Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts

Sunday, April 10, 2016

Ketika Urang Kanekes Diributi Soal Perut dan Pelestarian Adat




Gunung teu meunang dilebur
Lebak teu meunang dirusak
Larangan teu meunang ditempak
Buyut teu meunang dirobah
Lojor teu meunang dipotong
Pondok teu meunang disambung*


Amanat karuhun itu mewujud dalam pikukuh yang hingga kini dipegang teguh Masyarakat Baduy. Masih banyak pikukuh lainnya yang termaktub dalam buyut (pantangan) yang telah dititipkan nenek moyang kepada mereka yang menyebut diri urang kanekes itu. Intinya adalah cara hidup sebagaimana ajaran karuhun.

Adat yang telah ditetapkan karuhun pantang diubah. Pantangan itu dalam kehidupan sehari-hari masyarakan Baduy diinterpretasikan secara harafiah, khususnya Baduy Dalam.

Akhir-akhir ini, amanat karuhun semakin sulit dilaksanakan. Modernisasi ibarat musuh tak kasat mata, di satu sisi. Di sisi lain, perut lapar tak bisa bohong. Mereka butuh "kemajuan" untuk bisa bertahan.

Sarpin, salah seorang penduduk Baduy Luar melihat perubahan dimulai saat bagaimana kewajiban berladang pun menjadi pekerjaan yang penuh tantangan. Sejak dulu, adat Baduy memberi syarat bagi mereka yang telah berkeluarga untuk memiliki ladang sendiri. Sekitar tahun 1990-an, berladang dilakukan untuk memenuhi dua keperluan, hidup dan adat. Untuk itu, sehari-hari mereka membuka lahan seluas 1-2 hektar dan mampu menghasilkan 300-500 ikat, yang per ikatnya mencapai 3-4 kg beras.

Mereka kini semakin sulit mendapat hasil sebanyak itu. Berdasarkan hasil survey, rata-rata pembukaan lahan hanya sampai 2.000 m2. Itu menghasilkan 50-100 ikat saja. Artinya, per tahun hanya akan dapat 300 kg.

"Sekarang berladang bukan buat kehidupan shari-hari lagi tapi buat kebutuhan adat," ungkapnya saat datang ke acara diskusi berjudul 'Baduy Dulu dan Kini' di Bentara Budaya Jakarta, belum lama ini.


Soal perubahan, ini sebenarnya sudah mulai terjadi sejak masyarakat Baduy mengalami ledakan penduduk. Dalam acara yang sama, Cecep Eka Purnama membeberkan, berdasarkan catatan pertama demografi, penduduk Baduy tahun 1888 hanya berjumlah 291 jiwa yang menempati 10 kampung.

"Hari ini, berdasarkan informasi Pejabat Bidang Pemerintahan Desa Kanekes, Sarpin, penduduk Baduy berjumlah 11.667 jiwa atau 3.402 kepala keluarga, yang bermukim di 64 kampung," papar Arkeolog UI itu dalam acara yang sama.

Data itu berlawanan dengan kenyataan lahan tempat tinggal mereka yang tidak beranjak dari seluas 5.101,85 hektar. Hitungan ini belum termasuk ladang untuk adat maupun lahan suci yang tidak boleh dibuka untuk apapun.

"Orang Baduy masih memegang pikukuhnya. Tapi masalahnya lahan mereka untuk melakukan perladangan sudah terbatas," katanya.

Padahal, beras yang dihasilkan di ladang tidak boleh dijual. Beras yang mereka panen khusus untuk adat dan kebutuhan sehari-hari. Karena sekarang untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, mereka pun akhirnya mencari penghasilan dengan menjual hasil ladang lainnya, seperti madu, pisang, dll. Penghasilannya di antara lain untuk mencukui kebutuhan beras mereka.

"Untuk upacara wajib beras dari ladang, nggak boleh beli. Ngahuma itu adalah ritual mengkawinkan Nyi Pohaci dengan Bumi. Begitu ritualnya," jelas Cecep lagi.

Makanya, mungkin anak-anak Baduy generasi sekarang "tak beruntung" karena tak lagi bisa mendengar suara lisung di pagi hari. Sarman, warga Baduy Luar yang tinggal di Kampung Kadu Ketug, ketika saya beberapa waktu lalu menginap di rumahnya bercerita, warga Baduy dulunya terbiasa dibangunkan oleh suara tabuhan lisung. Paginya, saya memang kecewa karena saya malah dibangunkan suara keramaian turis yang memang saat itu sedang ramai mendatangi Kampung Baduy.

"Kenapa lisung nggak sering bunyi lagi, karena ladang makin sedikit. Leuit (lumbung,red) sudah nggak bagus karena sudah nggak sering diisi," jelas Cecep.

Saya mungkin beruntung akhirnya bisa menemukan kegiatan ini ketika menjelajahi kampung Baduy di pagi hari

Sementara untuk menerapkan teknologi pertanian di lahan sempit, lagi-lagi terbentur larangan adat. Jangankan teknologi modern, mereka tak boleh memelihara binatang berkaki empat untuk membantu mengolah tanah. Mereka pun dilarang memakai cangkul, apalagi traktor.

Lahan menyempit, hutan habis, air langka, kini mereka masih harus berhadapan dengan kedatangan turis-turis masuk ke kampung mereka. Tak disangkal orang-orang luar ini memang mendatangkan penghasilan tambahan, tetapi juga berpotensi merusak kebijakan adat Baduy.

Di sini "perdebatan" itu terjadi. Tak cuma turis, banyak kelompok yang menamai diri mereka aktifis, atau penggiat, atau peneliti, atau pengamat, atau kaum peduli masyarakat Baduy, atau apapun itu sejenisnya yang mulai merasa perlu "membenahi" kondisi Baduy. Mereka datang membawa konsep kehidupan baru. Itu dari mulai konsep rumah sehat sampai cara-cara menampung air untuk menghindari kekeringan yang sering melanda kampung itu.

Dalam hal ini Cecep pun mengimbau kepada semua pihak untuk berhati-hati membawa pengaruh luar ke dalam komunitas Baduy. Menurutnya masyarakat Baduy telah memiliki kearifan lokal sendiri dalam mengolah lingkungan dan membangun pemukiman.

Misalnya soal rumah adat. Rumah adat Baduy memang mungkin jauh dari tipe rumah sehat versi pemerintah atau WHO. Mereka tak punya jendela. Dapur tradisional yang penuh asap itu juga tidak berventilasi. 

Tapi itu bukan tanpa alasan. Cecep menerangkan, masyarakat Baduy membagi semestanya menjadi tiga bagian. Dunia Atas, diperuntukkan bagi leluhur, Dunia Tengah untuk para manusia, dan Dunia Bawah diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak baik.

Menurutnya, ini yang membuat masyarakat Baduy membuat rumahnya tidak langsung menyentuh tanah. Rumah orang baduy berkolong karena menunjukkan mereka penghuni Dunia Tengah. 

