Wednesday, July 29, 2015

Ketika Kesatuan dari Lampion, Ketupat, Takbir, dan Maaf Tak Lagi Menakutkan



Sorot lampu mobil dan gemerlap lampu jalanan tidak membuyarkan pesona iring-iringan lampion takbiran di sepanjang jalan Kota Jogja. Beberapa kendaraan sampai harus melambatkan lajunya untuk sengaja menonton pawai tahunan ini.

Syukur tidak ada yang berubah. Saya masih bisa menganga melihat anak-anak berbaju muslim dan beberapa pakai batik beriringan mengangkat lampion sambil menggemakan takbir. Lebaran di Jogja tetap semarak.

Tapi rasanya tetap berbeda untuk saya. Setelah tahun sebelumnya menghabiskan malam takbiran di Bandung, tahun ini aroma Lebaran tetap paling spesial. Saya juga baru tahu, tak mudah mendapatkan pemandangan semeriah ini di kota lain. Di Bandung, pawai takbiran keliling ini tak ada.

Tapi bukan cuma itu pastinya yang membuat saya merasa berbeda. Saya ingat dulu, Lebaran selalu membuat saya merasa seperti mendapat momen paling menegangkan. Saya seperti murid yang disuruh maju ke depan kelas untuk berpidato dalam Bahasa Jawa krama.

Dan memang itu yang terjadi. Setiap Lebaran, budaya keluarga saya mengharuskan untuk melakukan sembah sungkem kepada orang tua, kepada nenek, kakek, atau orang-orang di keluarga yang dituakan. Ini tidak pernah bisa saya lakukan dengan baik. Saya tidak pernah menjadi terbiasa dengan kebiasaan itu. Padahal itu sudah saya lakukan hampir setiap tahun, seumur hidup.

Rasanya aneh. Duduk berlutut di hadapan seseorang, dengan kepala menyentuh lututnya sambil mengucapkan kalimat maaf yang panjang. Satu orang yang meminta maaf bisa sampai menangis setelah mengucapkan entah apa yang terlihat sangat panjang dan lama. Itu masih ditonton banyak saudara lainnya yang menunggu giliran atau sudah selesai sungkeman.

Apalagi sayup-sayup saya mendengar mereka saling balas mengucap dengan Bahasa Jawa halus. Dan saya? mungkin saya orang paling singkat ketika minta maaf. Ditambah saya minta maaf pakai Bahasa Indonesia. Aduh! Ini momen paling menegangkan untuk saya sejak kecil. Hanya bilang maaf saja sudah sulit, apalagi dengan cara seperti itu dan ditonton banyak orang.

Tapi toh sekarang saya tidak peduli. Saya mungkin bisa memaknai momen ini sebagai hari yang paling emosional. Saya masih gugup ketika sungkeman, tentu saja, tapi saya juga gembira.

Di situ ada wajah-wajah yang sudah saya kenal seumur hidup saya. Ibu, Bapak, adik laki-laki saya, eyang putri, tante, pakde, bude, simbah kakung, juga sepupu-sepupu saya. Wajah-wajah itu sekarang tidak akan mudah saya jumpai setiap hari.

Lagi pula saya jadi paham. Dengan menunduk berarti kita merendahkan ego diri sendiri. Sikap tubuh ini menunjukkan kita telah merendahkan gengsi, mengakui kelemahan menjaga prilaku diri, dan memohon agar kesalahan itu dimaafkan.

Paling utama, momen seperti ini menjadi momen penuh syukur. Syukur saya masih bisa bertemu keluarga. Syukur saya punya rezeki untuk bisa pulang ke jogja. Syukur karena tahun ini saya punya waktu yang lebih panjang -sembilan hari!- di Jogja. Syukur opor ayam, sambel goreng krecek, ketupat, dll masih lengkap di meja makan saat Lebaran. Dan syukur saya tidak lagi memandang momen ini sebagai hari yang menakutkan. Saya tidak lagi malu untuk meminta maaf.


Monday, July 6, 2015

Pada Suatu Hari Ketika Pencurian Motor Membuat Saya Merasa Jadi (Manusia) Jahat

Lantai bawah kos saya sudah ramai ketika akhirnya saya bangun untuk sahur. Ibu kos sudah mulai teriak-teriak, entah meneriaki si bapak atau anaknya Ojan.

Di lantai atas, saya hanya sahur berdua. Kami sahur dalam diam, karena masih terbawa kantuk. Lantai bawah juga tiba-tiba sunyi. Suara ojan yang biasanya paling berisik juga sudah hilang, sepertinya sudah kembali teredam pintu kamarnya.

Belum mendekati waktu subuh, tiba-tiba saya dikagetkan suara motor negbut di depan rumah. Bunyi mesin menanjak di jalanan depan itu diikuti suara teriakan kalap dari laki-laki yang kemudian saya ketahui adalah penghuni kos-kosan tetangga.

Saya tahu apa itu. Tapi saya tidak mau komentar. Saya cuma melirik teman di depan saya, berharap ia tidak menyebut apa yang ada di pikiran saya.

Tapi rupanya keluarga pemilik kos di lantai bawah lebih dulu teriak setelah paham apa yang terjadi. Mereka ikut kalap ke luar rumah, meneriaki maling motor yang pasti sudah jauh.

