau terbatasnya lahan, masyarakat Baduy pun akhirnya seringkali "dipaksa" untuk berkompromi dengan budaya baru. Misalnya alat kontrasepsi yang kini juga telah digunakan oleh masyarakat Baduy Dalam.

"Soal ini memang hanya akan jadi perdebatan panjang yang nggak selesai-selesai. Kalau saya yang penting bagaimana mereka bisa hidup nyaman," ucap Imam.

Sayangnya, bicara soal kenyamanan itu subjektif. Saya kok jadi teringat masa-masa KKN. Datang ke dusun membawa pemecahan dari persoalan yang kita reka-reka sendiri, padahal mungkin penduduk sana nyaman-nyaman aja. Dalam hal ini, soal mana yang lebih mendesak, rasanya masyarakat Baduy paling tahu apa yang mereka butuhkan.

Sekarang, mendengar Sarpin bicara pun kita akan tahu sudah banyak yang berubah pada masyarakat Baduy. Bahasa Indonesianya lancar. Logat Sunda semakin tipis di pengucapannya. Sarpin juga mengaku mengenyam pendidikan, meski tak formal. Padahal adat tak membenarkan itu.

"Nggak boleh sekolah formal, tapi saya coba supaya masyarakat di sana tetap tahu soal pendidikan. Saya pernah ngajar juga," ceritanya.

Kalau sudah begitu, masa kita mau cegah mereka yang merasa butuh pendidikan? Karena bagi Sarpin, tinggal di Baduy tidak harus bodoh. Ia melihat, justru teman-teman yang lebih pintar, terbukti lebih mampu menghargai budaya.

"Hidup di tengah-tengah modernitas itu berat," kata dia mengakui pada akhirnya.

 ***

Dan ini beberapa jepretan yang saya ambil ketika main ke kampung Baduy beberapa waktu yang lalu......




Gadis Penenun. Di Baduy, gadis yang tidak bisa menenun sulit dapat suami




Leuit atau lumpung padi






*artinya:
Gunung tak boleh dihancur
Lembah tak boleh dirusak
Larangan tak boleh dilanggar
Buyut tak boleh diubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung

Saturday, November 28, 2015

Di Balik Cantiknya Kawah Ijen



Pengalaman naik gunung malam hari yang tidak begitu menyenangkan membuat saya ketar ketir ketika ditantang lagi untuk mendaki Gunung Ijen malam-malam. Saya punya masalah dengan pernapasan saya. Bukan asma. Tapi anemia membuat angkutan oksigen di tubuh saya jadi terganggu.

Terlebih kalau malam hari. Kenyataan harus berebut oksigen dengan tanaman membuat napas saya semakin sesak. Itu yang saya rasakan ketika mendaki Papandayan beberapa bulan lalu.

Untungnya, itu tidak cukup untuk menghentikan saya. Mumpung ada yang mengajak. Mumpung juga ada teman yang mau jemput dan mengantar.

"Jogging lu ris, siapin fisik, dua kali lipat dari naik ke Curug Cibereum," kata teman saya, Eko ketika saya mengiyakan ajakannya.

Jadilah saya selama beberapa hari mendisiplinkan diri bangun lebih pagi. Rencananya sih selama dua pekan saya mau rutin keliling kompleks. Tapi.... ah dasar pemalas.

Bukan tanpa alasan kami memilih waktu malam hari untuk mendaki. Kami mengincar blue fire atau si api biru yang termasyur itu. Pun membayangkan menikmati matahari terbit di dekat Kawah Ijen rasanya sangat melankolis.

Tapi biar sudah membekali fisik dengan hasil jogging yang seadanya bukan berarti saya bisa berhenti ketar ketir kan? Badan saya sudah luar biasa terkoyak-koyak, karena sejak tiba di Surabaya pada pagi hari hingga malam hari tiba di Pos Paltuding, kami belum istirahat dengan layak. Terlebih sepanjang pagi sampai sore kami malah berhura-hura menjelajahi Taman Nasional Baluran.