"Kalau disemen ini menunjukkan mereka seperti orang Dunia Bawah yang tidak baik. Kemudian asap itu untuk mengusir rayap karena bahan utama rumahnya kan kayu. Ini kearifan lokal. Mereka juga nggak butuh jendela orang udah dingin," ungkapnya.

Kemudian, jika katanya timur menjadi arah hadap rumah yang sehat karena akan mendapatkan sinar matahari pagi yang cukup, rumah Baduy sayangnya menghadap selatan. Tapi lagi-lagi orang Baduy punya penjelasannya sendiri. Di arah selatan perkampungan, terdapat kompleks megalitik yang begitu mereka sakralkan. Lokasi ini merupakan titik tertinggi di sana.

"Selatan ada gunung, ada hutan larangan. Air mengalir dari selatan ke utara. Rumah Pu'un (pemimpin suku, red) ada di selatan. Orang menanam padi dari titik selatan. Mengubur orang juga diarahkan ke selatan," kata Cecep.

Menanggapi itu, Sosiolog, Imam B. Prasodjo menilai ada faktor lain yang juga harus disadari. Kondisi lingkungan saat ini makin menyulitkan Masyarakat Baduy untuk bisa mendukung pelestarian adatnya.

"Sekarang ini yang terjadi memang ada tuntutan untuk konservasi. Menjaga tetap asli. Tapi juga ada kebutuhan perut," ujar dia.

Menurutnya, seiring perkembangan zaman, kewajiban masyarakat Baduy untuk terus melestarikan adat terbentur kebutuhan hidup yang semakin mendesak. Tak hanya perkara sulitnya air atau terbatasnya lahan, masyarakat Baduy pun akhirnya seringkali "dipaksa" untuk berkompromi dengan budaya baru. Misalnya alat kontrasepsi yang kini juga telah digunakan oleh masyarakat Baduy Dalam.

"Soal ini memang hanya akan jadi perdebatan panjang yang nggak selesai-selesai. Kalau saya yang penting bagaimana mereka bisa hidup nyaman," ucap Imam.

Sayangnya, bicara soal kenyamanan itu subjektif. Saya kok jadi teringat masa-masa KKN. Datang ke dusun membawa pemecahan dari persoalan yang kita reka-reka sendiri, padahal mungkin penduduk sana nyaman-nyaman aja. Dalam hal ini, soal mana yang lebih mendesak, rasanya masyarakat Baduy paling tahu apa yang mereka butuhkan.

Sekarang, mendengar Sarpin bicara pun kita akan tahu sudah banyak yang berubah pada masyarakat Baduy. Bahasa Indonesianya lancar. Logat Sunda semakin tipis di pengucapannya. Sarpin juga mengaku mengenyam pendidikan, meski tak formal. Padahal adat tak membenarkan itu.

"Nggak boleh sekolah formal, tapi saya coba supaya masyarakat di sana tetap tahu soal pendidikan. Saya pernah ngajar juga," ceritanya.

Kalau sudah begitu, masa kita mau cegah mereka yang merasa butuh pendidikan? Karena bagi Sarpin, tinggal di Baduy tidak harus bodoh. Ia melihat, justru teman-teman yang lebih pintar, terbukti lebih mampu menghargai budaya.

"Hidup di tengah-tengah modernitas itu berat," kata dia mengakui pada akhirnya.

 ***

Dan ini beberapa jepretan yang saya ambil ketika main ke kampung Baduy beberapa waktu yang lalu......




Gadis Penenun. Di Baduy, gadis yang tidak bisa menenun sulit dapat suami




Leuit atau lumpung padi






*artinya:
Gunung tak boleh dihancur
Lembah tak boleh dirusak
Larangan tak boleh dilanggar
Buyut tak boleh diubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung

Saturday, November 28, 2015

Di Balik Cantiknya Kawah Ijen



Pengalaman naik gunung malam hari yang tidak begitu menyenangkan membuat saya ketar ketir ketika ditantang lagi untuk mendaki Gunung Ijen malam-malam. Saya punya masalah dengan pernapasan saya. Bukan asma. Tapi anemia membuat angkutan oksigen di tubuh saya jadi terganggu.

Terlebih kalau malam hari. Kenyataan harus berebut oksigen dengan tanaman membuat napas saya semakin sesak. Itu yang saya rasakan ketika mendaki Papandayan beberapa bulan lalu.

Untungnya, itu tidak cukup untuk menghentikan saya. Mumpung ada yang mengajak. Mumpung juga ada teman yang mau jemput dan mengantar.

"Jogging lu ris, siapin fisik, dua kali lipat dari naik ke Curug Cibereum," kata teman saya, Eko ketika saya mengiyakan ajakannya.

Jadilah saya selama beberapa hari mendisiplinkan diri bangun lebih pagi. Rencananya sih selama dua pekan saya mau rutin keliling kompleks. Tapi.... ah dasar pemalas.

Bukan tanpa alasan kami memilih waktu malam hari untuk mendaki. Kami mengincar blue fire atau si api biru yang termasyur itu. Pun membayangkan menikmati matahari terbit di dekat Kawah Ijen rasanya sangat melankolis.

Tapi biar sudah membekali fisik dengan hasil jogging yang seadanya bukan berarti saya bisa berhenti ketar ketir kan? Badan saya sudah luar biasa terkoyak-koyak, karena sejak tiba di Surabaya pada pagi hari hingga malam hari tiba di Pos Paltuding, kami belum istirahat dengan layak. Terlebih sepanjang pagi sampai sore kami malah berhura-hura menjelajahi Taman Nasional Baluran.

Malam itu, kami tiba di Pos Paltuding sekitar pukul 23.00 WIB. Begitu keluar mobil, udara dingin langsung berebut menusuki badan. Buru-buru saya keluarkan jaket tebal saya dan membungkus tubuh dengan rapat. Tangan saya saya masukkan dalam sarung tangan agar tidak mati rasa karena dinginnya udara musim kemarau.

Syukurlah malam itu cerah. Terlihat dari bintang-bintang khas pegunungan yang berhambur seenaknya di langit.

"Katanya pendakian baru dibuka pukul 03.00 WIB," kata Mas Ardi, teman yang sekaligus menjadi pemandu wisata kami.

Saya agak kecewa. Karena itu berarti kesempatan kami untuk bisa melihat blue fire jadi sedikit. Katanya, fenomena ini cuma akan muncul sebelum matahari terbit. Itu berarti setidaknya kami harus mulai mendaki pukul 01.00 WIB. Padahal kata Mas Ardi, jarak pendakian sampai di kawah itu sekitar 3 Km. Kalau cepat, bisa cuma 1,5 jam sampai. Tapi kata dia, rata-rata orang mendaki santai bisa sampai 2-3 jam.

"Kita tidur dulu aja ya," ucapnya kemudian.