Saya lemas. Hingga detik itu saya masih belum tahu motor siapa yang dibawa pergi si pencuri. Bahkan tangan saya gemetar. Saya takut. Saya takut kalau itu motor saya. Dalam hati saya terus berharap semoga itu motor orang lain saja yang dibawa kabur. Motor siapa saja terserah asal bukan motor saya.

Meski akhirnya lega setelah tahu itu motor tetangga, beberapa hari sejak kejadian itu saya masih takut. Takut kalau itu menimpa saya. Tapi bukan itu yang mau saya omongkan di sini. Lama-lama dipikir, saya justru terkejut pada kenyataan, bahwa saya nyatanya bisa menjadi jahat. Saya merasa sedikit menyesal dengan doa saya.

Harapan saya yang tercetus saat itu hanya berupa contoh bukti bahwa kita sebagai manusia yang katanya tinggi akal dan budinya masih sangat menempatkan insting dalam merespon suatu hal. Kita yang katanya makhluk sosial, pada kenyataannya jauh di dalam dirinya selalu berharap kebaikan bagi dirinya sendiri dan tidak peduli apa yang terjadi dengan orang lain. Dan saya yang antroposentris ini, di kala kepepet bisa menjadi liar. Entah dalam prilaku atau pun pikiran seperti yang saya lakukan. Sedikit menakutkan, heh?

Merembet ke kasus yang lebih luas, dan ini memang akan ke mana-mana, semua ujung-ujungnya soal ego. Tapi apa saya bisa dikatakan egois, kalau yang semacam ini kata Thomas Hobbes sudah menjadi sifat dasar manusia? Berdasarkan cetusan harapan yang saya lakukan saat ada kasus pencurian di depan kos saya itu, saya sedikit banyak setuju sama Kakek Hobbes.

Pikir lah, bahkan yang nampaknya seperti berkorban untuk orang lain, seperti memberi santunan kepada fakir miskin,  pun juga demi diri sendiri. Mungkin itu supaya hidup menjadi lebih tenang. Atau mungkin untuk mendapat pahala. Atau ada yang berharap supaya Tuhan melipat gandakan rejeki kita nantinya. Atau biar tidak menyesal kalau nanti uangnya hilang dan dituding karena kurang beramal.

Pengemis bahkan sudah pakai tagline ini loh biar masyarakat mau kasih mereka sedekah. Mereka dengan bangga menyebut diri dibutuhkan untuk beramal dan dapat pahala. Pernah dengar kan?

Jadi, istilah makhluk sosial itu sebenarnya asas dimanfaatkan atau memanfaatkan manusia lainnya. Apa pun akan dilakukan jika itu akan menguntungkan bagi kita.

Tapi kalau berangkat dari teorinya Hobbes tadi, artinya setiap kali manusia berbuat untuk kepentingan diri sendiri berarti kita sedang menyesuaikan diri dengan tuntuan alam. Berarti kalau begini saya sebenarnya jahat nggak ya? Toh saya dituntut oleh alam. Ah...

Sumpah deh, saya mungkin akan ditertawai Dalai Lama kalau pikiran saya masih terpengaruh Thomas Hobbes yang bahkan sudah meninggal pada abad ke-17. Mungkin Dalai Lama bakal bilang, Ris, gimana lo mau bahagia bawaan lo curigaan mulu sama orang. Ya, pada akhirnya saya mau bilang, buang jauh-jauh gunjingan saya tadi, buang, lupakan! Idup kita akan lebih santai, mudah, dan bebas kalau selalu lihat sisi positifnya kan? Dalam artian tidak diracuni pemikiran bahwa setiap orang pasti ada maunya dalam melakukan sesuatu. Iya kan? iya aja lah biar bahagia.

Lalu soal doa saya supaya motor orang lain saja yang dicuri dan bukan milik saya? Ah sudah lah... mungkin cuma saya yang suka berharap sesuatu yang jahat bagi orang lain. Tidak semua manusia seperti saya kan, bukan begitu Dalai Lama?

Sunday, July 5, 2015

Pulang



Dulu saya pernah sangat berharap setelah kuliah untuk tidak menetap di Jogja. Saya selalu merasa bingung harus apa karena bosan. Saya senang pada akhirnya dapat pekerjaan yang cukup jauh dari rumah dan membuat saya tidak diam di tempat. Tapi apa sekarang? saya bingung karena kesulitan untuk kembali pulang ke Jogja.

Saya ingat, saat itu masih Bulan Mei ketika tengah malam saya masih berusaha terjaga sambil duduk di sofa kos-an menghadap laptop. Tepatnya, saya dan dua teman saya. Ngapain? Nongkrongin saat-saat tiket kereta api untuk dua bulan kemudian dijual secara online.

Hasilnya? nihil. Saya gagal dapat tiket kereta.

Saya masih bisa tenang. Sebulan kemudian, berita tersebar tiket kereta tambahan sudah bisa diakses. Kembali kami bertiga tengah malam duduk berusaha terjaga di depan layar netbook yang bikin mata lebih pedas karena sambil menahan kantuk.

Hasilnya? nihil. Saya kembali gagal dapat tiket kereta.

Panik? mulai panik. Di sini satu pilihan transportasi andalan saya terpaksa saya coret.  Walaupun tak suka, masih ada harapan tiket pesawat, bus, atau travel.