Malam itu, kami tiba di Pos Paltuding sekitar pukul 23.00 WIB. Begitu keluar mobil, udara dingin langsung berebut menusuki badan. Buru-buru saya keluarkan jaket tebal saya dan membungkus tubuh dengan rapat. Tangan saya saya masukkan dalam sarung tangan agar tidak mati rasa karena dinginnya udara musim kemarau.

Syukurlah malam itu cerah. Terlihat dari bintang-bintang khas pegunungan yang berhambur seenaknya di langit.

"Katanya pendakian baru dibuka pukul 03.00 WIB," kata Mas Ardi, teman yang sekaligus menjadi pemandu wisata kami.

Saya agak kecewa. Karena itu berarti kesempatan kami untuk bisa melihat blue fire jadi sedikit. Katanya, fenomena ini cuma akan muncul sebelum matahari terbit. Itu berarti setidaknya kami harus mulai mendaki pukul 01.00 WIB. Padahal kata Mas Ardi, jarak pendakian sampai di kawah itu sekitar 3 Km. Kalau cepat, bisa cuma 1,5 jam sampai. Tapi kata dia, rata-rata orang mendaki santai bisa sampai 2-3 jam.

"Kita tidur dulu aja ya," ucapnya kemudian.

Si Eko sebenarnya sudah mempersiapkan diri dengan membawa tenda. Tapi rasanya agak ribet karena kami semua sudah sangat lelah. Akhirnya kami berenam berjubel-jubel meringkuk di dalam mobil. Ini mungkin pilihan yang bijak, karena tentunya mobil lebih hangat dibanding tidur dalam tenda. Haha.

Rasanya saat itu saya sudah lama tertidur. Udara dingin yang merembet masuk ke dalam mobil akhirnya membangunkan saya. Ternyata masih tengah malam. Ah lama sekali harus menunggu sampai pukul 03.00 WIB, pikir saya.

Usai membuat tubuh semakin rapat dengan jaket dan kian melipat paha saya ke dada, saya pun melanjutkan tidur. Tapi lagi-lagi saya terbangun karena tiba-tiba harus ke kamar mandi. Baiklah saya lupa bilang kalau itu hari Sabtu. Entah mungkin takdirnya hari Sabtu, bahkan di gunung pun begitu ramai. Mau ke kamar mandi pun harus mengantri.

Tidak begitu ingat itu sudah pukul berapa. Ketika saya kembali ke mobil beberapa teman saya masih tertidur. Saya rasanya sudah capek tidur. Ingin segera bergerak, karena saat itu sudah kelewat dingin.

Di luar, dekat pos pendaftaran sudah mulai ramai orang bergerombol. Banyak juga bule-bule yang ke Ijen waktu itu. Ah, saya mulai sebal. Heran, kenapa pendaftaran tidak dilakukan saat mobil masuk ke Kawasan Gunung Ijen sih? Kalau begini caranya nanti pasti antrian membludag.

Satu per satu teman-teman saya bangun. Kami pun mulai membekali diri. Senter, air minum, makanan kecil, bahkan kompor dan gas kecil juga kami bawa.

"Siapa tahu lu mau ngopi di atas," kata Eko.

Cukup bawa dua tas ransel yang dibawa Eko dan Rena. Masing-masing juga membawa botol minumnya sendiri-sendiri. Saya bawa botol air dan tas kamera.

Karena saya dan Eko yang paling dulu siap, kami pun menuju antrian untuk mendaftar. Meski tak harus mengantri lama, perkiraan saya sebelumnya tidak seratus persen salah. Eco yang merelakan diri masuk dalam antrian pun harus merasakan aksi dorong dan luapan emosi dari para calon pendaki.

"Lo sini aja ris, jaga-jaga kalau duit gue kurang," instruksinya kepada saya.

Ya itu tugas "berat" saya, berdiri di luar antrian sambil melihat teman saya terdorong ke sana kemari. hahaha. Tapi ternyata kami pun hanya harus membayar Rp 7.500 per orang.

