Friday, September 4, 2015

Ini Bukan Lagi Soal Logika, Ini Tentang Si Kecil Cosy


Saya hafal bentuknya di luar kepala. Tapi kenapa saya selalu kaget kalau hewan itu tiba-tiba tertangkap mata saya. Bukan cuma kaget, tapi lebay. Dan siang ini, dengan kondisi belum mandi, belum makan, belum mencuci, belum wudhu, belum solat, belum pipis, saya histeris di depan pintu kamar mandi dengan gagang sapu terangkat.

Intinya mata saya menangkap hewan yang jadi musuh terbesar saya. Tolong jangan paksa saya sebut nama hewan itu di sini. Buat saya itu sungguh pamali. Membayangkan ekornya, mengeliat-geliut ketika sedang merayap. Juga selalu ada perasaan kaki-kaki hewan itu tidak cukup kuat untuk berjalan di langit-langit dan tiba-tiba jatuh nemplok di kepala...HIAAAAA!! MATIKKK GUAAAA!!

Eng..Pasti sudah bisa tebak saya bicarakan apa. Ya, Cosymbotus platyurus. Jujur, pemakaian sebutan latin untuk hewan itu lebih aman untuk saya. Ada banyak nama latin untuk dia seingat saya. Saya tidak tau pasti mana yang tepat. Tapi intinya menyebutnya dengan nama lain membuat bentuknya tidak akan langsung terbayang. Beda kalau saya sebut dengan nama umumnya, C..... ya itu lah.

Sekarang mari panggil dia Cosy. Dek Cosy (dia masih kecil saat saya lihat hari ini), tadi siang tiba-tiba muncul di dekat kran kamar mandi kosan. Ini serupa dead end untuk saya. Kenapa? ya pertanyaan kenapa itu juga yang saya ajukan pada Dek Cosy. Kenapa kamu harus muncul di dekat
kran, di saat saya mau wudhu, di saat saya mau isi ember untuk mencuci, di saat saya juga mau pipis, dan di saat semua anak kosan lagi keluar. ARGH!

Tau? Bahkan saya rela menunggu Dek Cosy untuk menyingkir dari sana. Saya rela pada akhirnya tadi siang menahan hampir satu jam untuk pipis. Saya juga rela tidak wudhu (maaf ya Tuhan), dan menunda waktu sholat karena ada Dek Cosy di situ. Dan cucian saya... ah sudah lah... itu sudah pasti saya pending.

Tapi bukan berarti saya diam. Dek Cosy sudah saya usahakan untuk menyingkir dari posisinya saat itu. Saya pukul-pukul tembok kamar mandi, saya buat suara-suara mengusir, sampai saya ambil sapu untuk memukul tembok yang lebih dekat dengan Cosy. Dan apa? Dek Cosy tidak bergeming. Yang terjadi justru jauh lebih parah dan paling saya takutkan. Rambut sapu tidak sengaja menyenggol Dek Cosy, hingga ia jatuh. TEPLOK! ARRRGGh! Dan dia masuk ke ember. Dan saya tambah histeris. MAYGAAAAT!!! *drama abis.

Baik. Saat itu lah saya putuskan waktunya untuk gencatan senjata. Saya kembali masuk kamar. Saya biarkan Dek Cosy sendiri yang memutuskan untuk bergeliat-geliut keluar dari ember dan pindah posisi entah di mana.

Entah berapa lama, saya keluar kamar. Dan ya, dia pindah posisi. Saat itu ia masih bergelantungan di papan cucian dengan bentuk tubuh yang... ah.. sudahlah.

Saya tinggalkan kembali medan pertempuran. Kembali ke kamar. Beberapa lama, saya kembali lagi menengok si Cosy. YES!! dia menghilang.

Tunggu! ini bukan saat yang tepat untuk bergembira. saya harus tau keberadaannya di mana. Celingak-celinguk cari ekor mungil Cosy yang sama sekali NGGAK lucu, akhirnya saya temukan dia di dalam ceruk tempat menaruh sabun batangan. OKE! itu cukup. Saya anggap itu tempat yang aman untuk saya. Lekuk tubuhnya tersembunyi dengan baik di balik sikat kamar mandi yang memang sengaja diletakkan di sana.