Sebenarnya kalau pun saat itu saya dapat tiket, saya tidak yakin juga apa saya sudah beli untuk jadwal keberangkatan yang benar. Saya masih belum yakin kapan saya boleh pulang saat lebaran. Saya juga masih belum menentukan jadwal cuti, karena jadwal libur saja belum keluar.

Kepanikan saya terus bertambah seiring dengan naiknya harga tiket pesawat secara periodik. Setiap kali saya intip situs penjualan tiket, ada saja angka yang berubah. Yang berkurang hanya jumlah seat yang tersisa, pastinya. Dan jadwal libur saya tak kunjung keluar.

Sementara, Bapak saya makin ke sini makin sering tanya apa saya sudah dapat tiket mudik atau belum. Naik bus atau travel? saya tak mau ambil risiko macet dua hari di jalan. Maka, setelah jadwal keluar dan cuti saya ambil, bukan lagi soal uang yang saya pikir. Pada akhirnya naik apapun pokoknya saya harus pulang lebih lama lebaran ini.

Lucu kalau dipikir-pikir. Tuhan, karena saya percaya Dia ada, selalu punya cara untuk menegur saya kalau saya lupa bersyukur. Dulu sekali saya hampir tak suka dengan momen lebaran. Lebaran versi saya sebelumnya, ibarat euforia tanpa batas. Lupa diri. Pemborosan. Dan ini adalah momen di mana akhirnya kedok seorang agamawan yang kagetan terbongkar dengan sendirinya.

Lebaran itu tidak beda dengan Valentine. Kalau pada perayaan 14 Februari orang tiba-tiba jual murah kasih sayang. Di 1 Syawal orang jual murah kata maaf.

Untuk yang satu ini sangat sulit saya lakukan. Hingga pada akhirnya lebaran adalah momen yang paling saya takuti. Lebay? Nggak. Saya serius. Saya takut.

Bayangan saya adalah saya harus minta maaf ke banya korang. Entah kenal atau tidak. Entah saya ingat apa salah saya atau tidak. Sehingga, saya lebih sering berpikir, maaf untuk apa? Minta maaf untuk sesuatu yang kita tidak tahu, apa itu pantas disebut permintaan maaf?

Lebih menakutkan lagi ketika saya sadar salah saya tak bisa disebutkan saking banyaknya. Ini lebih untuk orang tua saya. Minta maaf ke mereka rasanya sangat berat, sehingga kadang yang keluar bukan dari mulut tapi dari ujung mata.

Sekarang saya dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya dulu saya harapkan. Saya punya alasan untuk tak datang saat lebaran. Tapi apa? sekarang saya kekeuh ingin pulang saat lebaran. 

Jadi ingat, tahun lalu saya hanya diberi jatah tiga hari dan Solat Ied sendirian di tengah Kota Bandung dan masih disambi liputan. Sekarang? saya mau merasakan lagi hari-hari menjelang lebaran sampai setelah lebaran di rumah. Di Jogja, dengan keluarga dan mungkin orang-orang yang bahkan tidak saya kenal. Siapa peduli? yang penting saya pulang.





#Sumber gambar dari sini

Tuesday, May 26, 2015

Oleh-Oleh Kerinduan Dari Papandayan



Matahari sudah hilang sejak kami mulai meninggalkan Terminal Guntur yang ada di Kabupaten Garut. Waktu kami sampai di terminal, jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 16.30. Cukup sore sebenarnya untuk kami memulai pendakian nantinya. Khususnya bagi saya yang akan melakukannya untuk pertama kali.

Tadi siang, kami baru mulai berangkat dari Jakarta sekitar pukul 11.30 dengan Bus Primajasa jurusan Garut. Padahal dari Terminal guntur ini kami masih harus melalui perjalanan sekitar satu jam lagi atau bahkan lebih, untuk sampai ke titik awal pendakian Gunung Papandayan, salah satu gunung yang ada di Garut dengan ketinggian 2.665 Mdpl. Bukan cuma itu, dalam satu jam perjalanan ke titik awal pendakian, kami butuh satu kali lagi berpindah kendaraan.

Cukup nekat sebenarnya kami ini. Binti, rekan sesama Republika, adalah satu-satunya peserta yang sudah lebih akrab dengan pendakian, di antara kami berenam yang semuanya perempuan itu. Sementara untuk Papandayan, tidak satupun dari kami yang pernah mencoba mengakrabinya. Tapi tidak tahu kenapa, saat itu rasanya kami semua hanya merasakan antusiasme yang memuncak.

Setelah sampai di Cisurupan, kami pun berhasil melobi untuk sebuah mobil bak terbuka demi mencapai pos pendakian. Sudah malam, jadi kami tidak bisa melihat pemandangan kiri-kanan saat kami rasa kendaraan itu semakin menanjak. Kami hanya bisa memberi pujian untuk pemandangan di kejauhan yang memperlihatkan kelap kelip lampu kota. Dari situ kami tahu, kami sudah semakin menajuhi daratan.

Akhirnya mobil pun berhenti. Kami melompat turun dan segera meraba tempurung besar di punggung kami untuk mencari senter. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 20.00. Baru ingin melangkah, bapak-bapak di belakang kami langsung memperingkatkan untuk menunda pendakian hingga pagi. Tapi saat itu cuaca begitu cerah. Bintang di langit sudah mulai memperlihatkan diri satu, dua, tiga, belasan mungkin. Kami ingin mendaki saat itu juga.