Si Eko sebenarnya sudah mempersiapkan diri dengan membawa tenda. Tapi rasanya agak ribet karena kami semua sudah sangat lelah. Akhirnya kami berenam berjubel-jubel meringkuk di dalam mobil. Ini mungkin pilihan yang bijak, karena tentunya mobil lebih hangat dibanding tidur dalam tenda. Haha.

Rasanya saat itu saya sudah lama tertidur. Udara dingin yang merembet masuk ke dalam mobil akhirnya membangunkan saya. Ternyata masih tengah malam. Ah lama sekali harus menunggu sampai pukul 03.00 WIB, pikir saya.

Usai membuat tubuh semakin rapat dengan jaket dan kian melipat paha saya ke dada, saya pun melanjutkan tidur. Tapi lagi-lagi saya terbangun karena tiba-tiba harus ke kamar mandi. Baiklah saya lupa bilang kalau itu hari Sabtu. Entah mungkin takdirnya hari Sabtu, bahkan di gunung pun begitu ramai. Mau ke kamar mandi pun harus mengantri.

Tidak begitu ingat itu sudah pukul berapa. Ketika saya kembali ke mobil beberapa teman saya masih tertidur. Saya rasanya sudah capek tidur. Ingin segera bergerak, karena saat itu sudah kelewat dingin.

Di luar, dekat pos pendaftaran sudah mulai ramai orang bergerombol. Banyak juga bule-bule yang ke Ijen waktu itu. Ah, saya mulai sebal. Heran, kenapa pendaftaran tidak dilakukan saat mobil masuk ke Kawasan Gunung Ijen sih? Kalau begini caranya nanti pasti antrian membludag.

Satu per satu teman-teman saya bangun. Kami pun mulai membekali diri. Senter, air minum, makanan kecil, bahkan kompor dan gas kecil juga kami bawa.

"Siapa tahu lu mau ngopi di atas," kata Eko.

Cukup bawa dua tas ransel yang dibawa Eko dan Rena. Masing-masing juga membawa botol minumnya sendiri-sendiri. Saya bawa botol air dan tas kamera.

Karena saya dan Eko yang paling dulu siap, kami pun menuju antrian untuk mendaftar. Meski tak harus mengantri lama, perkiraan saya sebelumnya tidak seratus persen salah. Eco yang merelakan diri masuk dalam antrian pun harus merasakan aksi dorong dan luapan emosi dari para calon pendaki.

"Lo sini aja ris, jaga-jaga kalau duit gue kurang," instruksinya kepada saya.

Ya itu tugas "berat" saya, berdiri di luar antrian sambil melihat teman saya terdorong ke sana kemari. hahaha. Tapi ternyata kami pun hanya harus membayar Rp 7.500 per orang.

Baiklah setelah pendafaran beres, ini dia saatnya mengetes fisik hasil jogging seadanya. Berdasarkan informasi, Gunung Ijen memiliki ketinggian 2.386 mdpl. Sejujurnya agak grogi juga saya malam itu. Teman-teman perjalanan saya alumni Mapala semua di kampusnya. Apalah saya dibandingkan mereka yang cuma punya bekal hobi jalan-jalan ini.

Bagitulah, saya akhirnya mulai menapaki jalur pendakian, yang waktu itu diselimuti debu tebal. Musim kemarau membuat jalur pendakian makin sulit didaki. Terlebih malam itu begitu ramai. Ujian saya bertambah karena debu-debu yang tebal itu juga berterbangan diinjaki para pendaki. Kalau tidak hati-hati ini bisa menambah sesak napas saya.

Untungnya saya bawa masker. Tapi ternyata masker justru membuat saya seperti dibekap.

"Pelan-pelan aja jalannya masih awal," seru Mas Ardi .

Dalam perjalanan itu, saya rasanya bisa membagi tipe jalur pendakian menjadi tiga bagian. Pertama kita akan langsung ditantang dengan kondisi yang agak menanjak. Kondisi akan semakin menanjak dan berkelok tajam pada jalur tipe kedua. Pada bagian ini, kalian akan semakin sering melihat orang berhenti, menepi, dan mengambil napas.

"Tuh lu bisa terus jalan, ris." kata Eko, yang tahu masalah pernapasan saya.

Iya, saya sendiri juga heran. Saya sama sekali tidak sesak napas. Bahkan pendakian saya bisa dibilang cukup lancar dan cepat.

Sebelum memasuki jalur pendakian tipe ketiga, kami lebih dulu singgah ke peristirahatan. Tempat ini biasanya dipakai penambang belerang untuk menimbang belerang mereka. Waktu itu langit masih gelap, jadi tempat penimbangan itu pun belum ramai.

Baru sebentar mengatur napas, suhu badan saya kembali turun. Hawa dingin mulai merembet.

"Yuk jalan lagi, udah mulai dingin nih," ajak mas Ardi.

Dia bilang, perjalanan kami tidak akan jauh lagi. Setelah pos istirahat ini jalur di depan juga sudah tidak seekstrim sebelumnya. Datar, datar, dan datar.

Sampai di sini, saya menengok jam di tangan. Jarum jam menunjuk hampir 04.30 WIB. Ah mulai saat itu, saya sudah mengurangi keinginan saya untuk bisa melihat blue fire. Di Jawa Timur matahari lebih cepat mengangkasa. Terutama, pemandangan yang saat itu sudah lebih terbuka membuat saya menyadari benih-benih fajar mulai nampak.


Kawah Ijen dan penambang belerang

Benar saja, sampai di Kawah Ijen suasana sudah terang. Matahari sudah muncul secuil di kejauhan.

"Ini musim kemarau jadi semakin mempet kalau mau ngejar blue fire," kata bapak-bapak penambang belerang dengan logat Jawanya. Ia rupanya sempat mendengar keluhan saya tadi.

Tapi rasa kecewa saya terobati. Pemandangan di atas sana membuat saya lupa dengan blue fire. Angin begitu kencang, tetapi dngin tidak lagi terasa.

Di dekat kawah, saya sempat ngobrol sedikit dengan Pak Supardi, penambang belerang yang sedang beristirahat. Sepagi itu dia sudah sekali bolak-balik mengangkut belerang.

"Bapak biasanya dua kali bolak balik, dapatnya 60 kg, satu kilo dibayar Rp 1.000," tuturnya.

Saya melihat tubuhnya yang tak lagi tegap dan kulitnya yang keriput di sana sini. Pun membayangkan harus naik turun dengan rute sama seperti yang saya lalui tadi, ditambah pikulan bongkahan belerang puluhan kilo, rasanya saya memang tidak pantas mengeluh lelah. Tapi yakinlah, sebagai wisatawan, lelahnya mendaki akan terbayar jika sudah melihat pemandangan di atas Kawah Ijen.