Baiklah. Akhirnya dengan posisi terbaru dari Dek Cosy saya jadi pede masuk kamar mandi. Saya bisa cuci baju saya, pipis, wudhu, bahkan mandi. Tentunya dengan terus berdoa semoga Dek Cosy tidak melakukan manufer dadakan yang membuat saya kelabakan. Plus, dengan posisi badan saya menghadap tembok berlawanan dari posisi si Cosy berada.

Saya sudah bilang kan, kalau saya lebay? eits tunggu dulu. Jangan bicara pake logika di sini. Iya tau badan saya lebih gede dan saya jauh lebih berotak. Tapi siapa sih yang mau punya ketakutan kaya begini? nggak ada. Pasti. Tapi gimana ya, kisah permusuhan saya dengan Dek Cosy itu mungkin sudah seumur hidup saya.

Entah alasannya apa saya juga tidak tahu. Yang jelas, Dek Cosy itu seperti tahu kehadirannya selalu membuat saya tak nyaman. Anehnya, semakin kita takut sesuatu, dia justru akan semakin sering muncul di sekitar kita. Perasaan saya sih begitu. Tapi mungkin karena kita jadi semakin peka. 

Itu benar loh. Saya jadi hafal sifatnya. hahaha. Gini ya, Dek Cosy itu, kalau kita usir pasti akan selalu diam di tempat. Dia akan semakin keras kepala. Kenapa? mungkin di pikirannya, dengan diam dia tidak akan menarik perhatian manusia dan dia akan aman. Tapi justru yang begini bikin saya jadi makin menggila! Hah!

Tapi kalau boleh ngulik-ngulik sedikit, hewan ini nyatanya melegenda. Banyak cerita rakyat dan kisah di agama yang menceritakan hewan ini. Di awal kisah Angling Dharma misalnya, hewan ini jadi trouble maker yang membuat Angling Dharma berantem dengan sang istri, Setyawati, hingga sang istri memutuskan untuk membakar diri (coba cek sendiri aja ya ceritanya :P). Lalu di Islam, hewan ini juga katanya jadi trouble maker dengan meniup dan memperbesar api yang membakar Nabi Ibrahim. Nenek moyang cosy juga katanya yang bikin suara ketika Nabi Muhammad bersembunyi dari pengejar-pengejarnya. 

Intinya hewan ini sudah sejak lama jadi musuh banyak manusia. Tapi saya tahu kok Tuhan katanya menciptakan cosy untuk menyeimbangkan alam. Dia selama ini berjasa mengendalikan populasi nyamuk.

Tapi yang saya nggak paham, di rumah saya dan di sekeliling saya, hewan ini selalu terlihat sebagai penguasa rantai makanan. Jumlahnya terus bertambah tanpa ada predator yang jelas di habitatnya (baca: rumah manusia). Populasinya, berdasarkan pengamatan saya, hanya berkurang jika ada Cosy-Cosy bego yang kejepit di engsel pintu atau masuk ke AC atau nyemplung di air. AH GELI!!

Ah tapi pada akhirnya, saya harus mengakui kalau ketakutan ini harus diatasi atau hidup saya sungguh akan selamanya terganggu. Etapiiiiii.... kata para motivator itu, mengatasi rasa takut caranya adalah hanya dengan menghadapinya. GILAK apa mereka?!?!?!?

(gambar di atas nyomot dari sini)

Thursday, August 27, 2015

Sesat


Aku berjalan. Separuh meraba-raba dengan tangan ke depan.

Tiba-tiba ada yang meraih pundakku. Terkejut, aku pun reflek menengok ke arah datangnya lengan itu.

Tak begitu jelas rupanya. Seperti biasa perjalanan ini begitu gelap. Tak ada siang di dunia ini. Selamanya malam.

Maka kelam pun membungkus sosoknya. Seutuhnya. Hanya menyisakan lengan yang menjurus menggenggam bahuku.