Sejak awal kami memang berencana hanya akan melakukan pendakian ini separuh. Berenam, kami akan menanti pagi dengan mendirikan tenda di camping ground Pondok Saladah. Baru besoknya kami mencari puncak si Papandayan.

Keraguan kami akibat peringatan bapak-bapak tadi pun terpecahkan. Syukurlah, saat itu ada seorang bapak pemilik warung di atas kawah yang juga berniat melalui jalan yang sama dengan kami. Jadilah rombongan kami bertambah dua setengah peserta lagi. Setengah? Ada si kecil Hasan yang gesit berkelit di atas tanjakan batu sekaligus sebagai pimpinan rombongan. Bocah kelas dua SD itu luar biasa. Hanya dengan sendal jepit kakinya melangkah lincah sekali.

Saya pun menarik nafas. Berdoa semoga pendakian Gunung Papandayan kali ini berjalan baik.

Sebenarnya saya selalu punya alasan kenapa dari dulu menghindari diri untuk mencoba mendaki gunung. Menempuh kuliah di jurusan Arkeologi, hal semacam ini seharusnya tidak asing bagi saya. Hampir semua teman-teman saya adalah pecinta alam. Tapi kenyataannya, setiap ada yang mengajak saya selalu tahu diri.

Entah kenapa kali ini saya merasa harus ikut. Paling tidak selama hidup saya pernah merasakan sensasi ini. Dan memang, alasan saya pun terbukti. Saya sudah memperkirakan hal ini bakal terjadi. Saya sesak napas.

Udara malam yang tipis oksigen, ditambah dataran tinggi yang juga semakin menipiskan kebutuhan paru-paru saya, semakin membuat saya ingin mencukupkan perjalanan malam itu. Untunglah, saya sangat bersyukur teman-teman saat itu sangat pengertian. Mereka tidak terburu-buru sampai tujuan. Ketika saya bilang butuh istirahat dan menghela nafas, mereka pun tanpa protes langsung menghentikan langkah.

Sekeliling kami begitu gelap. Kami tak akan tahu penampakan kiri dan kanan kami, jika saja hidung ini tidak menangkap bau belerang yang semakin kuat. Cukup kuat sampai membuat beberapa teman terbatuk-batuk. Kami agak melambat di sini, jalan berbatu juga cukup membuat kaki cepat pegal. Satu-satunya pemandangan yang jelas bagi kami adalah kilauan lampu di kejauhan yang menyatu dengan gemintang beralas langit yang gelap. Cuma di sini, di ketinggian seperti ini, benderang kota tak bisa mengalahkan ciptaan Yang Kuasa. Segera saya membayangkan seperti apa langit di atas nanti. Pikiran ini pun seperti menjadi tenaga baru bagi saya dan kawan-kawan untuk meraih dataran yang lebih tinggi.

Jalan berbatu ini akhirnya tuntas dilewati setelah warung milik bapak pemandu dadakan kami tadi nampak di depan mata. Kedua bapak itu dan tentunya si kecil Hasan harus berpisah di sini. Ketidaktahuan kami soal jalur pendakian memunculkan sedikit keraguan untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Entahlah, nampaknya bantuan begitu banyak hadir untuk kami malam itu. Setelah sebentar mengambil nafas di warung, empat pendaki laki-laki mendekat. Katanya, mereka juga akan langsung menuju Pondok Saladah. Tak menunggu waktu lama, kami langsung berpamitan dengan warga yang ada di warung, dan mengikuti keempat pendaki tadi.

Agak heran, mereka berempat tidak membawa barang sebanyak kami. Matras hanya mereka tenteng di tangan. Itu pun hanya satu orang yang saya lihat membawa. Lainnya, hanya jaket tipis dan tas medium yang kempes.

Mungkin itu juga yang sedikit mempengaruhi perbedaan kecepatan jalan kami. Kami tertinggal cukup jauh. Senter kami semakin redup. Dan kami rasa kami salah ambil jalan.

Ada suara sungai di bawah sana. Dan akhirnya kami tahu itu lah jalur yang seharusnya kami lalui. Kami harus menyebrang sungai. Tidak deras. Batuannya memudahkan kami sebagai pijakan untuk menyebrang. Lawan kami hanya kegelapan saat itu. Empat pendaki di depan kami juga sudah tak terlihat.

Jalur itu pun kembali mempertemukan kami dengan jalan berbatu. Tidak nampak menanjak. Tapi pepohonan sudah semakin banyak di sini. Saya harus berebut oksigen dengan mereka karena ini malam hari. Kondisi ini membuat saya kembali sesak nafas. Saya harus kembali menghela nafas sejenak sembari memandangi teman saya yang saling berbagi madu.

Berjalan lagi, sambil membicarakan apa saja untuk melupakan apapun perasaan negatif yang kami rasakan saat itu. Rasa-rasanya pembicaraan saat itu sungguh konyol. Tapi tetap saja kami bisa tertawa. Ditambah langit yang juga semakin ramai dengan gemintang. Lengkap lah sudah.

Menyempatkan diri melihat jam di tangan, sudah pukul 22.00. Di depan sana ada hamparan rumput agak luas dengan beberapa tenda berdiri. Sempat kesenangan karena dikira sudah sampai, saya langsung sedikit kecewa. Ternyata itu baru pos kedua untuk registrasi.