Baiklah setelah pendafaran beres, ini dia saatnya mengetes fisik hasil jogging seadanya. Berdasarkan informasi, Gunung Ijen memiliki ketinggian 2.386 mdpl. Sejujurnya agak grogi juga saya malam itu. Teman-teman perjalanan saya alumni Mapala semua di kampusnya. Apalah saya dibandingkan mereka yang cuma punya bekal hobi jalan-jalan ini.

Bagitulah, saya akhirnya mulai menapaki jalur pendakian, yang waktu itu diselimuti debu tebal. Musim kemarau membuat jalur pendakian makin sulit didaki. Terlebih malam itu begitu ramai. Ujian saya bertambah karena debu-debu yang tebal itu juga berterbangan diinjaki para pendaki. Kalau tidak hati-hati ini bisa menambah sesak napas saya.

Untungnya saya bawa masker. Tapi ternyata masker justru membuat saya seperti dibekap.

"Pelan-pelan aja jalannya masih awal," seru Mas Ardi .

Dalam perjalanan itu, saya rasanya bisa membagi tipe jalur pendakian menjadi tiga bagian. Pertama kita akan langsung ditantang dengan kondisi yang agak menanjak. Kondisi akan semakin menanjak dan berkelok tajam pada jalur tipe kedua. Pada bagian ini, kalian akan semakin sering melihat orang berhenti, menepi, dan mengambil napas.

"Tuh lu bisa terus jalan, ris." kata Eko, yang tahu masalah pernapasan saya.

Iya, saya sendiri juga heran. Saya sama sekali tidak sesak napas. Bahkan pendakian saya bisa dibilang cukup lancar dan cepat.

Sebelum memasuki jalur pendakian tipe ketiga, kami lebih dulu singgah ke peristirahatan. Tempat ini biasanya dipakai penambang belerang untuk menimbang belerang mereka. Waktu itu langit masih gelap, jadi tempat penimbangan itu pun belum ramai.

Baru sebentar mengatur napas, suhu badan saya kembali turun. Hawa dingin mulai merembet.

"Yuk jalan lagi, udah mulai dingin nih," ajak mas Ardi.

Dia bilang, perjalanan kami tidak akan jauh lagi. Setelah pos istirahat ini jalur di depan juga sudah tidak seekstrim sebelumnya. Datar, datar, dan datar.

Sampai di sini, saya menengok jam di tangan. Jarum jam menunjuk hampir 04.30 WIB. Ah mulai saat itu, saya sudah mengurangi keinginan saya untuk bisa melihat blue fire. Di Jawa Timur matahari lebih cepat mengangkasa. Terutama, pemandangan yang saat itu sudah lebih terbuka membuat saya menyadari benih-benih fajar mulai nampak.


Kawah Ijen dan penambang belerang

Benar saja, sampai di Kawah Ijen suasana sudah terang. Matahari sudah muncul secuil di kejauhan.

"Ini musim kemarau jadi semakin mempet kalau mau ngejar blue fire," kata bapak-bapak penambang belerang dengan logat Jawanya. Ia rupanya sempat mendengar keluhan saya tadi.

Tapi rasa kecewa saya terobati. Pemandangan di atas sana membuat saya lupa dengan blue fire. Angin begitu kencang, tetapi dngin tidak lagi terasa.

Di dekat kawah, saya sempat ngobrol sedikit dengan Pak Supardi, penambang belerang yang sedang beristirahat. Sepagi itu dia sudah sekali bolak-balik mengangkut belerang.

"Bapak biasanya dua kali bolak balik, dapatnya 60 kg, satu kilo dibayar Rp 1.000," tuturnya.

Saya melihat tubuhnya yang tak lagi tegap dan kulitnya yang keriput di sana sini. Pun membayangkan harus naik turun dengan rute sama seperti yang saya lalui tadi, ditambah pikulan bongkahan belerang puluhan kilo, rasanya saya memang tidak pantas mengeluh lelah. Tapi yakinlah, sebagai wisatawan, lelahnya mendaki akan terbayar jika sudah melihat pemandangan di atas Kawah Ijen.