Sejujurnya tak pernah aku tau pemandangan di belakang punggungku. Aku tak pernah mencoba membalikkan kepalaku ke belakang. Entah takut atau gengsi. Keduanya sulit dibedakan.

Sebenarnya, aku pun kini takut menengok ke arah tangan itu datang, melihat siapa gerangan yang meremat pundakku.

"Siapa kau?" tanyaku.

Ia hanya diam. Begitupun lengannya tak bergerak.

Lengan itu kekar. Seperti lengan lelaki. Tapi halus, tak berambut, berjari lentik layaknya lengan perempuan. Tunggu! Lengan itu berjari tujuh.

Benar-benar ada tujuh, ketika kembali ku hitung setelah menggosok kedua mataku. Dimulai dari ibu jari, telunjuk, satu jari entah apa namanya, jari tengah, satu jari aneh lainnya, kemudian jari manis, dan terakhir kelingking.

Kerongkonganku tiba-tiba terasa kering. Tercekat. Takut kembali bertanya siapa dan mau apa dia.

Aku kembali melihat sekeliling. Hampir tak ada pemandangan yang bisa ditangkap. Aku baru menyadarinya. Aku bahkan tak tahu ini di mana. Aku hanya mengikuti langkahku selama ini.

Beberapa waktu yang lalu, sesekali ada bisikan menyuruhku ini dan itu. Tapi ku lewatkan. Aku terus berjalan karena takut mendengar suara-suara itu. Aku berjalan makin cepat.

Kini tangan itu menggapaiku. Apa dia marah karena menjadi salah satu yang kuabaikan? Aku tidak tahu.

Aku takut. Semoga ia tak menampakkan sosoknya. Apa jadinya sosok yang memiliki tujuh jari dan lengan bak androgini?

Mulutku mengeras. Lidah kaku. Ada rasa di ujungnya seperti ingin memuntahkan sesuatu. Tapi langsung membeku, dihantam dinginnya keraguan.

Aku termangu. Berpikir. Harus bagaimana aku sekarang? Harus ke mana aku kini? Diam berdiri di sini kah?

Tangan ini begitu kuat mencengkram. Aku terus menerus membolak balikkan pandangan ke balik punggungku. Gelap gulita.

Ini di mana? Apa saja yang sudah ku lewatkan?

Monday, August 24, 2015

Pada Suatu Malam Ketika Perempuan-Perempuan Datang Silih Berganti dan Mengira Saya Depresi

Suatu hari seorang perempuan mendatangi saya. Ia mendekat, lalu bertanya.

"Apa yang kamu lakukan di sini seorang diri?"

"Menunggu." jawab saya.

Dan ia menghilang. Ia berputar bersama udara dan waktu. Di tangannya, ia menggenggam bahagia.

Suatu hari, seorang perempuan lainnya datang dan bertanya hal yang sama. Dan saya menjawab dengan jawaban yang juga sama.

"Apa yang kau tunggu?" Kali ini ia bertanya lebih banyak.

"Entah. Saya hanya harus menunggu."

Tidak ada tanggapan. Ia hanya diam memandangi saya tak sampai sejam lamanya.

Tak tahu harus berkata apa, kemudian ia pun juga menghilang bersama hari. Di tangannya, ia menggandeng keyakinan.

Beberapa hari kemudian datang lagi perempuan. Sama seperti sebelumnya ia mendekat dan bertanya. Kemilau yang terang muncul dari lingkaran jari manis tangan kirinya.

Lagi-lagi pertanyaan yang sama. Kali ini saya malas menjawab. Dia pasti tau jawabannya. Saya masih menunggu.

"Sampai kapan?" tanya dia.

"Sampai saya tahu kenapa saya masih menunggu." kata saya.

Saya hampir mendengarnya menghela napas. Saya juga bisa menangkap heran dan sesal di antara dengusan itu. Biarlah....

Dan saya pun membiarkannya berputar pergi bersama kala. Di tangannya ada kebanggaan.

Datang lagi perempuan-perempuan lainnya. Lucunya, mereka selalu datang (mengganggu) di kala malam membuai saya yang segera menyambut kantuk.