Bapak penjaga sempat bertanya keadaan kami. Saya bilang, saya sempat sesak. Ia pun menawarkan oksigen tabung kecil untuk saya hisap. Jujur saja baru kali itu merasakan, dan cukup melegakan juga. Rasanya pandangan saya sedikit terang setelah akhirnya menapaki jalur pendakian kembali.

Jalur dari sini semakin lebat dengan cantigi. Agak sempit, kami pun harus berjalan dalam satu barisan. Ternyata tidak cukup jauh. Pukul 22.30, keramaian camping ground Podok Saladah sudah nampak. Wajar, saat itu malam minggu. Arena kemping penuh dengan puluhan tenda.

Lokasi di dapat, teman paling berpengalaman saya, Binti, langsung memimpin ritual pendirian tenda ini. Dua tenda ditambah dua flysheet pun rapi terpasang siap untuk menaungi kami hingga pagi menjelang.

Sebelum beramah tamah dengan sleeping bag, kami sempatkan diri dulu mengganti baju kami yang basah karena keringat juga mengisi perut. Menu kami malam itu memang serba instan, mie dan juga kopi. Tapi apapun, rasanya akan nikmat dimakan di tengah udara gunung seperti saat itu. Belum lagi ditambah suara binatang liar yang sesekali terdengar. Sungguh Damai.

Tak perlu tunggu waktu lama. Kami langsung melompat ke dalam sleeping bag. Khusus saya, tidak tahu lainnya, kostum tidur saat itu adalah jaket tebal, syal, kaus kaki, sarung tangan, dan tudung kepala. Meski begitu, tetap butuh waktu lama sampai saya bisa benar-benar terlelap. Di dekat tenda saya, nampaknya rombongan lain merasa tidak perlu tidur malam itu. Mereka terus bernyanyi dan tertawa dengan suara keras. Sesekali suara binatang dikejauhan masih juga terdengar. Tapi tidak ada suara magis serupa pandai besi yang katanya membentuk nama Papandayan. Mungkin suara itu sudah teredam ramainya pendaki yang terus memenuhi kawasan ini.

Semakin malam, jaket semakin rapat. Saya yang mudah kedinginan ini bahkan merasa harus melipat badan dan menyembunyikan tangan di antara paha seiring dengan subuh yang menjelang.

Matahari belum siap merajai langit ketika saya bangun keesokan harinya. Sedikit terkejut, terdengar suara adzan yang dikumandangkan oleh penghuni tenda lain. Saya merinding. Di tengah subuh yang sunyi, suara itu begitu agung.

Pagi itu, menu makan kami lebih berkualitas. Binti mengisi perut kami dengan roti bakar buatannya. Saya menambahnya dengan sup makroni ditambah kornet keju. Aroma kopi pun menyeruak di tengah hawa segar pagi hari pegunungan. Saya yang punya masalah dengan pernapasan ini, tidak pernah lupa untuk bernapas dalam-dalam. Ini saat paling tepat mencuci paru-paru, pikir saya.

Setelah sarapan, rencana kami pagi itu adalah melanjutkan pendakian menuju puncak. Memang sedikit terlambat dari jadwal yang kami inginkan. Apa boleh buat, antrian ke kamar mandi sungguh di luar dugaan. Kami harus menyediakan waktu satu jam untuk ini. 

Setelah semua beres, tenda pun sudah kami rubuhkan dan kembali rapi masuk ke dalam carrier, kami siap melanjutkan perjalanan. Melihat trek yang sungguh terjal, kami semua akhirnya memutuskan untuk menitipkan carrier kami ke pemilik warung di sana.

menuju puncak
Dengan membawa perbekalan yang kami anggap cukup, kami menuju Tegal Alun. Perkiraan kami tepat. Jalan menuju puncak sungguh curam. Kami sampai harus berpegangan pada akar pohon. Terlebih lagi, tanah lempung yang kami injak membuat jalan yang kami lalui sedikit licin.

Satu jam yang kami butuhkan untuk melalui vegetasi cantigi hingga sampai ke puncak bukit. Puncak di sini memang tak begitu jelas, terutama bagi yang belum pernah mendaki Papandayan. Kebanyakan pendaki hanya mencukupkan perjalannya hingga ke Tegal Alun. Jujur saja, saat itu kami agak bingung setelah itu harus kemana. Apalagi melihat saat itu sudah tengah hari. Teman Republika saya lainnya, Nia, saat itu terburu jadwal harus mengisi piket malam di kantor. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Pondok Saladah dengan jalur yang kami lalui saat naik tadi.

Hutan mati yang dramatis dari ketinggian ini
Trek menurun ternyata juga punya tantangan tersendiri. Curam dan licin, membuat kami harus ekstra hati-hati. Satu jam, sama seperti waktu yang kami butuhkan untuk naik, kami sampai lagi ke Pondok Saladah. Kami langsung menjemput bawaan kami yang dititipkan sebelumnya. Setelah merasa cukup beristirahat, kami pun segera melanjutkan perjalanan untuk turun ke pos pendakian awal.

Menengok ke belakang, Pondok Saladah memang sudah mulai kosong. Melihat pemandangan seperti itu ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyisip. Gunung mungkin selalu punya cara tersendiri untuk mengoleh-olehi pendakinya bekal kerinduan.