Aktivitas subuh penambang belerang
Beberapa saat kemudian, obrolan saya hentikan ketika dia mulai memberikan sinyal menawarkan jasa lebih. Dia terus bertanya apa saya ingin turun ke kawah. Dari bahasa tubuhnya, mengantarkan turis ke kawah merupakan kerja sambilannya.

Ternyata memang begitu, beberapa kali saya bahkan mendengar mereka meneriaki turis-turis yang memfoto kegiatan mereka. Rupanya mereka hanya mau difoto asal ada uangnya.

Hak mereka juga. Lagipula saya setuju mereka butuh uang tambahan jika dari menambang rata-rata hanya bisa menghasilkan Rp 60.000 sehari. Tapi hak saya juga kalau saya bisa dapat foto-foto mereka diam-diam. Hahaha... (tiba-tiba merasa jahat)...





Ramainya turis dan penambang belerang yang hilir mudik tidak membuat tempat itu kehilangan daya pikatnya. Saya betah berlama-lama di sana. Bahkan akhirnya kami pun memutuskan untuk memanaskan air dan minum kopi di dekat kawah. Rasanya nikmat biar cuma kopi instan bungkus.

Keliihatannya Kawah Ijen, turis, dan belerangnya tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat sekitar. Itu sumber kehidupan bagi bapak-bapak seperti Pak Supardi tadi. Beberapa kali dalam perjalanan pulang saya pun menjumpai penambang-penambang itu menjual cinderamata yang mereka buat dari belerang. Akhirnya saya justru merasa melankoli bukan dengan pemandangan menakjubkan dari Kawah Ijen. Di sini, di balik hingar bingar turis yang mendaki demi kepuasan, ada mereka yang harus mendaki susah payah demi menghidupi diri sendiri dan keluarnya.

Cinderamata dari Kawah Ijen

Hmmm... Terakhir, saya mau berbagi sedkit soal Ijen yang semoga bisa disimpulkan sendiri lewat jepretan amatiran saya di bawah ini....


Birunya langit Gunung Ijen

Kereta kencana para pengais belerang

Sambilan


Bongkar muatan

Menanti untuk diisi kembali

Belerang dipecah sebelum diangkut kembali


Berkawan dengan peluh


Friday, November 27, 2015

Baluran: Berpetualang di Alam Liar Ala Afrika




Matahari seperti mau menguliti kami hidup-hidup saat itu juga. Ditambah lagi kami belum sempat mandi saat memasuki gerbang Baluran (abaikan!). Kami yang baru saja datang ke Surabaya dari Jakarta subuh tadi, langsung dibawa ke taman nasional yang ada di Banyuwangi itu.

Waktu itu belum begitu siang sebenarnya. Tapi di Jawa Timur matahari selalu lebih tergesa mengisi langit. Lagipula sebenarnya musim kemarau membuat kami tidak terlalu khawatir perjalanan kami diganggu hujan. Tapi kami harus menebus kenikmatan itu dengan terik dan pemandangan kering di sekeliling kami. Seakan satu sisa puntung rokok yang masih menyala dan jatuh bisa langsung menyulut dan membabat habis seluruh yang ada di sini.

Hari itu kami berenam di dalam mobil yang sengaja dilambatkan ketika memasuki kawasan hutan Baluran yang mengering. Anehnya, meski panas kami lebih memilih mematikan AC dan membuka jendela. Ini bukan pemandangan yang akan sering kami saksikan.

Terik
 Banyak yang bilang, Taman Nasional Baluran itu seperti miniatur Afrika di Jawa. Itu saya amini ketika akhirnya kami masuk ke kawasan Savana Bekol.

Untuk sampai ke situ, kami harus melalui jalanan bergelombang dan tentunya berdebu. Di sekeliling kami hutan-hutan terlihat memutih saking keringnya iklim di Bulan November tahun ini.

"Di sini biasanya banyak ayam hutan berkeliaran," kata Mas Ardi, si pemegang kendali mobil dan mungkin yang paling hafal tempat ini di antara kami semua. 

Kami pun seperti dapat aba-aba celingukan mencari si ayam hutan. Tapi nihil. Lagi-lagi kami cuma lihat debu dan panasnya matahari yang menyengat.

"Mungkin mereka juga lagi neduh. Nanti sore mungkin baru keluar," jelas Mas Ardi lagi. Sebagai teman yang baru saya kenal, beberapa kali ia memang jadi terkesan seperti pemandu wisata. haha.

"Eh itu!" saya tiba-tiba nyeletuk. Di antara dahan mengering itu, ada penghuni hitam, gagah, dan besar. Ternyata elang menjadi satwa penyambut pertama kami di Baluran.

"Coba lihat deh, itu di bawahnya ada selang air, dia sengaja nyari sumber air," lagi-lagi suara Mas Ardi menyahut dari balik kemudi.

Itu dia elangnya, titik kecil hitam di tengah pohon yang mengering
Agak panjang perjalanan kami untuk menyudahi pemandangan yang itu-itu saja. Sempat juga diselingi kawasan Evergreen. Kata Mas Ardi sih ini seharusnya hutan yang tidak pernah kering di musim apapun. Tapi, yang kami lihat waktu itu tidak sehijau biasanya.

"Sampai-sampai Evergreen aja berubah warna gini ya," ucapnya.

Sekitar 12 km dari gerbang utama untuk sampai ke Bekol. Perlahan kami pun mendapati jalan sempit yang dikelilingi hutan meranggas, mulai membuka. Kali ini sekawanan kera abu-abu ekor panjang yang menyambut kami. Hawa panas rupanya tidak menyurutkan kelincahan mereka.

Bekol, merupakan padang savana terbesar di wilayah itu. Saat itu savana menambah teriknya matahari dengan pemandangannya yang hanya didominasi coklat keemasan. Beberapa tanahnya retak dan rumputnya sedikit memutih di sana-sini tertutup debu.

Hujan memang sudah terlalu lama dinantikan. Tumbuhan widoro bukol, mimba, dan pilang saat itu pun hanya berdiri ringkih tanpa rimbunan yang bisa menjadi tempat berteduh satwa.

Savana Bekol

Kawanan kera lebih banyak kami temukan di sekitar tempat pemberhentian pengunjung Savana Bekol. Mobil kami harus jalan perlahan, karena kemeriahan kera itu menghambat lajunya. Saya celingukan, berharap ada satwa besar yang bisa ditangkap mata. Sayangnya tidak terlihat.

Kami pun memutuskan untuk langsung menuju ke Pantai Bama yang letaknya 3 km dari Bekol. "Mungkin agak sore muncul hewan-hewan lainya," kata Eko, yang sejak awal sibuk dengan kameranya.

Tapi kami beruntung. Dalam perjalanan menuju Pantai Bama, sedikit jauh dari jalur mobil, mata kami menangkap sekawanan rusa sedang berteduh. Saya dan Eko langsung melompat turun siap dengan kamera. Sayangnya, mereka yang menyadari keberadaan kami tiba-tiba waspada dan berdiri. Saya sedikit merasa bersalah mengganggu mereka, karena begitu kami mendekat mereka langsung berjalan pergi.