Pertanyaannya selalu sama. Lalu mereka berputar pergi di saat saya masih mau memeluk sepi. Mereka menghampiri, mengajak pergi. Tapi saya masih belum sudi.

Saya masih mencari untuk apa saya di sini. Menunggu meski tak pasti.

Tapi perempuan-perempuan itu terus datang silih berganti. Bertanya itu-itu lagi. Untuk mereka saya sudah terlalu lama menanti.

Perempuan-perempuan itu berputar berotasi bersama ibu Bumi. Mereka pikir mereka lebih beruntung karena tak merasakan detik berubah hari. Tapi apa mereka beruntung bisa lebih dulu pergi? Saya tak tahu pasti.

Saya lebih suka menanti. Karena kabarnya sabar tak bisa dibatasi. Juga, katanya, sabar pasti dibayar tinggi.

Sunday, August 23, 2015

Dufan, Sebuah Pabrik Kebahagiaan di Utara Jakarta



"Udah...Udah...Udah..!!!"

Kawan di sebelah kanan saya terus berteriak, ketika kursi yang kami duduki diputar balikkan di atas ketinggian 7 m di atas permukaan tanah. Sebentar-sebentar kepala kami di bawah, kemudian kembali tegak, lalu diluncurkan kembali ke tanah, lalu ke arah langit. Kaki-kaki kami seperti tak bertulang.

Diombang-ambing ke atas dan ke bawah. Kaus yang saya pakai sudah tak karuan. Punggung saya merasakan angin bebas, karena kaus saya terus terangkat mendekati leher. Ini menjawab keheranan saya ketika mendengar ada perempuan yang sampai mencari kerudungnya. Kerudung merah mudanya terlepas dari kepala saat ia ada di posisi seperti saya.

Ah tapi sumpah, saat di atas sana saya tak memikirkan itu. Siapapun yang pernah menaiki wahana Tornado di Dufan pasti tau rasanya.

"Udah..Udah...Udah...!!"

Teman di sebelah saya itu kembali berteriak ketika kepala kami terarah bebas menuju tanah. Tuhan... nyawa kami saat itu hanya bergantung pada pengaman di dua lengan dan sabuk di pinggang kami.

Teriak dan tertawa lepas itu pilihan saya untuk menghilangkan kengerian berada di atas sana. Tak tahulah saya jika ditanya berapa lama ada didalam jepitan "pengaman" itu. Goncangan itu terasa sangat sangaaaaat lama.

Hari itu masih pagi. Kami berempat, saya, Dian, Sonia, dan Dwi, sengaja berburu tiket paruh harga saat Dufan sedang bertitel "Girl's Month". Pukul 08.00 WIB kami sudah berangkat dari kos di Pajaten.

Sampai Dufan masih pukul 10.00 WIB kurang. Antre sudah mengular, tapi tidak begitu panjang. Tak sampai setengah jam kami sudah di dalam.

Ada yang namanya Rumah Miring dan Rumah Jahil. Dua rumah ini sama jahilnya, walaupun hanya satu yang dinamai jahil. Kalau di Rumah Miring, saya jadi susah berjalan, bahkan mengambil gambar karena kemiringannya.

Susah berjalan kalau tidak pegangan
"Itu tadi tipuan otak atau memang miring sih?" seru Dwi setengah tertawa saat keluar dari wahana itu.

Sementara di rumah satunya, jangan pernah berpikiran untuk berlari, atau berjalan cepat. Asal tahu saja, seperti namanya, cermin-cermin itu jahil dan suka menipu. Kepala saya hampir terantuk karena salah mengira cermin sebagai jalan keluar.

saya-nya jadi banyak. hihihi...
Dari sana, kami langsung mengarah ke wahana outdoor. Kami mencari wahana yang paling sedikit antriannya. Pagi hari itu, di saat orang kebanyakan memilih wahana lain untuk pemanasan, sebelum menjerit-jerit kesetanan, Dian menggeret kami menuju wahana Tornado.

Tornado
Wahana ini masih sepi. Tidak perlu mengantri. Kami hanya menunggu sampai mesin Tornadonya selesai merontokkan nyali pengunjung yang menaikinya lebih dulu.