Di perjalanan turun, kami berselisih dengan beberapa rombongan pendaki yang sebelumnya ikut memenuhi Pondok Saladah. Saling sapa dengan senyuman, kami pun berjalan beriringan. Perjalanan turun ini cukup membuat saya terpaku. Apa yang kemarin disembunyikan oleh tirai malam adalah sebuah pemandangan yang tidak terkira. Rasanya perjalanan kali itu tidak begitu terasa melelahkan. Hawa sejuk dan pemandangan yang hijau biru dengan kelebat uap kawah di kejauhan membuat saya justru bersenandung di dalam hati.

Sampai di bawah saya hanya bisa bersyukur. Saya menyelami kembali perjalanan kami sebelumnya. Cuaca cerah dan bantuan yang selalu datang tepat waktu, benar-benar membuat saya tertegun. Pengalaman pertama memang tak akan pernah terlupa.

Monday, May 18, 2015

Gerrard Si Pemberani




Steven Gerrard, dalam 17 tahun berkarier di sepakbola hanya bermain untuk satu klub, Liverpool. Setelah pertandingan kandang terakhirnya untuk klub melawan Crystal Palace (16/5) ia pun mengucapkan selamat tinggal.

Gegap gempita sambutan penonton mengantar pemain berusia 34 tahun itu pada penampilannya yang ke-709 bagi The Reds. Spanduk penghormatan pun dibentangkan di tribun penonton oleh para pendukung. Para pemain Liverpool mengenakan jersey bernomor 8 dengan nama Gerrard sebagai ucapan perpisahan.

Sang kapten memang mengakhiri kariernya di Anfield dalam suasana emosional. Melihat ke belakang pada 17 tahun bersama Liverpool, ia mengaku bangga. Gerrard berjanji tak akan pernah melupakan peristiwa kali ini.

"Suatu pelepasan yang sulit dipercaya," ungkapnya kepada BBC Sport.

Baru-baru ini saya dihadapkan pada kategori yang sama dengan apa yang dihadapi Steven Gerrard. Saya, relasi, dan perpisahan. Tiga kata kunci yang kombinasinya paling tidak saya sukai.

Lagi-lagi soal perpisahan. Kata itu selalu mengundang segala perasaan negatif. Perasaan yang akan ada jika ada lebih dari satu yang saling terhubung, yang kemudian mereka saling tercerai karena suatu hal.

Gerrard punya 17 tahun untuk membangun relasi. Ia hanya butuh 90 menit waktu pertandingan di Anfield untuk merasakan beratnya berpisah. Tidak sampai dua jam ia merasakan saat terakhir dirinya tak lagi menjadi bagian dari Stadion di Liverpool itu.

Bagaimana rasanya?

Yang jelas Gerrard adalah orang paling berani yang pernah saya tahu. Maka kepergiannya pun dihormati dengan gempita yang hebat. Di saat semua rekannya sibuk menandatangani kesepakatan kontrak dengan klub ini itu, dia menyatakan diri ingin terus bermain bagi Liverpool.

Saya tak seberani itu. Kini sudah setahun saya di tempat kerja ini. Saya belum merasa takut karena saya berusaha untuk tidak punya keterikatan apapun. Maksud saya di dalam hati. Di media ini, saya hanya mencari makan dan berlatih menulis. Titik.

Tapi di sini, di kos ini, saya baru delapan bulan. Mungkin. Saya tidak yakin, yang jelas baru hitungan bulan. Dan saya sudah merasa ketakutan. Saya sudah jauh terhanyut.

Ada yang menganggap saya bukan lagi hanya seorang teman. Katanya saya sudah seperti keluarga. Delapan bulan, dan sudah menganggap saya sejauh itu. Jika dibandingkan Gerrard yang sudah 17 tahun dan hanya butuh 90 menit untuk menyatakan selamat tinggal, berapa detik yang saya butuhkan?

Oke mungkin itu agak berlebihan. Tapi relasi itu bagi saya ibarat menarik ke arah yang berlawan sehelai rambut yang sudah terbelah dua sebelumnya. Begitu tipis, begitu rapuh, begitu mudah di patahkan.

Jadi, tidak mempunyai hubungan akan sangat aman, tapi tentunya itu tidak mungkin. Maka menjaga hubungan agar tetap "biasa" itu lah yang saya cari. Dan kelakukan saya kalau sudah begini adalah: menarik diri.

Biasanya saya akan mundur sebentar. Mengurai ikatan yang menurut saya sudah terlampau kuat. Mengendurkannya kembali untuk menjadikannya lebih mudah ditata.

Bilang lah saya pengecut. Tapi coba pikir kembali, semua makhluk hidup punya pertahanan diri terhadap predatornya masing-masing. Dan ini lah cara saya. Saya suka perasaan bebas tanpa tanggungan apa pun.

Saat ini tanda-tanda itu mulai terlihat. Di saat perilaku teman-teman saya mempengaruhi perasaan saya, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu di mana makin banyak yang bercerita soal relasinya masing-masing dengan kenalan masing-masing,  maka sudah waktunya saya mengulur tali ralasi ini. Menjadi natural dan tak terlalu berbelit...

Hhhhmmmmm......

Baiklah.... Baiklahhh...Ini gunanya menulis kan? Ibarat meditasi. Introspeksi lalu mengikhlaskan emosi.