Kawanan rusa yang berteduh
Di Bama, lagi-lagi beberapa kera sudah menanti kami. Sebagaimana di kawasan wisata lain, di situ mereka tidak canggung meski cukup banyak pengunjung yang datang.

Pantai Bama adalah pantai pasir putih yang dikelilingi hutan bakau dengan ombak yang tenang. Di balik keringnya savana tadi, Bama seperti dunia lain yang tersembunyi.
 
Pantai Bama dan ombaknya yang luar biasa tenang
 Kami yang sedikit tak betah berdiam lama-lama di pantai pun memutuskan untuk kembali. Kali ini, pemandangan dalam perjalanan kembali menuju Bekol, menjadi lebih hidup. Tidak seterik waktu kami datang, Bekol juga menjadi lebih ramai. Di hadapan kami Gunung Baluran tegap berdiri di tengah langit yang biru cerah. Di kejauhan kami pun melihat kawanan rusa yang beramai-ramai menyebrangi jalur mobil.

"Co! itu merak!" seru saya kepada Eko, yang sejak melihat satwa di kejauhan kembali melompat dari mobil dan siap berlari-lari dengan kamera. Serasa seperti mendapat bonus bisa melihat merak hijau dengan liar berlari melintas di kejauhan. Sayangnya terlalu jauh dan terlalu cepat untuk kami kejar dengan kamera.
Berkubang
Tidak terasa juga, rupanya kami cukup lama menghabiskan waktu di Bekol. Sudah sore, dan badan saya mulai terasa sulit diajak bergerak lebih. Padahal masih banyak tempat di Taman Nasional Baluran yang tidak sempat saya jelajahi. Kami juga akhirnya tidak berhasil melihat banteng liar yang katanya menjadi maskot dari taman nasional ini.

Tapi yang pasti perjalanan ke Baluran ini membawa kesan tersendiri. Wisata alam toh tak harus gunung dan laut saja kan? Dan sepertinya sore hari memang menjadi waktu bagi ayam hutan menampakan diri. Akhirnya mereka pula yang mengantarkan kepulangan kami dengan berhilir mudik dekat jalur mobil. Dari sini saya jadi tertantang untuk mengunjungi taman nasional lainnya....


Kembali pulang...

Beberapa jepretan yang sayang dilewatkan....

Gunung Baluran

Sejauh mata memandang

Berkenalan

Banyunibo: Kemagisan yang Sunyi



Sekitar 13 abad yang lalu, sekelompok masyarakat meninggali kawasan gersang di sebuah desa di Pulau Jawa. Tanah mereka dikelilingi perbukitan karst. Pada musim kemarau angin menjadi lebih kering daripada biasanya sekaligus menerbangkan debu yang membuat mata pedih.

Demi kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, mereka pun mengorbankan harta bendanya demi membangun pemujaan untuk dewa dan dewi. Mereka ingin memohon kepada langit agar mau memberkahi tanah mereka.

Itu yang ada dalam bayangan saya ketika melihat satu kompleks candi di sebuah dusun yang kini dinamai Cepit, di kawasan Prambanan, Yogyakarta. Dinamai Banyunibo atau “air yang jatuh”, mungkin karena bentuk atap stupanya yang seperti tetesan air. Tapi mungkin juga memang sejak dulu, Candi Banyunibo diharapkan menjadi setetes air di tanah yang gersang.

Kini candi itu lebih sering tersembunyi di balik kebun tebu yang rapat. Terutama ketika tebu itu sudah lebih tinggi dari kepala manusia. Ujung stupa di atapnya pun hanya akan terlihat jika kita mendekat.

Mungkin juga, itu tandanya para dewata telah mengabulkan doa masyarakat Cepit pada masa lalu. Gersangnya perbukitan karst tidak begitu terasa. Saya justru lebih merasa damai dan sejuk, karena kini candi itu dikelilingi areal persawahan yang luas.

Dengan pemandangan begitu, banyak orang melihatnya seperti sebatang kara.Tapi sebenarnya candi itu tidak sendiri seperti kelihatannya. Dulunya ia terdiri dari sebuah candi induk yang di kelilingi oleh enam candi perwara berbentuk stupa, yang berderet di sisi selatan dan timur. Sayangnya keenam pengiringnya saat ini sudah berubah menjadi reruntuhan.

Soal imaji saya tadi juga bukannya tanpa alasan. Di candi ini, Hariti dipilih menjadi dewi tempat masyarakat kala itu menggantungkan permohonannya. Memasuki lorong pintu masuk di sebelah barat, setelah menaiki tangga, pada dinding sebelah kanan, kita akan menjumpai relief seorang wanita yang duduk memperlihatkan kelaminnya. Ia digambarkan sedang dikerumuni anak kecil. Di seberangnya, yaitu dinding sebelah kiri, ada seorang laki-laki dalam relief sedang dalam posisi duduk di sebelah guci yang berukuran cukup besar.

Dalam Agama Budha, Hariti dikenal sebagai Dewi Kesuburan. Sementara yang laki-laki adalah suaminya, Vaisravana. Ia adalah Dewa Kekayaan.

Bukan cuma di situ, sosok Hariti juga disematkan pada dinding dalam di atas ambang pintu. Ia sedang duduk bersila diapit oleh dua ekor burung merak, dan juga terlihat sedang dikerumuni anak kecil.
Dewi Hariti
Selanjutnya, permohonan juga mereka simbolkan dalam bentuk Pohon Kalpataru. Dalam bilik candi, pada tembok yang langsung menghadap pintu masuk, kita akan lihat pahatan yang sepertinya menggambarkan pohon kehidupan itu. Sayangnya tidak begitu jelas. Selain karena keadaannya yang telah aus, beberapa batu asli yang memuat bagian gambar itu mungkin tidak ditemukan. Akhirnya beberapa bagian harus digantikan oleh balok-balok andesit polos yang terlihat masih baru.

Adapula perlambang yang diwujudkan pada dinding bagian luar candi. Sepasang makhluk kayangan bernama Kinara-Kinari dipahatkan bersama dengan Pohon Kalpataru.

Kinara-Kinari selalu digambarkan separuh burung dan separuh manusia. Beberapa kepercayaan kuno, jauh lebih kuno dari candi ini, meyakini burung adalah perwakilan dunia atas, sedangkan manusia adalah perwakilan dunia bawah. Mungkin pada masa candi ini berdiri, konsep itu juga yang hendak diwujudkan dalam bentuk Kinara-Kinari. Kedua dunia itu dikawinkan, dengan harapan kesatuan dua dunia dapat mendatangkan keharmonisan alam agar tetap gemah ripah.