Aktivitas subuh penambang belerang
Beberapa saat kemudian, obrolan saya hentikan ketika dia mulai memberikan sinyal menawarkan jasa lebih. Dia terus bertanya apa saya ingin turun ke kawah. Dari bahasa tubuhnya, mengantarkan turis ke kawah merupakan kerja sambilannya.

Ternyata memang begitu, beberapa kali saya bahkan mendengar mereka meneriaki turis-turis yang memfoto kegiatan mereka. Rupanya mereka hanya mau difoto asal ada uangnya.

Hak mereka juga. Lagipula saya setuju mereka butuh uang tambahan jika dari menambang rata-rata hanya bisa menghasilkan Rp 60.000 sehari. Tapi hak saya juga kalau saya bisa dapat foto-foto mereka diam-diam. Hahaha... (tiba-tiba merasa jahat)...





Ramainya turis dan penambang belerang yang hilir mudik tidak membuat tempat itu kehilangan daya pikatnya. Saya betah berlama-lama di sana. Bahkan akhirnya kami pun memutuskan untuk memanaskan air dan minum kopi di dekat kawah. Rasanya nikmat biar cuma kopi instan bungkus.

Keliihatannya Kawah Ijen, turis, dan belerangnya tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat sekitar. Itu sumber kehidupan bagi bapak-bapak seperti Pak Supardi tadi. Beberapa kali dalam perjalanan pulang saya pun menjumpai penambang-penambang itu menjual cinderamata yang mereka buat dari belerang. Akhirnya saya justru merasa melankoli bukan dengan pemandangan menakjubkan dari Kawah Ijen. Di sini, di balik hingar bingar turis yang mendaki demi kepuasan, ada mereka yang harus mendaki susah payah demi menghidupi diri sendiri dan keluarnya.

Cinderamata dari Kawah Ijen

Hmmm... Terakhir, saya mau berbagi sedkit soal Ijen yang semoga bisa disimpulkan sendiri lewat jepretan amatiran saya di bawah ini....


Birunya langit Gunung Ijen

Kereta kencana para pengais belerang

Sambilan


Bongkar muatan

Menanti untuk diisi kembali

Belerang dipecah sebelum diangkut kembali


Berkawan dengan peluh


Friday, November 27, 2015

Banyunibo: Kemagisan yang Sunyi



Sekitar 13 abad yang lalu, sekelompok masyarakat meninggali kawasan gersang di sebuah desa di Pulau Jawa. Tanah mereka dikelilingi perbukitan karst. Pada musim kemarau angin menjadi lebih kering daripada biasanya sekaligus menerbangkan debu yang membuat mata pedih.

Demi kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, mereka pun mengorbankan harta bendanya demi membangun pemujaan untuk dewa dan dewi. Mereka ingin memohon kepada langit agar mau memberkahi tanah mereka.

Itu yang ada dalam bayangan saya ketika melihat satu kompleks candi di sebuah dusun yang kini dinamai Cepit, di kawasan Prambanan, Yogyakarta. Dinamai Banyunibo atau “air yang jatuh”, mungkin karena bentuk atap stupanya yang seperti tetesan air. Tapi mungkin juga memang sejak dulu, Candi Banyunibo diharapkan menjadi setetes air di tanah yang gersang.

Kini candi itu lebih sering tersembunyi di balik kebun tebu yang rapat. Terutama ketika tebu itu sudah lebih tinggi dari kepala manusia. Ujung stupa di atapnya pun hanya akan terlihat jika kita mendekat.

Mungkin juga, itu tandanya para dewata telah mengabulkan doa masyarakat Cepit pada masa lalu. Gersangnya perbukitan karst tidak begitu terasa. Saya justru lebih merasa damai dan sejuk, karena kini candi itu dikelilingi areal persawahan yang luas.