Dwi yang terbiasa pakai rok panjang, ketika melihat bagaimana mesin itu bekerja langsung izin mengganti roknya dengan celana. Mukanya sudah pucat.

Teriakan sudah pecah dari saat kami memasuki lorong antrian ke wahana Tornado. Ah gila, Dufan memang gila. Di sini semua berteriak dan memang mau tak mau berteriak. Sambil menunggu saya jadi teringat film Monster Inc garapan Pixar. Dunia monster di film itu mendapatkan energi lewat teriakan anak kecil yang ditampung dalam tabung.

Dufan mungkin sama. Hanya bedanya, di film itu mereka menggunakannya sebagai energi pembangkit listrik, di Dufan teriakan pengunjung mereka proses kembali untuk memproduksi kebahagiaan. Tentu saja kebahagiaan untuk semua pengunjung. 

Coba saja lihat, setelah terguncang-guncang dan berteriak histeris, ketika mesin berhenti bergaung, mereka justru sumringah dan tertawa senang. Sudah lupa mereka tadi setakut apa.

Tidak cuma di wahana Tornado saja. Saya bisa berfantasi seperti melihat awan kapas berwarna-warni menggantung di atas kepala pengunjung yang semakin besar ketika mereka keluar dari satu wahana ke wahana yang lain. Mereka berteriak ketika diayun kencang dengan Kora-Kora, lalu histeris ketika dihempaskan cepat di atas ketinggian 60 m bersama Hysteria, dan tertawa lebar ketika mesin berhenti berayun.
Hysteria yang bikin histeris
Di Dufan, ketakutan bisa dirubah menjadi kebahagiaan. Pantas saja dinamai Dunia Fantasi. Akan sulit mencari muka muram di tempat itu. Betul, dengan diskon separuhnya, hari itu kami membayar Rp 135ribu untuk merasa bahagia. Dufan, Pabrik Kebahagiaan yang ada di kawasan Jakarta Utara itu memproduksi rasa bahagia serupa kapas berwarna warni bagi siapapun yang masuk ke gerbangnya.


 Sayangnya, awan-awan itu tidak bisa dibawa pulang. Saya merasakannya awan warna-warni di atas kepala saya kian menipis mendekati pukul 20.00 WIB. Itu saat Dufan harus mengakhiri jam operasinya. Saya masih mengatri untuk masuk ke wahana Ice Age saat itu.

"Habis ini kita harus kembali ke kenyataan," kata Dwi. Kami berempat pun menghela napas bersamaan. Hari Senin tiba-tiba terasa hanya tinggal beberapa menit lagi. 

Wednesday, July 29, 2015

Ketika Kesatuan dari Lampion, Ketupat, Takbir, dan Maaf Tak Lagi Menakutkan



Sorot lampu mobil dan gemerlap lampu jalanan tidak membuyarkan pesona iring-iringan lampion takbiran di sepanjang jalan Kota Jogja. Beberapa kendaraan sampai harus melambatkan lajunya untuk sengaja menonton pawai tahunan ini.

Syukur tidak ada yang berubah. Saya masih bisa menganga melihat anak-anak berbaju muslim dan beberapa pakai batik beriringan mengangkat lampion sambil menggemakan takbir. Lebaran di Jogja tetap semarak.

Tapi rasanya tetap berbeda untuk saya. Setelah tahun sebelumnya menghabiskan malam takbiran di Bandung, tahun ini aroma Lebaran tetap paling spesial. Saya juga baru tahu, tak mudah mendapatkan pemandangan semeriah ini di kota lain. Di Bandung, pawai takbiran keliling ini tak ada.

Tapi bukan cuma itu pastinya yang membuat saya merasa berbeda. Saya ingat dulu, Lebaran selalu membuat saya merasa seperti mendapat momen paling menegangkan. Saya seperti murid yang disuruh maju ke depan kelas untuk berpidato dalam Bahasa Jawa krama.