Setelah paragraf terakhir tadi selesai ditulis agaknya saya akan menyesal jika itu saya lakukan. Itu dulu saya lakukan. Sekarang saya harus menekankan diri untuk tidak begitu lagi.  Saya akan berani seperti Gerrard. Hahahahah..... ^_^



#Sedikit modifikasi dari paragraf awal yang juga saya tulis berita di Republika
*
Dapat gambar dari sini

Wednesday, May 13, 2015

Sisa Sihir Kota Banten Lama (Bagian II): Pusat Semesta Banten Lama

Banten atau yang dulu dikenal dengan Bantam. Daerah ini sempat menjadi kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Sampai kemudian pada abad ke-16, wilayah ini berada di bawah kekuasan Kerajaan Islam Demak dan akhirnya menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banten yang berdiri sendiri. Putra Syarif Hidayatullah, Sultan Hasanudin, adalah penguasa pertamanya.

Pagi itu saya terbangun oleh suara mengaji yang diperkeras dengan speaker. Biasanya saya tidak terlalu terganggu dengan suara yang sering kali terdengar menjelang adzan subuh itu. Tapi kali ini suaranya terdengar begitu keras, yang membuat sadar kalau saya saat itu berada di sebuah masjid.

Malam sebelumnya setelah dua jam menempuh perjalanan dari Rangkasbitung, saya dan dua teman dari Jakarta tiba di Masjid Agung Banten, Desa Banten Lama. Bersama temannya teman saya dan dua teman laki-laki lainnya yang mengantar kami dari Stasiun Rangkasbitung, kami memutuskan untuk ikut menjadi penghuni satu malam di serambi masjid kuno itu.

Ketika kami datang, serambi masjid hanya ditiduri sedikit peziarah. Kata Raha, temannya teman saya, Masjid Agung Banten akan sangat ramai pada malam Jumat. Beruntung lah kami. Kalau ramai kami akan harus terima tidur di bawah menara masjid yang bentuknya mirip mercusuar itu.

Menara Masjid Agung Banten yang sangat mudah diingat
Berputar-putar mencari toilet untuk membersihkan diri, saya jadi sempat untuk merasa prihatin. Sebagai salah satu masjid tertua di Nusantara yang juga menjadi salah satu tujuan utama peziarah, masjid ini cukup menyedihkan. Berstatus Cagar Budaya dan primadona wisata ziarah rupanya tidak  menjamin tempat ibadah yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin (abad ke-16) itu terpelihara dengan baik. Jangan bandingkan masjid ini dengan Masjid Agung Demak yang sampai toiletnya pun bisa dibilang cukup bersih. Di sini, sampah bahkan bisa mampir dengan mudah ke serambinya. Tidak cuma sampah, bahkan peziarah pun "diizinkan" untuk memakai sandal mereka di atas tulisan "batas suci" (bahkan di serambi!).

Di antara kami bertiga, tidur saya yang paling batu. Saya hanya bangun satu kali dan memang karena sudah waktunya bangun. Saat itu hampir waktu subuh. Saya tahu, saya harus cepat bangun kalau tidak ingin bersaing dengan peziarah yang rupanya jumlahnya bertambah ketika kami tertidur.

Benar saja, yang tadinya saya ingin sekalian mandi, jadi malas karena melihat antrian di toilet persis seperti antrian tiket kereta ke Serang kemarin (baca postingan saya sebelumnya ^_^). Apalagi toilet jorok, bau pesing, tempat sampah tergenang air, sampah tissue tersebar di sekitar lubang toilet, menambah rasa sebal saya pada pengguna masjid itu. Akhirnya saya cuma wudhu dan baru mandi setelah merasa keramaian di toilet bisa ditolerir.

Kira-kira pukul 06.30 WIB kami sudah siap untuk berjelajah. Persis seperti yang saya bayangkan ketika kuliah dulu (kecuali sampah dan kelakuan pengunjungnya), masjid ini unik. Sebagai ikon Banten, masjid ini pas mencerminkan keragaman budaya yang berbaur pada abad pembangunannya.

Tanpa ingin ikut berdebat soal siapa arsitek Masjid Agung Banten, dari manapun mata memandang tiga gaya memang menjadi satu di sini. Arsitektur masjid Nusantara tercermin pada atap tumpang masjid itu, dengan serambi, pawestren, kolam untuk bersuci, juga parit keliling. Arsitektur Cina, tampak pada bentuk serupa pagoda pada atap masjid yang bertingkat lima. Kemudian gaya Eropa terlihat dari menara yang kokoh seperti mercusuar dan juga pada tambahan bangunan bertingkat dua yang disebut Tiyamah.

Dari kompleks masjid ini, sebenarnya tidak jauh terdapat Keraton Surosowan. Mungkin kalau dilihat dari atas, susunan Masjid, Keraton, dan alun-alun yang juga ada di dekat sana akan terlihat persis seperti susunan yang ada di kawasan alun-alun utara Yogyakarata. Dalam penataan itu, alun-alun berada di tengah, masjid di barat, Pasar Karangantu di timur, dan keraton di selatan yang sekaligus merupakan struktur pusat Kota Banten Lama yang berada di daerah Teluk Banten itu.