Kinara-Kinari dan Pohon Kalpataru
 Ada lagi pahatan kumbha yang akan ditemui jika melihat pada dinding kaki candi. Kumbha ini berupa bejana yang mengeluarkan sulur-sulur bergelombang sebagai simbol wadah air kehidupan. Terasa sekali, Candi Banyunibo ini perwujudan berserah diri manusia kepada Penguasa Alam.

Sekarang, candi ini hanya serupa monumen batu. Tidak banyak yang mengunjungi, tidak seperi Situs Ratu Boko atau Candi Prambanan. Tapi karena itu Banyunibo menjadi salah satu yang saya suka. Kalau duduk di tangga masuknya, merasakan sunyinya, dan anginnya yang sejuk, kemagisan candi itu masih sangat terasa.

Sayang, sekarang saking sepinya candi ini, jadi sering dipakai sebagai tempat rujukan pasangan tanggung untuk saling gelendot dan entah apa lagi. Beberapa juga ada yang jahil, karena di sana-sini saya bisa menemukan jejak eksistensi mereka lewat cat semprot warna-warni. Ah.... semoga dewa dewi tidak marah tempatnya dicemari begitu. Semoga Dusun Cepit tetap subur dan magis...

Sunday, August 23, 2015

Dufan, Sebuah Pabrik Kebahagiaan di Utara Jakarta



"Udah...Udah...Udah..!!!"

Kawan di sebelah kanan saya terus berteriak, ketika kursi yang kami duduki diputar balikkan di atas ketinggian 7 m di atas permukaan tanah. Sebentar-sebentar kepala kami di bawah, kemudian kembali tegak, lalu diluncurkan kembali ke tanah, lalu ke arah langit. Kaki-kaki kami seperti tak bertulang.

Diombang-ambing ke atas dan ke bawah. Kaus yang saya pakai sudah tak karuan. Punggung saya merasakan angin bebas, karena kaus saya terus terangkat mendekati leher. Ini menjawab keheranan saya ketika mendengar ada perempuan yang sampai mencari kerudungnya. Kerudung merah mudanya terlepas dari kepala saat ia ada di posisi seperti saya.

Ah tapi sumpah, saat di atas sana saya tak memikirkan itu. Siapapun yang pernah menaiki wahana Tornado di Dufan pasti tau rasanya.

"Udah..Udah...Udah...!!"

Teman di sebelah saya itu kembali berteriak ketika kepala kami terarah bebas menuju tanah. Tuhan... nyawa kami saat itu hanya bergantung pada pengaman di dua lengan dan sabuk di pinggang kami.

Teriak dan tertawa lepas itu pilihan saya untuk menghilangkan kengerian berada di atas sana. Tak tahulah saya jika ditanya berapa lama ada didalam jepitan "pengaman" itu. Goncangan itu terasa sangat sangaaaaat lama.

Hari itu masih pagi. Kami berempat, saya, Dian, Sonia, dan Dwi, sengaja berburu tiket paruh harga saat Dufan sedang bertitel "Girl's Month". Pukul 08.00 WIB kami sudah berangkat dari kos di Pajaten.

Sampai Dufan masih pukul 10.00 WIB kurang. Antre sudah mengular, tapi tidak begitu panjang. Tak sampai setengah jam kami sudah di dalam.

Ada yang namanya Rumah Miring dan Rumah Jahil. Dua rumah ini sama jahilnya, walaupun hanya satu yang dinamai jahil. Kalau di Rumah Miring, saya jadi susah berjalan, bahkan mengambil gambar karena kemiringannya.

Susah berjalan kalau tidak pegangan
"Itu tadi tipuan otak atau memang miring sih?" seru Dwi setengah tertawa saat keluar dari wahana itu.

Sementara di rumah satunya, jangan pernah berpikiran untuk berlari, atau berjalan cepat. Asal tahu saja, seperti namanya, cermin-cermin itu jahil dan suka menipu. Kepala saya hampir terantuk karena salah mengira cermin sebagai jalan keluar.

saya-nya jadi banyak. hihihi...
Dari sana, kami langsung mengarah ke wahana outdoor. Kami mencari wahana yang paling sedikit antriannya. Pagi hari itu, di saat orang kebanyakan memilih wahana lain untuk pemanasan, sebelum menjerit-jerit kesetanan, Dian menggeret kami menuju wahana Tornado.

Tornado
Wahana ini masih sepi. Tidak perlu mengantri. Kami hanya menunggu sampai mesin Tornadonya selesai merontokkan nyali pengunjung yang menaikinya lebih dulu.

Dwi yang terbiasa pakai rok panjang, ketika melihat bagaimana mesin itu bekerja langsung izin mengganti roknya dengan celana. Mukanya sudah pucat.

Teriakan sudah pecah dari saat kami memasuki lorong antrian ke wahana Tornado. Ah gila, Dufan memang gila. Di sini semua berteriak dan memang mau tak mau berteriak. Sambil menunggu saya jadi teringat film Monster Inc garapan Pixar. Dunia monster di film itu mendapatkan energi lewat teriakan anak kecil yang ditampung dalam tabung.

Dufan mungkin sama. Hanya bedanya, di film itu mereka menggunakannya sebagai energi pembangkit listrik, di Dufan teriakan pengunjung mereka proses kembali untuk memproduksi kebahagiaan. Tentu saja kebahagiaan untuk semua pengunjung. 

Coba saja lihat, setelah terguncang-guncang dan berteriak histeris, ketika mesin berhenti bergaung, mereka justru sumringah dan tertawa senang. Sudah lupa mereka tadi setakut apa.

Tidak cuma di wahana Tornado saja. Saya bisa berfantasi seperti melihat awan kapas berwarna-warni menggantung di atas kepala pengunjung yang semakin besar ketika mereka keluar dari satu wahana ke wahana yang lain. Mereka berteriak ketika diayun kencang dengan Kora-Kora, lalu histeris ketika dihempaskan cepat di atas ketinggian 60 m bersama Hysteria, dan tertawa lebar ketika mesin berhenti berayun.
Hysteria yang bikin histeris
Di Dufan, ketakutan bisa dirubah menjadi kebahagiaan. Pantas saja dinamai Dunia Fantasi. Akan sulit mencari muka muram di tempat itu. Betul, dengan diskon separuhnya, hari itu kami membayar Rp 135ribu untuk merasa bahagia. Dufan, Pabrik Kebahagiaan yang ada di kawasan Jakarta Utara itu memproduksi rasa bahagia serupa kapas berwarna warni bagi siapapun yang masuk ke gerbangnya.


 Sayangnya, awan-awan itu tidak bisa dibawa pulang. Saya merasakannya awan warna-warni di atas kepala saya kian menipis mendekati pukul 20.00 WIB. Itu saat Dufan harus mengakhiri jam operasinya. Saya masih mengatri untuk masuk ke wahana Ice Age saat itu.

"Habis ini kita harus kembali ke kenyataan," kata Dwi. Kami berempat pun menghela napas bersamaan. Hari Senin tiba-tiba terasa hanya tinggal beberapa menit lagi. 