Dan memang itu yang terjadi. Setiap Lebaran, budaya keluarga saya mengharuskan untuk melakukan sembah sungkem kepada orang tua, kepada nenek, kakek, atau orang-orang di keluarga yang dituakan. Ini tidak pernah bisa saya lakukan dengan baik. Saya tidak pernah menjadi terbiasa dengan kebiasaan itu. Padahal itu sudah saya lakukan hampir setiap tahun, seumur hidup.

Rasanya aneh. Duduk berlutut di hadapan seseorang, dengan kepala menyentuh lututnya sambil mengucapkan kalimat maaf yang panjang. Satu orang yang meminta maaf bisa sampai menangis setelah mengucapkan entah apa yang terlihat sangat panjang dan lama. Itu masih ditonton banyak saudara lainnya yang menunggu giliran atau sudah selesai sungkeman.

Apalagi sayup-sayup saya mendengar mereka saling balas mengucap dengan Bahasa Jawa halus. Dan saya? mungkin saya orang paling singkat ketika minta maaf. Ditambah saya minta maaf pakai Bahasa Indonesia. Aduh! Ini momen paling menegangkan untuk saya sejak kecil. Hanya bilang maaf saja sudah sulit, apalagi dengan cara seperti itu dan ditonton banyak orang.

Tapi toh sekarang saya tidak peduli. Saya mungkin bisa memaknai momen ini sebagai hari yang paling emosional. Saya masih gugup ketika sungkeman, tentu saja, tapi saya juga gembira.

Di situ ada wajah-wajah yang sudah saya kenal seumur hidup saya. Ibu, Bapak, adik laki-laki saya, eyang putri, tante, pakde, bude, simbah kakung, juga sepupu-sepupu saya. Wajah-wajah itu sekarang tidak akan mudah saya jumpai setiap hari.

Lagi pula saya jadi paham. Dengan menunduk berarti kita merendahkan ego diri sendiri. Sikap tubuh ini menunjukkan kita telah merendahkan gengsi, mengakui kelemahan menjaga prilaku diri, dan memohon agar kesalahan itu dimaafkan.

Paling utama, momen seperti ini menjadi momen penuh syukur. Syukur saya masih bisa bertemu keluarga. Syukur saya punya rezeki untuk bisa pulang ke jogja. Syukur karena tahun ini saya punya waktu yang lebih panjang -sembilan hari!- di Jogja. Syukur opor ayam, sambel goreng krecek, ketupat, dll masih lengkap di meja makan saat Lebaran. Dan syukur saya tidak lagi memandang momen ini sebagai hari yang menakutkan. Saya tidak lagi malu untuk meminta maaf.


Monday, July 6, 2015

Pada Suatu Hari Ketika Pencurian Motor Membuat Saya Merasa Jadi (Manusia) Jahat

Lantai bawah kos saya sudah ramai ketika akhirnya saya bangun untuk sahur. Ibu kos sudah mulai teriak-teriak, entah meneriaki si bapak atau anaknya Ojan.

Di lantai atas, saya hanya sahur berdua. Kami sahur dalam diam, karena masih terbawa kantuk. Lantai bawah juga tiba-tiba sunyi. Suara ojan yang biasanya paling berisik juga sudah hilang, sepertinya sudah kembali teredam pintu kamarnya.

Belum mendekati waktu subuh, tiba-tiba saya dikagetkan suara motor negbut di depan rumah. Bunyi mesin menanjak di jalanan depan itu diikuti suara teriakan kalap dari laki-laki yang kemudian saya ketahui adalah penghuni kos-kosan tetangga.

Saya tahu apa itu. Tapi saya tidak mau komentar. Saya cuma melirik teman di depan saya, berharap ia tidak menyebut apa yang ada di pikiran saya.

Tapi rupanya keluarga pemilik kos di lantai bawah lebih dulu teriak setelah paham apa yang terjadi. Mereka ikut kalap ke luar rumah, meneriaki maling motor yang pasti sudah jauh.

Saya lemas. Hingga detik itu saya masih belum tahu motor siapa yang dibawa pergi si pencuri. Bahkan tangan saya gemetar. Saya takut. Saya takut kalau itu motor saya. Dalam hati saya terus berharap semoga itu motor orang lain saja yang dibawa kabur. Motor siapa saja terserah asal bukan motor saya.