Dengan pemandangan begitu, banyak orang melihatnya seperti sebatang kara.Tapi sebenarnya candi itu tidak sendiri seperti kelihatannya. Dulunya ia terdiri dari sebuah candi induk yang di kelilingi oleh enam candi perwara berbentuk stupa, yang berderet di sisi selatan dan timur. Sayangnya keenam pengiringnya saat ini sudah berubah menjadi reruntuhan.

Soal imaji saya tadi juga bukannya tanpa alasan. Di candi ini, Hariti dipilih menjadi dewi tempat masyarakat kala itu menggantungkan permohonannya. Memasuki lorong pintu masuk di sebelah barat, setelah menaiki tangga, pada dinding sebelah kanan, kita akan menjumpai relief seorang wanita yang duduk memperlihatkan kelaminnya. Ia digambarkan sedang dikerumuni anak kecil. Di seberangnya, yaitu dinding sebelah kiri, ada seorang laki-laki dalam relief sedang dalam posisi duduk di sebelah guci yang berukuran cukup besar.

Dalam Agama Budha, Hariti dikenal sebagai Dewi Kesuburan. Sementara yang laki-laki adalah suaminya, Vaisravana. Ia adalah Dewa Kekayaan.

Bukan cuma di situ, sosok Hariti juga disematkan pada dinding dalam di atas ambang pintu. Ia sedang duduk bersila diapit oleh dua ekor burung merak, dan juga terlihat sedang dikerumuni anak kecil.
Dewi Hariti
Selanjutnya, permohonan juga mereka simbolkan dalam bentuk Pohon Kalpataru. Dalam bilik candi, pada tembok yang langsung menghadap pintu masuk, kita akan lihat pahatan yang sepertinya menggambarkan pohon kehidupan itu. Sayangnya tidak begitu jelas. Selain karena keadaannya yang telah aus, beberapa batu asli yang memuat bagian gambar itu mungkin tidak ditemukan. Akhirnya beberapa bagian harus digantikan oleh balok-balok andesit polos yang terlihat masih baru.

Adapula perlambang yang diwujudkan pada dinding bagian luar candi. Sepasang makhluk kayangan bernama Kinara-Kinari dipahatkan bersama dengan Pohon Kalpataru.

Kinara-Kinari selalu digambarkan separuh burung dan separuh manusia. Beberapa kepercayaan kuno, jauh lebih kuno dari candi ini, meyakini burung adalah perwakilan dunia atas, sedangkan manusia adalah perwakilan dunia bawah. Mungkin pada masa candi ini berdiri, konsep itu juga yang hendak diwujudkan dalam bentuk Kinara-Kinari. Kedua dunia itu dikawinkan, dengan harapan kesatuan dua dunia dapat mendatangkan keharmonisan alam agar tetap gemah ripah.

Kinara-Kinari dan Pohon Kalpataru
 Ada lagi pahatan kumbha yang akan ditemui jika melihat pada dinding kaki candi. Kumbha ini berupa bejana yang mengeluarkan sulur-sulur bergelombang sebagai simbol wadah air kehidupan. Terasa sekali, Candi Banyunibo ini perwujudan berserah diri manusia kepada Penguasa Alam.

Sekarang, candi ini hanya serupa monumen batu. Tidak banyak yang mengunjungi, tidak seperi Situs Ratu Boko atau Candi Prambanan. Tapi karena itu Banyunibo menjadi salah satu yang saya suka. Kalau duduk di tangga masuknya, merasakan sunyinya, dan anginnya yang sejuk, kemagisan candi itu masih sangat terasa.

Sayang, sekarang saking sepinya candi ini, jadi sering dipakai sebagai tempat rujukan pasangan tanggung untuk saling gelendot dan entah apa lagi. Beberapa juga ada yang jahil, karena di sana-sini saya bisa menemukan jejak eksistensi mereka lewat cat semprot warna-warni. Ah.... semoga dewa dewi tidak marah tempatnya dicemari begitu. Semoga Dusun Cepit tetap subur dan magis...

Ketika Indonesia Harus Berkaca Pada Kisah Angling Darma






Zaman dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Angling Darma. Ia adalah raja keturunan ketujuh dari garis keturunan Arjuna, Putra Pandu dari epos Mahabarata.