Tuesday, May 26, 2015

Oleh-Oleh Kerinduan Dari Papandayan



Matahari sudah hilang sejak kami mulai meninggalkan Terminal Guntur yang ada di Kabupaten Garut. Waktu kami sampai di terminal, jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 16.30. Cukup sore sebenarnya untuk kami memulai pendakian nantinya. Khususnya bagi saya yang akan melakukannya untuk pertama kali.

Tadi siang, kami baru mulai berangkat dari Jakarta sekitar pukul 11.30 dengan Bus Primajasa jurusan Garut. Padahal dari Terminal guntur ini kami masih harus melalui perjalanan sekitar satu jam lagi atau bahkan lebih, untuk sampai ke titik awal pendakian Gunung Papandayan, salah satu gunung yang ada di Garut dengan ketinggian 2.665 Mdpl. Bukan cuma itu, dalam satu jam perjalanan ke titik awal pendakian, kami butuh satu kali lagi berpindah kendaraan.

Cukup nekat sebenarnya kami ini. Binti, rekan sesama Republika, adalah satu-satunya peserta yang sudah lebih akrab dengan pendakian, di antara kami berenam yang semuanya perempuan itu. Sementara untuk Papandayan, tidak satupun dari kami yang pernah mencoba mengakrabinya. Tapi tidak tahu kenapa, saat itu rasanya kami semua hanya merasakan antusiasme yang memuncak.

Setelah sampai di Cisurupan, kami pun berhasil melobi untuk sebuah mobil bak terbuka demi mencapai pos pendakian. Sudah malam, jadi kami tidak bisa melihat pemandangan kiri-kanan saat kami rasa kendaraan itu semakin menanjak. Kami hanya bisa memberi pujian untuk pemandangan di kejauhan yang memperlihatkan kelap kelip lampu kota. Dari situ kami tahu, kami sudah semakin menajuhi daratan.

Akhirnya mobil pun berhenti. Kami melompat turun dan segera meraba tempurung besar di punggung kami untuk mencari senter. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 20.00. Baru ingin melangkah, bapak-bapak di belakang kami langsung memperingkatkan untuk menunda pendakian hingga pagi. Tapi saat itu cuaca begitu cerah. Bintang di langit sudah mulai memperlihatkan diri satu, dua, tiga, belasan mungkin. Kami ingin mendaki saat itu juga.

Sejak awal kami memang berencana hanya akan melakukan pendakian ini separuh. Berenam, kami akan menanti pagi dengan mendirikan tenda di camping ground Pondok Saladah. Baru besoknya kami mencari puncak si Papandayan.

Keraguan kami akibat peringatan bapak-bapak tadi pun terpecahkan. Syukurlah, saat itu ada seorang bapak pemilik warung di atas kawah yang juga berniat melalui jalan yang sama dengan kami. Jadilah rombongan kami bertambah dua setengah peserta lagi. Setengah? Ada si kecil Hasan yang gesit berkelit di atas tanjakan batu sekaligus sebagai pimpinan rombongan. Bocah kelas dua SD itu luar biasa. Hanya dengan sendal jepit kakinya melangkah lincah sekali.

Saya pun menarik nafas. Berdoa semoga pendakian Gunung Papandayan kali ini berjalan baik.

Sebenarnya saya selalu punya alasan kenapa dari dulu menghindari diri untuk mencoba mendaki gunung. Menempuh kuliah di jurusan Arkeologi, hal semacam ini seharusnya tidak asing bagi saya. Hampir semua teman-teman saya adalah pecinta alam. Tapi kenyataannya, setiap ada yang mengajak saya selalu tahu diri.

Entah kenapa kali ini saya merasa harus ikut. Paling tidak selama hidup saya pernah merasakan sensasi ini. Dan memang, alasan saya pun terbukti. Saya sudah memperkirakan hal ini bakal terjadi. Saya sesak napas.

Udara malam yang tipis oksigen, ditambah dataran tinggi yang juga semakin menipiskan kebutuhan paru-paru saya, semakin membuat saya ingin mencukupkan perjalanan malam itu. Untunglah, saya sangat bersyukur teman-teman saat itu sangat pengertian. Mereka tidak terburu-buru sampai tujuan. Ketika saya bilang butuh istirahat dan menghela nafas, mereka pun tanpa protes langsung menghentikan langkah.

Sekeliling kami begitu gelap. Kami tak akan tahu penampakan kiri dan kanan kami, jika saja hidung ini tidak menangkap bau belerang yang semakin kuat. Cukup kuat sampai membuat beberapa teman terbatuk-batuk. Kami agak melambat di sini, jalan berbatu juga cukup membuat kaki cepat pegal. Satu-satunya pemandangan yang jelas bagi kami adalah kilauan lampu di kejauhan yang menyatu dengan gemintang beralas langit yang gelap. Cuma di sini, di ketinggian seperti ini, benderang kota tak bisa mengalahkan ciptaan Yang Kuasa. Segera saya membayangkan seperti apa langit di atas nanti. Pikiran ini pun seperti menjadi tenaga baru bagi saya dan kawan-kawan untuk meraih dataran yang lebih tinggi.

Jalan berbatu ini akhirnya tuntas dilewati setelah warung milik bapak pemandu dadakan kami tadi nampak di depan mata. Kedua bapak itu dan tentunya si kecil Hasan harus berpisah di sini. Ketidaktahuan kami soal jalur pendakian memunculkan sedikit keraguan untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Entahlah, nampaknya bantuan begitu banyak hadir untuk kami malam itu. Setelah sebentar mengambil nafas di warung, empat pendaki laki-laki mendekat. Katanya, mereka juga akan langsung menuju Pondok Saladah. Tak menunggu waktu lama, kami langsung berpamitan dengan warga yang ada di warung, dan mengikuti keempat pendaki tadi.

Agak heran, mereka berempat tidak membawa barang sebanyak kami. Matras hanya mereka tenteng di tangan. Itu pun hanya satu orang yang saya lihat membawa. Lainnya, hanya jaket tipis dan tas medium yang kempes.

Mungkin itu juga yang sedikit mempengaruhi perbedaan kecepatan jalan kami. Kami tertinggal cukup jauh. Senter kami semakin redup. Dan kami rasa kami salah ambil jalan.

Ada suara sungai di bawah sana. Dan akhirnya kami tahu itu lah jalur yang seharusnya kami lalui. Kami harus menyebrang sungai. Tidak deras. Batuannya memudahkan kami sebagai pijakan untuk menyebrang. Lawan kami hanya kegelapan saat itu. Empat pendaki di depan kami juga sudah tak terlihat.

Jalur itu pun kembali mempertemukan kami dengan jalan berbatu. Tidak nampak menanjak. Tapi pepohonan sudah semakin banyak di sini. Saya harus berebut oksigen dengan mereka karena ini malam hari. Kondisi ini membuat saya kembali sesak nafas. Saya harus kembali menghela nafas sejenak sembari memandangi teman saya yang saling berbagi madu.