Meski akhirnya lega setelah tahu itu motor tetangga, beberapa hari sejak kejadian itu saya masih takut. Takut kalau itu menimpa saya. Tapi bukan itu yang mau saya omongkan di sini. Lama-lama dipikir, saya justru terkejut pada kenyataan, bahwa saya nyatanya bisa menjadi jahat. Saya merasa sedikit menyesal dengan doa saya.

Harapan saya yang tercetus saat itu hanya berupa contoh bukti bahwa kita sebagai manusia yang katanya tinggi akal dan budinya masih sangat menempatkan insting dalam merespon suatu hal. Kita yang katanya makhluk sosial, pada kenyataannya jauh di dalam dirinya selalu berharap kebaikan bagi dirinya sendiri dan tidak peduli apa yang terjadi dengan orang lain. Dan saya yang antroposentris ini, di kala kepepet bisa menjadi liar. Entah dalam prilaku atau pun pikiran seperti yang saya lakukan. Sedikit menakutkan, heh?

Merembet ke kasus yang lebih luas, dan ini memang akan ke mana-mana, semua ujung-ujungnya soal ego. Tapi apa saya bisa dikatakan egois, kalau yang semacam ini kata Thomas Hobbes sudah menjadi sifat dasar manusia? Berdasarkan cetusan harapan yang saya lakukan saat ada kasus pencurian di depan kos saya itu, saya sedikit banyak setuju sama Kakek Hobbes.

Pikir lah, bahkan yang nampaknya seperti berkorban untuk orang lain, seperti memberi santunan kepada fakir miskin,  pun juga demi diri sendiri. Mungkin itu supaya hidup menjadi lebih tenang. Atau mungkin untuk mendapat pahala. Atau ada yang berharap supaya Tuhan melipat gandakan rejeki kita nantinya. Atau biar tidak menyesal kalau nanti uangnya hilang dan dituding karena kurang beramal.

Pengemis bahkan sudah pakai tagline ini loh biar masyarakat mau kasih mereka sedekah. Mereka dengan bangga menyebut diri dibutuhkan untuk beramal dan dapat pahala. Pernah dengar kan?

Jadi, istilah makhluk sosial itu sebenarnya asas dimanfaatkan atau memanfaatkan manusia lainnya. Apa pun akan dilakukan jika itu akan menguntungkan bagi kita.

Tapi kalau berangkat dari teorinya Hobbes tadi, artinya setiap kali manusia berbuat untuk kepentingan diri sendiri berarti kita sedang menyesuaikan diri dengan tuntuan alam. Berarti kalau begini saya sebenarnya jahat nggak ya? Toh saya dituntut oleh alam. Ah...

Sumpah deh, saya mungkin akan ditertawai Dalai Lama kalau pikiran saya masih terpengaruh Thomas Hobbes yang bahkan sudah meninggal pada abad ke-17. Mungkin Dalai Lama bakal bilang, Ris, gimana lo mau bahagia bawaan lo curigaan mulu sama orang. Ya, pada akhirnya saya mau bilang, buang jauh-jauh gunjingan saya tadi, buang, lupakan! Idup kita akan lebih santai, mudah, dan bebas kalau selalu lihat sisi positifnya kan? Dalam artian tidak diracuni pemikiran bahwa setiap orang pasti ada maunya dalam melakukan sesuatu. Iya kan? iya aja lah biar bahagia.

Lalu soal doa saya supaya motor orang lain saja yang dicuri dan bukan milik saya? Ah sudah lah... mungkin cuma saya yang suka berharap sesuatu yang jahat bagi orang lain. Tidak semua manusia seperti saya kan, bukan begitu Dalai Lama?

Sunday, July 5, 2015

Pulang



Dulu saya pernah sangat berharap setelah kuliah untuk tidak menetap di Jogja. Saya selalu merasa bingung harus apa karena bosan. Saya senang pada akhirnya dapat pekerjaan yang cukup jauh dari rumah dan membuat saya tidak diam di tempat. Tapi apa sekarang? saya bingung karena kesulitan untuk kembali pulang ke Jogja.