Angling Darma memiliki kemampuan memahami bahasa binatang. Ilmu yang disebut sebagai Aji Gineng ini ia warisi dari sang Guru, Nagaraja. Sebagai syarat, ia harus merahasiakan ilmu barunya itu pada siapapun, termasuk pada istrinya, Setyawati.

Suatu hari, ketika sedang bersama Setyawati, Angling Darma tanpa sadar menertawai percakapan sepasang cosy (ini sebutan saya untuk hewan tukang nemplok di tembok pokonya). Setyawati pun tersinggung. Namun, Angling Darma tetap menolak berterus terang, karena terlanjur berjanji untuk merahasiakan ilmu Aji Gineng-nya itu.

Setyawati yang bertambah marah mengancam melakukan pati obong untuk mengembalikan harga dirinya. Dengan melakukan pati obong, Setyawati berarti memilih untuk menerjunkan diri dalam kobaran api. Mendengar itu, Angling Darma justru memilih untuk berjanji menemani Setyawati mati daripada harus membocorkan rahasia ilmunya.

Tapi kemudian, Angling Darma pun mendengar pembicaraan sepasang kambing. Dari pembicaraan itu, ia sadar, keputusannya sehidup semati dengan sang istri adalah keputusan egois. Keputusan itu akan merugikan rakyatnya.

Maka, ketika Setyawati terjun dalam api, Angling Darma tak ikut menyertainya. Artinya, ia telah melanggar sumpahnya sendiri untuk ikut mati bersama istrinya

Perbuatan ingkar janji ini membuatnya harus dibuang ke hutan. Untuk menebus dosa, ia harus meninggalkan segala miliknya, juga kedudukannya sebagai raja.

Sepenggal kisah itu diambil dari cerita Angling Darma (Aidharma). Siapa yang tidak kenal cerita ini ya? Bahkan untuk beberapa orang cerita ini dianggap benar-benar pernah terjadi.

Menurut kepercayaan yang ada, kisah ini merupakan tradisi Jawa asli. Di India, di mana dipercaya sebagai induk tradisi klasik di Nusantara itu, tidak pernah ditemukan kisah serupa.

Kapan pastinya kisah ini ditulis, saya tidak bisa jawab. Mungkin ahli manuskrip bisa menjawab ini. Cuma yang saya tahu, saya dan kalian akan bisa menemukannya di dinding Candi Jago. Candi ini bisa didatangi kalau kalian mampir ke Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Berdasarkan sejarahnya, Candi Jago diduga merupakan tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana dari Kerjaan Singhasari. Kalau merujuk apa yang ditulis Bernet Kempers di bukunya, Ancient Indonesian Art, pentahbisan tempat suci ini diperkirakan terjadi pada tahun 1268 M.

"Atau dua belas tahun setelanya, yaitu setelah dilakukannya Upacara Sradha tahun 1280 M," tulis Kempers.

Oke, apa itu Upacara Sradha? Itu mungkin kalau zaman sekarang sama seperti apa yang kita sebut dengan nyadran. Sama-sama mengenang arwah leluhur atau pendahulu yang sudah meninggal.

Nah, selain kisah Angling Darma di Candi Jago ini, sampai sekarang sudah dikenal dengan banyak versi. Itu termasuk Angling Darma yang pernah tayang sebagai sinetron di salah satu stasiun tv swasta kita, dulu sekali. Ingat?

Cerita yang banyak dikenal saat ini jauh lebih panjang. Kesamaannya juga sedikit sekali dengan yang ada di Candi Jago. Sementara, cerita yang ada dalam relief pada dinding Candi Jago, katanya tidak ada kaitannya sama naskah manapun yang ada dari masa yang lebih tua.

"Intepretasi cerita Angling Darma ini telah dipercayai oleh masyarakat sekitar dan dibuat tulisan mengenainya oleh seorang juru pelihara Candi Jago,"  tulis Ann .R. Kinney dalam bukunya Worshiping Siva and Buddha: the temple art of East Java.