Alun-Alun Kota Banten Lama
Sayangnya, saat ini Keraton Surosowan hanya berupa sisa-sisa dari kehancurannya. Pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, keraton ini pernah jatuh dua kali. Seperti yang diceritakan oleh R. Cecep Eka Permana dalam majalah Makara Vol. 8, No. 3 tahun 2004, pada masa pemerintahan Sultan Haji keraton ini dibangun kembali di atas puing-puing keraton Sultan Ageng Tirtayasa yang sudah rata dengan tanah. Kemudian pada tahun 1808 terjadi perselisihan antara Sultan Banten dengan Belanda yang bermuara pada penghancuran Keraton Surosowan di bawah pimpinan Daendels.

Papan Petunjuk yang ringkih
Entah karena memang masih pagi atau memang selalu seperti itu, Keraton Surosowan ketika itu begitu sepi. Objek ini mungkin tidak sepopuler Taman Sari di Jogja sana, karena terlihat yang sering datang justru para gembala ternak. Saya jadi harus berhati-hati agar tidak menginjak sisa-sisa pencernaan kambing atau sapi yang pasti kenyang karena rumput di sana begitu rimbun.

Kesan saya soal bangunan ini pun sayangnya hanya bisa sampai di situ. Datang terlalu pagi rupanya tidak begitu menguntungkan. Saya tidak bisa menjelajah masuk karena pintu masuk ke kawasan ini dirantai rapat. Keraton ini rupanya dikelilingi tembok setinggi kira-kira 2 meter, mirip sebuah benteng Belanda. Di keempat sudut tembok tebal tinggi itu selalu lengkap dengan bastion. Di sana tertulis, jika ingin masuk saya bisa menghubungi petugas museum. Sayangnya, ketika lewat museum tadi, saya belum menjumpai siapa pun yang bisa dimintai kunci. Yasudah lah, alhasil saya cuma bisa mengintip dari gerbang dan keliling untuk foto-foto bagian luar tembok.
Intip-intip bagian dalam

Gerbang Keraton
Rasa lapar pun akhirnya membuat kami harus meninggalkan bangunan sisa-sisa kejayaan Kesultanan Banten itu. Tidak mau rugi, karena tahu di sekitar situ masih banyak saksi bisu lainnya yang ingin kami paksa bicara, kami pun mencari makan yang mungkin searah dengan salah satunya. Pilihan kami adalah Benteng Speelwijk, Vihara Avalokitesvara, dan Keraton Kaibon.

Tanya sana sini, ternyata Benteng Speelwijk dan Vihara Avalokitesvara berdekatan, sementara Kraton Kaibon berada jauh dari lokasi kami. Kami akhirnya pilih ke benteng dan vihara saja dulu. Berdasarkan pernyataan warga di sana, kami harus berjalan kira-kira 3 km dari lKeraton Surosowan. Dekat lah, matahari belum begitu jumawa juga saat itu. Sambil melambai pada banyak tawaran angkot dan ojek, kami pun melanjutkan perjalanan pagi itu...

Bersambung...

Maaf Menyela, Karena Ini Mengganggu...

Langsung saja, saya benci perpisahan. Dan kebencian membuat saya memandangnya seperti musuh. Kepada musuh saya punya cara untuk melindungi diri. Saya menghindari relasi.

Saya ingat, ketika KKN dulu, dua teman paling menyebalkan yang pernah saya kenal menertawakan saya hanya karena saya tidak menangis. Saya adalah satu-satunya mahasiswa KKN perempuan yang tidak menangis ketika pamit dengan warga di desa tempat saya bertugas. Saya tidak bangga. Jujur saja. Saya merasa aneh. Dan semakin aneh ketika dua orang "brengsek" itu malah tertawa. 

Ketika semua orang berpelukan, dan menyeka pipi yang basah, saya hanya berdiri, sendiri di luar kerumunan dan merasa canggung. Apa saya sudah berlaku tidak sopan karena tidak menangis?

Dua teman itu terus tertawa dan meledek. Tapi begini lah saya. Dari awal datang ke sana saya mungkin menjadi satu-satunya orang yang tidak berusaha dekat dengan warga. Hanya kenal, tapi tidak dekat. Saya selalu membawa batas di depan tubuh saya ketika berkenalan dengan orang baru.

Dan hari ini, saya lagi-lagi diliputi perasaan canggung karena harus kembali berpisah. Ini bukan model perpisahan yang mendadak. Saya sudah tahu sejak sebulan belakangan. Teman saya akhirnya pindah. Tidak lagi satu kantor, tidak lagi satu kos, dan tidak lagi satu kamar.

Saya tidak pernah berusaha mengendalikan perasaan. Maka, ini lah saya. Tapi mungkin sebut saja saya teman paling lempeng yang pernah ada. Maaf soal ini. Semoga saja tidak. Tapi maaf. 


Saya tahu, saya pasti menyebalkan ketika teman saya itu cerita mau pindah kos besok, saya cuma bilang "oh, oke". Saya tahu, saya pasti nggak disukai karena saya malah cengengesan waktu dia nangis dan minta maaf pada kami jika dia punya salah selama ini. Saya tahu, pasti saya akan dibilang bukan teman yang perhatian karena saya hampir tidak pernah bertanya mau kemana dia setelah ini.

Jika ini terbaca, saya sih berharap kalau teman saya itu tidak berpikir bahwa dia satu-satunya orang yang saya perlakukan begitu. Saya sih berharap dia tidak punya pikiran aneh-aneh menyangka kalau saya benci dia. Saya hanya membenci relasi, saya benci terlalu terjerumus dalam relasi, karena relasi mengizinkan saya untuk merasakan perpisahan. Itu saja.