Saya ingat, saat itu masih Bulan Mei ketika tengah malam saya masih berusaha terjaga sambil duduk di sofa kos-an menghadap laptop. Tepatnya, saya dan dua teman saya. Ngapain? Nongkrongin saat-saat tiket kereta api untuk dua bulan kemudian dijual secara online.

Hasilnya? nihil. Saya gagal dapat tiket kereta.

Saya masih bisa tenang. Sebulan kemudian, berita tersebar tiket kereta tambahan sudah bisa diakses. Kembali kami bertiga tengah malam duduk berusaha terjaga di depan layar netbook yang bikin mata lebih pedas karena sambil menahan kantuk.

Hasilnya? nihil. Saya kembali gagal dapat tiket kereta.

Panik? mulai panik. Di sini satu pilihan transportasi andalan saya terpaksa saya coret.  Walaupun tak suka, masih ada harapan tiket pesawat, bus, atau travel.

Sebenarnya kalau pun saat itu saya dapat tiket, saya tidak yakin juga apa saya sudah beli untuk jadwal keberangkatan yang benar. Saya masih belum yakin kapan saya boleh pulang saat lebaran. Saya juga masih belum menentukan jadwal cuti, karena jadwal libur saja belum keluar.

Kepanikan saya terus bertambah seiring dengan naiknya harga tiket pesawat secara periodik. Setiap kali saya intip situs penjualan tiket, ada saja angka yang berubah. Yang berkurang hanya jumlah seat yang tersisa, pastinya. Dan jadwal libur saya tak kunjung keluar.

Sementara, Bapak saya makin ke sini makin sering tanya apa saya sudah dapat tiket mudik atau belum. Naik bus atau travel? saya tak mau ambil risiko macet dua hari di jalan. Maka, setelah jadwal keluar dan cuti saya ambil, bukan lagi soal uang yang saya pikir. Pada akhirnya naik apapun pokoknya saya harus pulang lebih lama lebaran ini.

Lucu kalau dipikir-pikir. Tuhan, karena saya percaya Dia ada, selalu punya cara untuk menegur saya kalau saya lupa bersyukur. Dulu sekali saya hampir tak suka dengan momen lebaran. Lebaran versi saya sebelumnya, ibarat euforia tanpa batas. Lupa diri. Pemborosan. Dan ini adalah momen di mana akhirnya kedok seorang agamawan yang kagetan terbongkar dengan sendirinya.

Lebaran itu tidak beda dengan Valentine. Kalau pada perayaan 14 Februari orang tiba-tiba jual murah kasih sayang. Di 1 Syawal orang jual murah kata maaf.

Untuk yang satu ini sangat sulit saya lakukan. Hingga pada akhirnya lebaran adalah momen yang paling saya takuti. Lebay? Nggak. Saya serius. Saya takut.

Bayangan saya adalah saya harus minta maaf ke banya korang. Entah kenal atau tidak. Entah saya ingat apa salah saya atau tidak. Sehingga, saya lebih sering berpikir, maaf untuk apa? Minta maaf untuk sesuatu yang kita tidak tahu, apa itu pantas disebut permintaan maaf?

Lebih menakutkan lagi ketika saya sadar salah saya tak bisa disebutkan saking banyaknya. Ini lebih untuk orang tua saya. Minta maaf ke mereka rasanya sangat berat, sehingga kadang yang keluar bukan dari mulut tapi dari ujung mata.

Sekarang saya dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya dulu saya harapkan. Saya punya alasan untuk tak datang saat lebaran. Tapi apa? sekarang saya kekeuh ingin pulang saat lebaran. 

Jadi ingat, tahun lalu saya hanya diberi jatah tiga hari dan Solat Ied sendirian di tengah Kota Bandung dan masih disambi liputan. Sekarang? saya mau merasakan lagi hari-hari menjelang lebaran sampai setelah lebaran di rumah. Di Jogja, dengan keluarga dan mungkin orang-orang yang bahkan tidak saya kenal. Siapa peduli? yang penting saya pulang.





#Sumber gambar dari sini