Di Candi Jago, kisah Angling Darma tadi berlanjut dengan menceritakan bagian adegan lain. Dalam panel selanjutnya, dimunculkan seorang resi yang nampak berselisih dengan putrinya, yang ditulis Kinney, bernama Ambarwati.

Ambarwati saat itu tengah bersiap pergi berdoa kepada Buddha Vairocana. Ayahnya, sang resi, berusaha menghalanginya, meski Ambarwati terus bersikukuh. Namun, akhirnya mereka berjalan berdua untuk menemui Sang Budha.

Karena perbuatannya menghalangi Ambarwati yang ingin berdoa, Oleh Vairocana sang resi pun dikutuk menjadi raksasa. Raksasa jelmaan resi itu tidak akan bisa kembali ke wujud semula kecuali ia dibunuh dengan panah.

Perjalanan mereka kemudian, mempertemukan Ambarwati dengan Angling Darma. Dalam pertemuan itu, Angling Darma yakin Ambarawati merupakan reinkarnasi dari istrinya terdahulu karena rupa mereka yang sama.

pertemuan Angling Darma dan Ambarwati
 Tidak kalah penting, dalam panel candi itu, muncul tokoh Punakawan, ya punakawan yang itu, manusia cebol bertubuh tambun. Punakawan di sini berjumlah dua. Keduanya menjadi pengikut Angling Darma. Adapun digambarkan pula satu punakawan yang merupakan teman seperjalanan Ambarwati. Punakawan pengikut Ambarwati ini, melihat nonanya didekati Angling Darma pergi melapor pada sang resi karena menganggap Ambarwati tengah didekati orang tak dikenal.

Sementara itu, seorang Brahmana yang melihat hal itu melaporkan apa yang terjadi kepada Vairocana. Vairocana pun segera memerintahkan Bramana tadi untuk melindungi Ambarwati dan Angling Darma dalam perjalanannya.

Seorang Brahmana utusan Vairocana datang untuk mengawasi Angling Darma dan Ambarwati
 Namun, sang Bramana tidak menyadari kedatangan raksasa yang marah karena mendengar laporan dari punakawan mengenai putrinya. Raksasa itu hendak menyerang Angling Darma, tapi tak berhasil. Angling Darma keburu menaklukkannya dengan panah yang justru membebaskan raksasa dari kutukan.

Resi itu berterimakasih kepada Angling Darma dan memberitahunya bahwa ia adalah ayah dari Ambarwati. Kemudian Sang Resi terbang bersama sang Brahamana menemui Vairocana yang telah memberikan restu kepada pernikahan Angling Darma dan Ambarwati.

 Angling Darma pulang kembali ke kerajaan bersama dengan Ambarwati
Jika dibandingkan, tahulah kita kesamaan versi kisah ini dengan yang dikenal sekarang hanya pada awal kisah sampai bagaimana Angling Darma dibuang ke hutan.

Kisah pertemuannya dengan seorang perempuan yang kemudian menjadi kekasihnya juga berbeda. Dalam relief mereka bertemu di hutan, sedangkan pada kisah yang dikenal pada umumnya, mereka bertemu di istana. Latar belakang si perempuan juga berbeda, dalam relief, perempuan itu adalah anak dari seorang resi yang dikutuk, sedangkan dalam versi lain ia adalah seorang putri raja.

Di versi yang banyak dikenal masyarakat, Angling Darma juga diceritakan terkena kutuk dua kali. Selain dibuang ke hutan, ia juga dikutuk menjadi seekor belibis, yang membuatnya bertemu dengan sang putri. Keberadaan tokoh Punakawan, dalam penceritaan naskah tertulis yang umum dikenal juga tidak ditemukan.

Berdasarkan penggambaran yang ada di Candi jago, poin dari kisah Angling Darma ini jelas soal perannya meruwat sang resi dari kutuknya menjadi raksasa. Namun, ini justru tidak ditemukan pada versinya yang lebih umum.