Berjalan lagi, sambil membicarakan apa saja untuk melupakan apapun perasaan negatif yang kami rasakan saat itu. Rasa-rasanya pembicaraan saat itu sungguh konyol. Tapi tetap saja kami bisa tertawa. Ditambah langit yang juga semakin ramai dengan gemintang. Lengkap lah sudah.

Menyempatkan diri melihat jam di tangan, sudah pukul 22.00. Di depan sana ada hamparan rumput agak luas dengan beberapa tenda berdiri. Sempat kesenangan karena dikira sudah sampai, saya langsung sedikit kecewa. Ternyata itu baru pos kedua untuk registrasi.

Bapak penjaga sempat bertanya keadaan kami. Saya bilang, saya sempat sesak. Ia pun menawarkan oksigen tabung kecil untuk saya hisap. Jujur saja baru kali itu merasakan, dan cukup melegakan juga. Rasanya pandangan saya sedikit terang setelah akhirnya menapaki jalur pendakian kembali.

Jalur dari sini semakin lebat dengan cantigi. Agak sempit, kami pun harus berjalan dalam satu barisan. Ternyata tidak cukup jauh. Pukul 22.30, keramaian camping ground Podok Saladah sudah nampak. Wajar, saat itu malam minggu. Arena kemping penuh dengan puluhan tenda.

Lokasi di dapat, teman paling berpengalaman saya, Binti, langsung memimpin ritual pendirian tenda ini. Dua tenda ditambah dua flysheet pun rapi terpasang siap untuk menaungi kami hingga pagi menjelang.

Sebelum beramah tamah dengan sleeping bag, kami sempatkan diri dulu mengganti baju kami yang basah karena keringat juga mengisi perut. Menu kami malam itu memang serba instan, mie dan juga kopi. Tapi apapun, rasanya akan nikmat dimakan di tengah udara gunung seperti saat itu. Belum lagi ditambah suara binatang liar yang sesekali terdengar. Sungguh Damai.

Tak perlu tunggu waktu lama. Kami langsung melompat ke dalam sleeping bag. Khusus saya, tidak tahu lainnya, kostum tidur saat itu adalah jaket tebal, syal, kaus kaki, sarung tangan, dan tudung kepala. Meski begitu, tetap butuh waktu lama sampai saya bisa benar-benar terlelap. Di dekat tenda saya, nampaknya rombongan lain merasa tidak perlu tidur malam itu. Mereka terus bernyanyi dan tertawa dengan suara keras. Sesekali suara binatang dikejauhan masih juga terdengar. Tapi tidak ada suara magis serupa pandai besi yang katanya membentuk nama Papandayan. Mungkin suara itu sudah teredam ramainya pendaki yang terus memenuhi kawasan ini.

Semakin malam, jaket semakin rapat. Saya yang mudah kedinginan ini bahkan merasa harus melipat badan dan menyembunyikan tangan di antara paha seiring dengan subuh yang menjelang.

Matahari belum siap merajai langit ketika saya bangun keesokan harinya. Sedikit terkejut, terdengar suara adzan yang dikumandangkan oleh penghuni tenda lain. Saya merinding. Di tengah subuh yang sunyi, suara itu begitu agung.

Pagi itu, menu makan kami lebih berkualitas. Binti mengisi perut kami dengan roti bakar buatannya. Saya menambahnya dengan sup makroni ditambah kornet keju. Aroma kopi pun menyeruak di tengah hawa segar pagi hari pegunungan. Saya yang punya masalah dengan pernapasan ini, tidak pernah lupa untuk bernapas dalam-dalam. Ini saat paling tepat mencuci paru-paru, pikir saya.

Setelah sarapan, rencana kami pagi itu adalah melanjutkan pendakian menuju puncak. Memang sedikit terlambat dari jadwal yang kami inginkan. Apa boleh buat, antrian ke kamar mandi sungguh di luar dugaan. Kami harus menyediakan waktu satu jam untuk ini. 

Setelah semua beres, tenda pun sudah kami rubuhkan dan kembali rapi masuk ke dalam carrier, kami siap melanjutkan perjalanan. Melihat trek yang sungguh terjal, kami semua akhirnya memutuskan untuk menitipkan carrier kami ke pemilik warung di sana.

menuju puncak
Dengan membawa perbekalan yang kami anggap cukup, kami menuju Tegal Alun. Perkiraan kami tepat. Jalan menuju puncak sungguh curam. Kami sampai harus berpegangan pada akar pohon. Terlebih lagi, tanah lempung yang kami injak membuat jalan yang kami lalui sedikit licin.

Satu jam yang kami butuhkan untuk melalui vegetasi cantigi hingga sampai ke puncak bukit. Puncak di sini memang tak begitu jelas, terutama bagi yang belum pernah mendaki Papandayan. Kebanyakan pendaki hanya mencukupkan perjalannya hingga ke Tegal Alun. Jujur saja, saat itu kami agak bingung setelah itu harus kemana. Apalagi melihat saat itu sudah tengah hari. Teman Republika saya lainnya, Nia, saat itu terburu jadwal harus mengisi piket malam di kantor. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Pondok Saladah dengan jalur yang kami lalui saat naik tadi.

Hutan mati yang dramatis dari ketinggian ini
Trek menurun ternyata juga punya tantangan tersendiri. Curam dan licin, membuat kami harus ekstra hati-hati. Satu jam, sama seperti waktu yang kami butuhkan untuk naik, kami sampai lagi ke Pondok Saladah. Kami langsung menjemput bawaan kami yang dititipkan sebelumnya. Setelah merasa cukup beristirahat, kami pun segera melanjutkan perjalanan untuk turun ke pos pendakian awal.

Menengok ke belakang, Pondok Saladah memang sudah mulai kosong. Melihat pemandangan seperti itu ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyisip. Gunung mungkin selalu punya cara tersendiri untuk mengoleh-olehi pendakinya bekal kerinduan.

Di perjalanan turun, kami berselisih dengan beberapa rombongan pendaki yang sebelumnya ikut memenuhi Pondok Saladah. Saling sapa dengan senyuman, kami pun berjalan beriringan. Perjalanan turun ini cukup membuat saya terpaku. Apa yang kemarin disembunyikan oleh tirai malam adalah sebuah pemandangan yang tidak terkira. Rasanya perjalanan kali itu tidak begitu terasa melelahkan. Hawa sejuk dan pemandangan yang hijau biru dengan kelebat uap kawah di kejauhan membuat saya justru bersenandung di dalam hati.

Sampai di bawah saya hanya bisa bersyukur. Saya menyelami kembali perjalanan kami sebelumnya. Cuaca cerah dan bantuan yang selalu datang tepat waktu, benar-benar membuat saya tertegun. Pengalaman pertama memang tak akan pernah terlupa.