Dari sini, ada beberapa hal yang menurut saya menarik untuk diperhatikan. Mungkin ini semacam petuah dalam cerita. Bahwa, anugrah yang menjadi kelebihan Angling Darma, justru menjadi awalan dari penderitaannya, yaitu kehilangan istri dan kerajaannya. Angling Darma yang tidak mampu mengendalikan kemampuannya akhirnya membawa kemalangan terhadap dirinya sendiri.

Bukan cuma itu, kita bisa belajar, dalam konteks masyarakat lampau, putri dan istri permaisuri bagi seorang lelaki atau raja merupakan harta. Itu bisa dianalogikan sebagai salah satu aspek dari nafsu duniawi.

Dalam cerita, baik Angling Darma maupun sang resi tidak dapat menahan perasaan pribadinya pada dunia. Mereka kemudian dihukum dengan caranya masing-masing.

Angling Darma, ia dengan tergesa-gesa mengucap sumpah untuk ikut bela pati bersama permaisurinya untuk menunjukkan cintanya. Ini adalah tindakan yang salah sebagai seorang raja karena ia meninggalkan dharma-nya hanya demi cintanya pada istri.

Sementara sang resi, seharusnya mengajarkan kebenaran agama, malah menghalangi putrinya untuk pergi berdoa di hadapan Vairocana. Hal ini mungkin dikarenakan kekhawatirannya yang besar. Ia takut putrinya akan berhadapan pada bahaya jika pergi. Karena hal itu, oleh Vairocana ia dihukum menjadi raksasa.

Tapi, setelah semua kekacauan yang terjadi tadi, kisah ini lalu berakhir pada kondisi yang stabil kembali. Sang resi mendapatkan wujudnya yang suci dan diangkat ke surga. Adapun Angling Darma mendapatkan kembali kerajaan dan istrinya, karena Ambarwati dalam cerita digambarkan memiliki wujud yang sama dengan permaisurinya Setyawati. 

Keadaan yang kembali stabil dalam kisah Angling Darma versi Candi Jago ini didapatkan setelah tokoh utama dalam cerita berhasil mengeyahkan nafsu-nafsu duniawi. Ini disimbolkan dengan Angling Darma yang berhasil meruwat raksasa menjadi seorang yang suci kembali.

Lalu kenapa harus dihukum dibuang ke hutan? Bisa dibilang, pengembaraan dalam hutan, melambangkan pencarian dalam ketidakpastian seorang diri. Si terhukum harus mengatasi diri sendiri dari berbagai cobaan dan penderitaan sebelum mendapatkan kesucian batinnya kembali.

Setelah menguasai hal-hal itu, ia dianggap berhasil mengenyahkan nafsu angkara. Di sanalah kesatuan yang menjamin adanya keselamatan, kehidupan, keseimbangan, dan kesejahteraan bisa terjadi. Ini diwakilkan dengan simbol perkawinan antara Angling Darma dan Ambarwati.

Konteksnya dengan masa sekarang? Mungkin saat ini adalah fase di mana kita, dalam skala Indonesia sedang masuk ke "hutan". Ini fase pengembaraan mencari kepastian masa depan. Coba deh, ekonomi lagi nggak stabil, politik dalam negeri juga lagi edan-edanan dan tambah nggak tau malu "nelanjangin" kebobrokan dan keserakahan di depan kamera.

Saya nggak tahu berapa lama Angling Darma mengembara di hutan. Tapi ini terjadi selama 12 tahun untuk Pandawa usai mereka kalah berjudi dengan Kurawa. Lalu Indonesia? selama raksasa-raksasa belum menemukan jati dirinya yang hakiki sebagai manusia yang berakal dan berbudi, mungkin kita masih harus menunggu munculnya era keselamatan, keseimbangan, dan kesejahteraan itu.




Ket. foto:
Salah satu relief Angling Darma di Candi Jago, yang menggambaran adegan ayah Ambarwati berhasil di-ruwat menjadi wujud aslinya setelah terkena panah Angling Darma (Dok. pribadi).